Wartawan Karyamu Kini

Disela sesaknya deadline

Arsip untuk ‘Humor’ Kategori

Guru Favorit Jambi Ekspres Kembali Mengajar Dengan Wawasan Dunia

Posted by Jay pada November 10, 2010

Terima Kasih Semuanya…………

TERSENYUM  : Rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres tiba di Bandara dengan wajah tersenyum dan gembira.

TERSENYUM : Rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres tiba di Bandara dengan wajah tersenyum dan gembira.

JAKARTA, JAMBI, KAMIS 28 OKTOBER 2010. Genap sepuluh hari perjalanan kami sejak tanggal 19 Oktober terbang dari Jambi. Hari ini merupakan hari terakhir perjalanan kami setelah menjelajahi Negeri Tirai Bambu. Sudah banyak sekolah dan tempat wisata yang kami kunjungi, termasuk bersilaturrahmi dengan KBRI di Beijing dan Konjen RI di Hongkong. Kini kami sudah berada lagi di Jambi, setelah semalam sempat nginap di Hotel dekat bandara Sokarno Hatta, Jakarta. Para guru sudah siap untuk kembali mengajar di sekolah masing-masing, dengan segudang wawasan yang didapat selama di China.

DISKUSI : Gubernur Jambi H Hasan Basri Agus berdiskusi dengan CEO Jambi Ekspres Sarkawi dan Ketua Panitia Zainuddin usai acara pelepasan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 di rumah dinas Gubernur 17 Oktober 2010.

DISKUSI : Gubernur Jambi H Hasan Basri Agus berdiskusi dengan CEO Jambi Ekspres Sarkawi dan Ketua Panitia Zainuddin usai acara pelepasan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 di rumah dinas Gubernur 17 Oktober 2010.

AKRAB : Gubernur Jambi H Hasan Basri Agus bersama Ketua Pemilihan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 Zainuddin.

AKRAB : Gubernur Jambi H Hasan Basri Agus bersama Ketua Pemilihan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 Zainuddin.

SANTAI : CEO Jambi Ekspres Sarkawi bersama Ketua Panitia GF JE 2010 Zainuddin di Macau.

SANTAI : CEO Jambi Ekspres Sarkawi bersama Ketua Panitia GF JE 2010 Zainuddin di Macau.

Perjalanan yang menyenangkan di Beijing, Ghuangzho, Shenzhen, Macau dan Hongkong bersama Trans Global Tour, membuat lenyap letih selama setahun mengurus kepanitiaan Pemilihan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010. Namun apalah artinya kerja saya selama setahun jika tidak didukung  oleh semua pihak. Karena itu saya patut berterima kasih kepada : CEO Jambi Ekspres, Sarkawi, Gubernur Jambi H. Hasan Basri Agus, Bupati Bungo H Zulfikar Achmad, Bupati Tanjabtim H Abdullah Hich, Bupati Tebo  H Madjid Muaz, Bupati Batanghari Syahirsyah dan Bupati Merangin H Nalim, serta seluruh Bupati dan Walikota se-Provinsi Jambi lainnya.

SERIUS : Bupati Bungo H Zulfikar Achmad bersama Ketua Panitia GF JE 2010 Zainuddin, usai pelepasan guru Bungo yang terpilih sebagai Guru Favorit 2010.

SERIUS : Bupati Bungo H Zulfikar Achmad bersama Ketua Panitia GF JE 2010 Zainuddin, usai pelepasan guru Bungo yang terpilih sebagai Guru Favorit 2010.

AKRAB : Bupati Merangin Nalim bersama Zainuddin.

AKRAB : Bupati Merangin Nalim bersama Zainuddin.

