Wartawan Karyamu Kini

Disela sesaknya deadline

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Aspal’

Wisata Budaya Tradisonal Tiongkok Patut Ditiru

Posted by Jay pada November 7, 2010

Disela-sela Study Banding Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 ke China

RAMAH LINGKUNGAN : Berpose di pantai Bakau atau Coastal Ecological Park, Shenzhen, China.

RAMAH LINGKUNGAN : Berpose di pantai Bakau atau Coastal Ecological Park, Shenzhen, China.


SHENZHEN, CHINA, MINGGU 24 OKTOBER 2010. Pagi-pagi betul Pak Chen, Guide yang menuntun kami selama di Ghuangzho sudah siap di ruang makan hotel. Hari ini perjalanan dilanjutkan ke Shenzhen. Jarak Ghuangzo ke Shenzen hanya sekitar tiga jam perjalanan dengan bus. Kami bersyukur, Pak Chen yang pandai berbahasa jawa itu masih menemani kami selama di Shenzhen.
Menurut cerita pak Chen, Sehenzen hanyalah sebuah kabupaten kecil tempat hamparan sawah. Baru di tahun 1980-kota ini diotonomikan menjadi kota Khusus Industri dan ekonomi. Waktu 30 tahun ternyata sudah dapat membuktikan perkembangan kota Shenzhen yang benar-benar mencengangkan dunia Internasional. Hamparan sawah yang diceritakan Pak Chen kini sudah menjadi lautan gedung pencakar langit, dengan taman disisi kiri kanannya. Jalan raya dan jembatan layang, silang melintang diantara gedung tinggi.
Cepatnya pertumbuhan ekonomi dan industry di Shenzhen tak lepas dari kebijakan pemerintah Shenzhen yang memberikan peluang bagi investor untuk berinvestasi di negeri Tirai Bambu itu. Shenzhen dibagi dua wilayah. Wilayah industry dan wilayah umum. ‘’Bagi investor yang ingin melakukan investasinya di wilayah industry akan bebas pajak selama 5 tahun pertama. Sedangkan untuk wilayah umum, akan dibebaskan pajak selama 3 tahun pertama,’’kata Chen, guide yang menuntun rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres di Shenzhen.
Bahkan pemerintah, membebaskan pabrik-pabrik yang sengaja menduplikasi produk luar. Barang-barang palsu yang diduplikat dari merek-merek terkenal tersebut dijual bebas tanpa ada larangan atau razia. Bahkan pusat perdagangan barang-barang palsu itupun menjadi salah satu tempat tujuan wisatawan. Alat-alat elektronik dan pakaian bermerek bisa ditemui disini. Untuk satu produk asli yang biasa dijual Rp. 5 juta di kota ini bisa dibeli hanya seharga Rp. 300 ribu. Biasanya turis mancanegara selalu mengincar HP, jam tangan, kamera dan handycamp. Karena produk elektronik paling sulit untuk dikenali antara yang asli dan palsu. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui perbedaannya.
Meski pertumbuhan ekonomi dan industry melaju pesat dan cepat, pemerintah Sehenzhen juga tetap memperhatikan lingkungan hidup atau ekologi. Diantara pabrik dan gedung-gedung pencakar langit dibuat taman penghijau. Tidak itu saja, meski Shenzhen sudah berubah drastic, namun kebudayaan dan kesenian tradisonal Tiongkok tetap dipertahankan. Bahkan dijadikan objek wisata.
RAMAH LINGKUNGAN : Zainuddin, foto bersama guru Favorit Jambi Ekspres di pantai Bakau atau Coastal Ecological Park, Shenzhen, China.

RAMAH LINGKUNGAN : Zainuddin, foto bersama guru Favorit Jambi Ekspres di pantai Bakau atau Coastal Ecological Park, Shenzhen, China.

Oke, lanjut ke perjalanan menuju kota Shenzhen. Sebelum masuk ke kota Shenzhen, Provinsi Kuantong, RRC sekitar pukul 10.30 waktu China, kami singgah terlebih dahulu ke Pantai Bakau atau Coastal Ecological Park. Untuk sampai ke bibir pantai kami harus berjalan menyusuri taman yang asri. Setiba dipinggir pantai, menjorok ke bawah tanaman bakau yang baru setengah baya terlihat hijau. Sementara diseberang lautan sana masih terlihat gedung-gedung tinggi menjulang. Payung-payung tenda terdapat dibeberapa pojok melindungi tropong yang sengaja disiapkan oleh pengelola. Disini kami hanya setengah jam saja. Setelah puas berfoto kami langsung melanjutkan perjalanan.
SHOPING : Salah satu pusat giok di China. Borong habis.

SHOPING : Salah satu pusat giok di China. Borong habis.