Selain itu saya juga tidak bisa melupakan jasa baik dari travel ;  Trans Global Tour,  khususnya Mbak Nilawati, yang mensuport kegiatan study banding Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 ini ke Negeri Tirai Bambu (Beijing,Ghuangzho, Shenzhen, Macau dan Hongkong). Saya rekomendasikan kepada pembaca untuk menggunakan jasa Trans Global Tour sebagai jasa perjalanan. Saya dan 22 rombongan sudah merasakan bagaimana upaya Tour Leader Mbak Nilawati, dari Trans Global Tour, dalam memberi pelayanan dan kepuasan bagi kami semua. Bahkan Bosku Sarkawi sempat bilang begini ; ‘’Saya sudah kemana-mana. Ke China saja sudah empat kali. Tapi baru kali ini saya jalan keluar negeri disuguhi makanan di restoran Muslim. Travelnya oke,’’.
Peran Mbak Nila dalam acara puncak Pemilihan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 sangat besar dan membantu. Terima kasih Mbak Nila. Bahkan saya sendiri sempat kesal dengan seorang guru hanya karena dia marah dengan Mbak Nila. Sebagai ketua panitia, saya harus bersikap netral untuk menjernihkan persoalan.  Alhamdulillah guru yang tadinya marah dengan Mbak Nila bisa mengerti dan menerima kondisi yang terjadi.
Selain itu saya juga tidak bisa melupakan peran Mbak Nila dalam menggandeng pihak Garuda Indonesia. Dihari terakhir menjelang keberangkatan, Garuda Indonesia mau bergabung dan ikut mensuport kegiatan kami. Meskipun sebenarnya saya juga agak kesal dengan teman saya wartawan Independet yang sengaja dibawa untuk meliput, tapi tidak sebait katapun menulis tentang Guru Favorit Jambi Ekspres. Tulisannya yang muncul justru tentang Garuda melulu, tanpa menyinggung sedikitpun soal Study Banding Guru Favorit Jambi Ekspres selama di China. Yah sudah lah. Saya bersyukur kegiatan kami ini bermanfaat bagi orang banyak. Terima kasih Garuda Indonesia terima kasih Mbak Nila, mohon maaf Mbak Nila jika pada salah satu tulisan saya (dari puluhan tulisan selama kegiatan) sebelumnya sempat membuat Mbak marah. Tapi sebenarnya tulisan itu hanya menceritakan waktu saat itu saja, bukan sebelum atau sesudahnya.

RILEK : Zainuddin beserta Tour Leader Nilawati dari Trans Global Tour di Beijing.

RILEK : Zainuddin beserta Tour Leader Nilawati dari Trans Global Tour di Beijing.

Oh Yah, perjalanan Pemilihan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 selama setahun tak juga bisa berjalan lancar jika tanpa dukungan dari berbagai sponsor yang sejak awal mengiringi kegiatan kami. Diantaranya, JPM Trona, Tropi, Indosat, Petrochina, WKS, Koperasi Kreatif Bersama dan sejumlah  sponsor lainnya yang tidak bisa saya sebut satu-persatu. Terima kasih semuanya.
Suksesnya kegiatan Pemilihan  Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 juga tidak terlepas dari bantuan seluruh puluhan panitia dari Jambi Ekspres. Terima kasih teman-teman. Semoga jasa kalian semua dicatat oleh Allah sebagai amal ibadah. Jazakumullah Khairul Jaza. Saya tidak bisa memberikan apa-apa  bahkan oleh-olehpun hanyalah  barang murah yang bisa saya berikan. Dan mungkin ada diantara teman-teman yang tidak dapat atau terlupakan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Tugas saya dikepanitiaan Pemilihan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 tinggal satu. Yakni membuat laporan pertanggungjawaban. Apapun hasil dari laporan saya nanti akan saya terima. Sebab saya sadar banyak kekurangan selama setahun berjalannya kepanitiaan ini. Saya hanya berusaha bekerja semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik untuk guru-guru  Jambi dan perusahaan Jambi Ekspres.(****)

Ditulis dalam Budaya, Cerita, Ekonomi, Hukum & Kriminal, Humor, Keluarga, Kerajinan, Kerja, Kesehatan, Kisah Nyata, Liputan, Musik, Pemerintahan, Pendidikan, Pengalaman Pribadi, Pengobatan, Politik, Religi, Seputar Kita, Tradisional, Travelling, Wartawan | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Masyarakat Hong Kong Puji Batik Jambi

Posted by Jay pada November 9, 2010

Study Banding Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 di Hongkong, China

KOMPAK  : Rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 foto bersama di pinggir pantai Hongkong, menjelang berkunjung ke sekolah.

KOMPAK : Rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 foto bersama di pinggir pantai Hongkong, menjelang berkunjung ke sekolah.

HONG KONG, RABU 27 OKTOBER 2010. Sudah delapan hari kami menjelajahi daratan China. Dan hari ini merupakan hari terakhir perjalanan rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 di Negeri Tirai Bambu ini, sejak tanggal 19 Oktober terbang dari Jambi, bersama tour leader Nilawati, dari Global Tour. Kami sepakat hari ini menggunakan seragam batik Jambi.
Ajhou, Guide yang menuntun kami selama di Hong Kong menyebutkan bahwa rombongan ditunggu di sekolah pada pukul 12.00 waktu setempat.  Ajhou sempat memuji baju seragam yang kami kenakkan. Selain dasarnya halus, coraknya dan warnanya juga indah. Pujian ini juga disampaikan sejumlah warga Hong Kong lainnya, yang sempat berbincang-bincang dengan saya dengan bahasa Ingris belepotan.

MEJENG : Sebelum berkunjung ambil pose dulu di City  University of Hong Kong.

MEJENG : Sebelum berkunjung ambil pose dulu di City University of Hong Kong.

Menjelang waktu kunjungan ke sekolah, kami pergi ke pantai di tengah kota Hong Kong. Dari tepi pantai ini kami melihat kemegahan kota Hong Kong yang dikenal juga dengan kota perdagangan dan keuangan dunia ini. Disebut kota perdagangan, karena di Hong Kong terdapat pelabuhan dagang terbesar di Dunia. Disebut kota keuangan dunia, karena seluruh bank di dunia ada disini. Termasuk bank-bank milik Indonesia. Bank Mandiri, BNI dan  BRI terlihat diantara deretan bank-bank dunia lainnya.
Setelah puas berpose, kami melanjutkan perjalanan ke sekolah.  Hong Kong Baptist University atau Hongkong International University adalah tujuan kami. Sebelum tiba di universitas Internasional ini kami sempat singgah di City University of Hong Kong.
Di Hong Kong Baptist University, kami melakukan audiensi selama hampir dua jam. Dr. Anita Y.K.Poon, Associate Professor Departement of Education Hong Kong Baptist University, menjelaskan secara detail sejarah pendidikan di Hong Kong.

GURU SEKOLAH : Dr. Anita Y.K.Poon, Associate Professor Departement of Education Hong Kong Baptist University, menjelaskan secara detail sejarah pendidikan di Hong Kong kepada rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres.

GURU SEKOLAH : Dr. Anita Y.K.Poon, Associate Professor Departement of Education Hong Kong Baptist University, menjelaskan secara detail sejarah pendidikan di Hong Kong kepada rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres.