Untuk membuktikan kota ini sebagai kota industry, kamipun diajak mengunjungi industry kerajinan giok. Semua peserta bersorak riang. Tak kecuali saya. Untuk masuk ke pabrik yang mirip dengan musium giouk ini kami diberi tanda Visitor yang ditempel dibahu. Ternyata tidak hanya giok yang disediakan disini. The leci yang konon katanya sangat berhasiat juga disediakan disini. Semua pengunjung bebas meminum teh lecih yang masih hangat tersebut. Menariknya lagi, dikawasan ini menerima uang rupiah. Waw, banyak sekali rombongan yang belanja. Saya, membeli dua kaleng teh leci sebagai oleh-oleh dan Satu set giok berlilitkan emas 18 karat (gelang, kalung dan mainannya serta cincing dua pasang) saya beli seharga 1100 Yuans, atau sama dengan Rp. 1.550.000,- untuk oleh-oleh istri. Satu set giok tersebut ku beli setelah melalui bujuk rayu Ibu Yuliana Dewi, yang jago melakukan tawar-menawar.
Setelah puas belanja, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke pusat industry sutra. Ternyata Shenzhen juga merupakan industry sutra terbesar di dunia. Untuk masuk kekawasan ini kami juga diberi tanda pengenal visitor. Karena harganya relative mahal, saya melewatkan sovenir menarik ditempat ini. Beberapa orang dalam rombongan kami ada yang membeli baju dan lain sebagainya.
Menjelang sore, rombongan kembali dianjak ke pusat perbelanjaan barang-barang aspal. Upsss, semua barang asli tapi palsu ada disini. Saya lupa nama kawasan pusat perbelanjaan lima lantai itu. Disini pak Chen hanya memberi waktu satu setengah jam untuk berbelanja. Karena, malamnya kami akan diajak nonton tiaterikal.
Karena pusat perbelanjaan ini sangat besar, seorang guru bernama Pretty sempat nyasar. Kami secara berpencar sudah berusaha menyusuri setiap sudut. Tapi tak kunjung ketemu. Satu jam lebih kami harus menunggu. Agar tidak mengganggu agenda yang sudah disusun, Mbak Nila, tour lider dari Global Tour meminta kepada pak Chen untuk melanjutkan perjalanan. ‘’Biar saya sendirian aja menunggu. Nanti saya menyusul dengan menggunakan kereta,’’kata Nilawaty – nama lengkap Mbak Nila.
Bukan hanya Mbak Nila yang merasa bertanggung jawab terhadap perjalanan kami ini. Bosku Sarkawi juga menawarkan diri untuk tetap tinggal, menunggu hingga Ibu Pretty ditemukan. Akhirnya sepakat yang tinggal menunggu empat orang, diantaranya Mbak Nila, Bos Sarkawi, seorang guru namanya Pak Jufri dan satu orang lagi aku lupa namanya. Namun saat kami akan melanjutkan perjalanan, tiba-tiba Ibu Pretty keluar dari ujung pintu arah kami melangkah. Alhamdulillah. Ibu Pretty, guru dari Muaro Jambi itu berpelukan dengan ibu guru lainnya. Kami pun akhirnya melanjutkan perjalanan dalam rombongan lengkap.
‘’Cepat-cepat, kita sudah molor satu jam lebih’’kata Pak Chen, dengan mengayunkan langkah kakinya dengan cepat. Untuk sampai ke bus, Kami harus menyeberangi tangga penyeberangan. Wajar saja Pak Chen khawatir, karena tiket untuk nonton pertunjukan sudah diboking lebih dulu.
Bus yang membawa kami menerobos jalan raya yang penuh dengan gemerlap lampu. Malam seperti tak ada bedanya dengan siang. Hanya kemerlap lampu yang membedakannya. Semua seolah tidak tidur. Kami akhirnya sampai ke lokasi pertunjukan. Namanya kalo ngak salah ; Splendid China Miniature Scenic Spot, Shenzhen, China.
Pertunjukan tiaterikal dan tarian kolosal yang disajikan benar-benar menakjubkan. Meski semuanya adalah pertunjukan kesenian tradisional Tiongkok yang sudah dimodifikasi dengan teknologi, namun rugi sekali rasanya jika tidak melihat. Benar-benar menakjubkan.
BUDAYA : Kesenian tradisonal Tiongkok dengan pasukan berkuda yang menjadi tontonan para turis lokal dan mancanegara di Splendid China Miniature Scenic Spot, Shenzhen, China.

BUDAYA : Kesenian tradisonal Tiongkok dengan pasukan berkuda yang menjadi tontonan para turis lokal dan mancanegara di Splendid China Miniature Scenic Spot, Shenzhen, China.

Kesenian dan tiater kolosal yang menceritakan sejarah dan kehidupan rakyat China dipertontonkan secara fantastis diatas panggung dan hamparan terbuka. Pasukan berkuda yang mengawal raja, pengembala kambing dan kerbau semua ikut melintasi panggung terbuka dengan pencahayaan berwarna-warni diiringi musik khas tradisinal Tiongkok.
Saya langsung berpikir tentang negeri saya Indonesia yang kaya akan kesenian daerah dan aneka ragam budaya. Jika dikelola dengan baik pastilah bisa mengalahkan pertunjukan di Shenzhen tersebut. Dan akhirnya dapan dijadikan objek wisata yang menjadi tontonan mahal bagi turis lokal dan mancanegara, seperti yang dilakukan di Shenzhen, China.Tapi entah kapan. Semoga saja pejabat di negeri ini segera sadar. Menurut saya ‘’Wisata Budaya Tradisonal Tiongkok ini Patut Ditiru’’. Setidaknya, untuk melestarikan kesenian dan budaya daerah nusantara, selain juga bisa menampung tenaga kerja dan menjadi devisa Negara.
Setelah pertunjukan usai, Pak Chen menawarkan untuk melihat miniatur tujuh keajaiban dunia dikawasan yang sama. Tapi peserta sudah kelelahan. Semua sepakat untuk istirahat makan dan pulang ke hotel.Apalah artinya kaya budaya jika tak bisa dinikmati oleh orang lain. KAYA baru berarti jika bisa membantu orang lain.(****)

Ditulis dalam Budaya, Cerita, Ekonomi, Hukum & Kriminal, Humor, Keluarga, Kerajinan, Kerja, Kesehatan, Kisah Nyata, Liputan, Musik, Pemerintahan, Pendidikan, Pengalaman Pribadi, Pengobatan, Politik, Religi, Seputar Kita, Tradisional, Travelling, Wartawan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.