Menurut  Anita, kemajuan pendidikan di Hong Kong tak terlepas dari kepedulian pemerintahan, yang melakukan reformasi terhadap sistim pendidikan. Dulunya pada 1914-1970, kata Anita,   pendidikan di  Hong Kong hanya diperuntukan bagi anak para elit-elit kelas atas. ‘’Sejak tahun 1971 barulah diadakan program wajib sekolah 6 tahun. Dan dalam perkembangan pada tahun 1978 diadakan program wajib sekolah 9 tahun dan baru pada tahun 2008 dilakukan wajib sekolah 12 tahun,’’kata Dr. Anita Y.K.Poon saat memberi penjelasan kepada rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres yang datang langsung ke Hong Kong Universitas Internasional atau Hong Kong Baptist University, seraya mengaku selama proses reformasi pendidikan tersebut dilakukan terdapat banyak kendala. Seperti kepentingan politik dan kemampuan tenaga guru yang memadai.
Dampak reformasi pendidikan tersebut, kini menjadi nyata. Bahkan Hong Kong sudah menjadi salah satu tujuan belajar dunia, selain juga sebagai pusat perdagangan dan keuangan dunia. Diakhir perpisahan Anita dan sempat memuji seragam batik Jambi yang kami kenakkan. Menurutnya, kain dasar, corak dan warnanya bagus.
Setelah puas di sekolah ini kami langsung melanjutkan perjalanan. Namun saya teringat ucapan Pak  Hari Budiyarto, Kepala Kantor Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) di Hong Kong, yang kami kunjungi sehari sebelumnya. Menurutnya, Jambi merupakan pionir dan patut dicontoh untuk daerah lain. Yang lebih mengejutkan Budi, bahwa yang membawa guru-guru study banding ke Tiongkok tersebut adalah   Jambi Ekspres,  perusahaan media nomor satu di Jambi.
‘’Biasanya yang melakukan study banding adalah anggota dewan atau pejabat-pejabat. Tapi kali ini adalah guru yang langsung sebagai pelaksana lapangan. Dan Jambi merupakan pionir. Gebrakan yang bagus ini patut dicontoh, agar tujuan dari study banding tersebut benar-benar bermanfaat,’’kata   Hari Budiyarto, saat menerima rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres.
Untuk diketahui,  Hong Kong merupakan daerah administrasi khusus RRC dengan jumlah penduduk 6,99 juta jiwa.  Hong Kong SAR dikembalikan kepada RRC oleh Inggris tahun 1997. Luas Hong Kong 1,104 Km2, terletak di ujung tenggara Tiongkok. Hong Kong yang disebut dengan jendela dunia itu memiliki iklim sub tropis. Itu karena Hong Kong merupakan pusat perdagangan internasional dan keuangan. Kondisi ini bisa dilihat dari sejumlah bank-bank Indonesia yang terlihat berjejer diantara bank-bank internasional lainnya. Sebut saja diantaranya BNI, Mandiri, BRI dan lain sebagainya.
Tidak itu saja, sebuah pelabuhan internasional  juga terdapat di kota bekas jajahan Inggris ini.  ‘’Ini merupakan pelabuhan barang terbesar di dunia,’’kata Ajuo, guide yang menuntun rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres selama dua hari di Hong Kong.
Sebagai jendela dunia Hong Kong pun menjadi incaran para pencari kerja, termasuk warga Indonesia (WNI).  Menurut keterangan Hari Budiyarto, Kepala Kantor KJRI di Hong Kong, WNI di Hong Kong berjumlah 156.306 orang sebagian besar adalah TKI yakni sebanyak 140.558 orang. 90 persen TKI tersebut adalah wanita atau TKW.
Oke, lanjut ke cerita perjalanan kami, setelah dari sekolah kami sempat singgah ke sebuah tempat pengobatan tradisonal Tiongkok. Seperti dalam tulisan saya sebelumnya, pengobatan tradisional Tiongkok juga menjadi tempat wisata turis. Saya tidak tertarik untuk beli obat disini. Bukan tidak percaya dengan khasiatnya. Tapi yah karena harganya mahal dan tidak cukup dengan uang dikantong. Hahahahaha.
Disini kami hanya sekitar setengah jam saja. Dan kemudian langsung melanjutkan perjalanan menuju ke bandara Internasional Hongkong.  Karena waktunya sudah mepet, kami terpaksa makan siang di bandara.    Sekitar pukul  16.00 waktu Hongkong kami rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres, terbang dari Hong Kong menuju Jakarta dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA-863. Kami baru tiba di bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta sekitar pukul 20.00 WIB. Jarak waktu Indonesia dan China satu jam lebih cepat. Perjalanan empat jam setengah terasa singkat dengan kenyamanan dan pelayanan yang diberikan oleh awak pesawat Garuda Indonesia. Karena hari sudah malam, kamipun nginap di Hotel dekat bandara. Mengingat sebagian rombongan akan segera melanjutkan perjalanan ke Jambi pagi hari dan sebagian lagi akan melanjutkan perjalanan ke Jambi sore sore.(****)

Ditulis dalam Budaya, Cerita, Ekonomi, Hukum & Kriminal, Humor, Keluarga, Kerajinan, Kerja, Kesehatan, Kisah Nyata, Liputan, Musik, Pemerintahan, Pendidikan, Pengalaman Pribadi, Pengobatan, Politik, Religi, Seputar Kita, Tradisional, Travelling, Wartawan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | 1 Comment »

Pemerintah Subsidi Sekolah Swasta

Posted by Jay pada November 9, 2010

Kunjungan Guru Favorit Jambi Ekspres di Kota Macau & Hongkong, China

STUDY BANDING : Para Guru Favorit Jambi Ekspres melihat fasilitas sekolah di Macau.

STUDY BANDING : Para Guru Favorit Jambi Ekspres melihat fasilitas sekolah di Macau.

SALUT BUAT JE : Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 foto bersama dengan CEO Jambi Ekspres Sarkawi di depan Konjen RI di Hongkong.

SALUT BUAT JE : Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 foto bersama dengan CEO Jambi Ekspres Sarkawi di depan Konjen RI di Hongkong.

STUDY BANDING : Para Guru Favorit Jambi Ekspres melihat fasilitas sekolah di Macau.

STUDY BANDING : Para Guru Favorit Jambi Ekspres melihat fasilitas sekolah di Macau.

MACAU & HONGKONG,  CHINA SELASA 26 OKTOBER 2010. Mendengar kata Macau mungkin kita akan langsung terbayang dengan kota judi. Anggapan itu tidaklah salah. Karena di kota kecil yang merupakan daerah administrasi khusus RRC itu terdapat 38 tempat permainan judi atau casino kelas internasional. Meski begitu, pemerintah Macau tidak melupakan pendidikan disana. Terbukti, pemerintah memberikan perhatian besar terhadap dunia pendidikan. Tidak hanya sekolah Negara atau negeri tapi juga terhadap sekolah swasta.
Pagi ini kami sudah mengagendakan untuk berkunjung ke salah satu sekolahan ternama di Kota Macau. Salah satu sekolah yang dikunjungi oleh rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres adalah School of Nation. Direktur School of Nation langsung menyambut kedatangan kami dan memperlihatkan secara langsung satu-persatu proses belajar mengajar di sekolah swasta tersebut. School of Nation merupakan sekolah setarap TK hingga SMA. Gedung lima lantai itu dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk belajar dan praktik. Seperti labor kimia, fisika, labor music, labor lukis, labor bahasa, labor tari dan senam, serta sarana olahraga, seperti bola kaki, basket dan lain sebagainya. Setiap ruangan belajar, dilengkapi dengan infokus dan white board serta kamera CCTV  dan pendingin ruangan.
‘’Pemerintah bertanggung jawab terhadap pendidikan. Karena itu sekolah swastapun disubsidi. Subsidi yang diberikan pemerintah tidak hanya untuk pelajar, tapi juga untuk tunjangan guru dan infrastruktur sekolah,’’ kata Direktur School of Nation, sembari memperlihatkan fasilitas sekolah yang ia pimpin kepada rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres, yang bertandang ke  School of Nation Macau.

STUDY BANDING : Para Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 melihat fasilitas sekolah di Macau.

STUDY BANDING : Para Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 melihat fasilitas sekolah di Macau.

Menurutnya pendidikan di Macau diberikan secara gratis, termasuk untuk warga asing. Meski pelajar bisa mendapatkan pendidikan gratis namun kesejahteraan guru tetap diperhatikan.
‘’Gaji pokok guru minimal 4.000 Patacas atau sama dengan Rp. 4 juta. Itu belum termasuk tunjangan dan uang tambahan dari pemerintah, yang totalnya mencapai 25.000 uang Macau atau sama dengan Rp. 25 juta,’’  tandasnya, yang mengaku sistim pendidikan di School of Nation lebih didominasi oleh praktik dan bermain, terutama pada tingkat TK dan SD.
Jika sudah diketahui bakat siswa, barulah kemudian pada tingkat setarap SMP diberikan pendidikan kejuruan sesuai dengan bakat masing-masing pelajar.

STUDY BANDING : Para Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 melihat fasilitas sekolah di Macau.Ada labor kimia, komputer, bahasa, tari, senam dan fasilitas olahraga. Yg difoto ini adalah labao  melukis.

STUDY BANDING : Para Guru Favorit Jambi Ekspres melihat fasilitas sekolah di Macau.Ada labor kimia, komputer, bahasa, tari, senam dan fasilitas olahraga. Yg difoto ini adalah labao melukis.

‘’Bagi murid yang memiliki nilai tinggi pada mata pelajaran lukis maka akan dimasukkan pada jurusan lukis. Jika seorang murid memiliki nilai tinggi pada matapelajaran music akan dimasukkan pada jurusan musik. Jika murid memiliki nilai tinggi pada mata pelajaran olahraga basket misalnya akan dimasukkan pada jurusan  basket. Begitu juga untuk pelajaran matematika dan lain sebagainya,’’papar pemimpin School of Nation.
Kami benar-benar dibuat kagum dengan sistim dan pengelolaan sekolah tersebut. Bersih dan rapi. Terima kasih Global Tour. Kalau bukan karena travel yang dipimpin oleh Mbak Nila ini, kami rombongan dari guru Favorit Jambi Ekspres tidak bisa melihat sekolah bertaraf internasional tersebut.
Setelah puas melihat secara dekat proses belajar-mengajar di School of Nation, kami langsung melanjutkan perjalanan untuk Hongkong. Kota yang selama ini selalu muncul di film tersebut benar-benar aku impikan. Selain Hongkong, Negara yang ingin sekali aku kunjungi adalah Mesir dan Jepang. Sementara Arab Saudi yang paling aku rindukan Alhamdulillah sudah lebih awal aku ziarahi. Semoga kelak aku juga bisa melancong ke Mesir dan Jepang.
Oke, perjalanan dari Macau ke Hongkong menggunakan transfortasi air. Dengan menggunakan kapal fery kami melintasi laut yang begitu besar ombaknya. Saya dibuat pusing dan nyaris mabuk laut. Ternyata bukan saya saja yang mengalami hal itu. Bahkan sejumlah peserta sempat mengeluarkan isi perutnya, karena mabuk laut. M. Tahang, guru dari Nipah Panjang tertawa terpingkal-pingkal    melihat sejumlah rombongan yang mabuk laut.

BERGAYA : Wow foto di tepi pantai Hongkong.

BERGAYA : Wow foto di tepi pantai Hongkong.

Tiba di Hongkong kami disambut dengan Guid Pak Ajhou. Tak sulit bagi Pak Ajhou untuk menemui kami. Karena kami semua menggunakan seragam baju merah putih.
Setelah makan siang di restoran Muslim, kami langsung mengunjungi Konsulat Jendral Indonesia (Konjen) Republik Indonesia di Hongkong. Di Konjen kami disambut langsung oleh Hari Budiyarto, Kepala Kantor Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) di Hong Kong dan beberapa kepala bagiannya. Menurutnya, Jambi merupakan pionir dan patut dicontoh untuk daerah lain. Yang lebih mengejutkan Budi, bahwa yang membawa guru-guru study banding ke Tiongkok tersebut adalah   Jambi Ekspres,  perusahaan media nomor satu di Jambi.

SALUT BUAT JE : Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 audiensi dengan Konjen RI di Hongkong.

SALUT BUAT JE : Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 audiensi dengan Konjen RI di Hongkong.

‘’Biasanya yang melakukan study banding adalah anggota dewan atau pejabat-pejabat. Tapi kali ini adalah guru yang langsung sebagai pelaksana lapangan. Dan Jambi merupakan pionir. Gebrakan yang bagus ini patut dicontoh, agar tujuan dari study banding tersebut benar-benar bermanfaat,’’kata   Hari Budiyarto, saat menerima rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres, Selasa (26/10/2010), di kantor Konjen RI di Hong Kong. Ia pun memerintahkan salah seorang stafnya untuk mendampingi rombongan study banding ke sekolah di Hongkong.
Setelah puas melakukan audiensi di Konjen RI, kami langsung melanjutkan perjalanan, dengan berkeliling kota melihat suasana malam. Hongkong merupakan kota   perbukitan.  Karena itu Guide yang membimbing kami membawa kami ke atas untuk melihat kota Hongkong dari ketinggian.

SAYANG UNTUK DILEWATKAN : Melihat kota Hongkong malam hari dari ketinggian.

SAYANG UNTUK DILEWATKAN : Melihat kota Hongkong malam hari dari ketinggian.

Sebelum pulang istirahat ke hotel kami sempat singgah di pinggir laut yang indah sekali. Gedung-gedung tinggi berjejer diseberang laut. Meski gedung pencakar langit saling berebut mencari ketinggian, namun suasana asri tetap tergambar di lingkungan sekitarnya. Pepohonan dan bunga-bunga aneka warna menghiasi sekeliling gedung.
Begitu tiba di hotel, saya dan teman sekamar Robi dan Zulfahmi sepakat untuk tidak melewatkan malam di Hongkong. Setelah mandi, kami bergegas keluar dengan menyusuri kota. Kota yang selama   ini kami lihat di film sudah kami jelajahi. Karena kelelahan, Kami bertiga sepakat untuk pinjat disalah satu tempat urut. Wah bayarnya bisa menggunakan kredit card.  Untuk satu kali urut dibagian kaki saja dikenakan biaya 100 dolar Hongkong atau sama dengan 120 ribu rupiah. Harga yang mahal untuk ukuran kantongku. Tapi, yah pengalaman lebih mahal harganya dari uang 100 dolar. Kapan lagi pijat di Hongkong seperti ini.Hehehehe.(****)

Ditulis dalam Budaya, Cerita, Ekonomi, Hukum & Kriminal, Humor, Keluarga, Kerajinan, Kerja, Kesehatan, Kisah Nyata, Liputan, Musik, Pemerintahan, Pendidikan, Pengalaman Pribadi, Pengobatan, Politik, Religi, Seputar Kita, Tradisional, Travelling, Wartawan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Menelusuri Sudut Kota Macau

Posted by Jay pada November 9, 2010

WISATA RELIGI  : Gereja tua di kota Macau menjadi salah satu tujuan wisatawan yang berkunjung ke kota Macau.

WISATA RELIGI : Gereja tua di kota Macau menjadi salah satu tujuan wisatawan yang berkunjung ke kota Macau.


MACAU, CHINA SENIN 25 OKTOBER 2010. Senin pagi kami langsung meluncur ke Macau, setelah sehari semalam di kota Shenzhen. Shenzhen berada persis di perbatasan Macau. Meski sama-sama di RRC, tapi untuk masuk ke Macau harus melalui pemeriksaan imigrasi dan visa. Tidak itu saja, Macau juga memiliki mata uang sendiri. Uang Yuans yang digunakan di Beijing, Ghuangzho dan Shenzhen relative tidak berlaku. Justru uang dolar yang lebih dilihat oleh pedagang di Macau.
JUDI : Berpose didepan salah satu lokasi tempat permainan judi di Macau.

JUDI : Berpose didepan salah satu lokasi tempat permainan judi di Macau.

Macau disibut juga dengan kota judi. Yah, di kota kecil daerah administrasi khusus RRC itu terdapat 38 casino, atau tempat permainan judi kelas internasional. Karena itu begitu sampai saya langsung terpikir untuk melihat langsung bagaimana permainan judi di kota Macau yang tersohor tersebut.
Oke, lanjut kecerita awal. Setiba di Macau kami disambut oleh Silcilia, wanita berkacamata ini merupakan Guide kami selama di Macau. Silcilia juga pandai berbahasa Indonesia, tapi tidak sepasih Pak Chen dan Mr. Sule.
Waktu sudah menunjukan makan siang. Oleh Silcilia Kami langsung diboyong ke restoran Muslim. Meski rasanya masih asing dilidah namun saya tetap lahap menyantap menu yang dihidangkan. Bahkan selama perjalanan ini berat badanku naik satu kilo. Terima kasih Mbak Nila.
Setelah makan siang, kami langsung mengunjungi gereja tua yang pernah terbakar dan sudah berumur ribuan tahun. Ada semacam museum didalam gereja ini. Setelah puas berfoto, kami langsung melanjutkan untuk shoping sovenir. Saya tidak membeli apa-apa disini. Bukan karena tidak tertarik, tapi karena uang dikantong sudah menipis. Hahahaha.
MEGAH : Lorong menuju tempat permainan judi di salah satu gedung di Macau. Mewah tenan.

MEGAH : Lorong menuju tempat permainan judi di salah satu gedung di Macau. Mewah tenan.

MEGAH : Seolah dialam terbuka. Padahal ini didalam gedung salah satu tempat permainan judi di Macau.

MEGAH : Seolah dialam terbuka. Padahal ini didalam gedung salah satu tempat permainan judi di Macau.

Selepas shoping kami langsung melihat secara dekat kondisi salah satu casino. Gedung raksasa itu sangat megah sekali. Arsitekturnya kombinasi eropa dan timur tengah. Tugu kembang mekar berwarna kuning emas menghiasi ruang depan pintu masuk. Ada kotak-kotak besar dibagian kubah. Setiap kotak terdapat gambar, yang saling berbeda. Saya tidak begitu tahu arti dari gambar-gambar tersebut. Dikiri kanan lorong menuju ruang permainan judi berjejer galeri penjualan barang-barang mewah. Oh yah, selain bisnis judi di Macau juga banyak tempat pegadaian barang. Dilokasi ini juga tak luput dari konter pegadaian barang dan tempat penukaran uang atau money changer. Wow, begitu masuk diruang judi saya benar-benar dibuat terkejut. Ratusan lapak nyaris semuanya terisi. Saya tidak tahu persis bagaimana cara permainan judi tersebut. Sayangnya pengunjung dilarang mengambil foto dilokasi orang berjudi ini. Sebab sebelum masuk ke ruangan permainan judi, sudah ada gambar tanda dilarang membawa anak kecil, dilarang memotret dan merekam pakai hendycamp. Saya tidak mau ambil resiko di Negara orang. Saya menahan diri untuk tidak mengambil foto disini. Setelah melalui tempat ratusan orang yang sedang asyik main judi, kami naik tangga escalator. Begitu diatas, saya seolah berada dialam terbuka. Awan biru terlihat cerah sekali, danau dengan satu jembatan kecil dan perahu sampan, semakin memperkuat nuansa alam didalam gedung itu. Dibagian bawah berderet gedung-gedung seperti ruko dengan arsitektur timur tengah. Saya menyebutnya “Gedung Dalam Gedung”. Awan-awanan yang tidak diketahui dimana ujungnya ternyata merupakan kubah gedung raksasa tersebut. Setelah puas berfoto kami langsung keluar untuk kemudian nonton empat dimensi. Sayang sekali pertunjukan tidak sefantastis yang aku bayangkan. Tapi tetap saja membuat decap kagum kami. Haripun beranjak malam. Tapi Macau tetap terang. Seluruh gedung memancarkan gemerlap lampu kemewahan. Usai nonton empat diomensi kami langsung istirahan makan malam dan pulang ke hotel.
MEGAH : Suasana malam di kota Macau.

MEGAH : Suasana malam di kota Macau.

Saya tidak mau melewatkan malam hari di Macau. Bersama Guide Silcilia, saya dan sejumlah peserta lainnya menikmati hiburan malam. Upzzz, tari erotis dan action. Gila. Sebenarnya tari telanjang merupakan tontonan gratis. Tapi untuk melihat action langsung harus bayar. Biayanya sekitar 450 ribu uang rupiah untuk satu orang. Karena penasaran ingin melihat orang China tari erotis dan action saya dan lima orang peserta lainnya sepakat untuk nonton komplit. Dengan cara patungan kami membeli tiket melalui Silcilia. Pertunjukan selama satu jam untuk tari erotis dan satu jam untuk action. Sayangnya, harapan kami untuk melihat “amoy-amoy” tak terbukti. Aktor yang melakukan tari erotis dan action ternyata orang barat semua. Bukan warga Tiongkok. Ada perasaan menyesal nonton. Tapi yah sudahlah. Kapan lagi mendapatkan pengalaman nonton hal-hal aneh di Macau. Setidaknya ini menjadi pengalaman. Karena pengalaman lebih mahal dari segalanya. Oh, yah dipintu depan masuk tempat pertunjukan ternyata salah seorang wanita penjaga adalah warga Indonesia. Saya lupa nama wanita berkulit coklat tersebut.
MEGAH : Suasana malam di kota Macau.

MEGAH : Suasana malam di kota Macau.

Kamipun kemudian langsung pulang ke hotel dengan mobil mirip L300, tapi lebih mewah. Waktu menunjukan pukul 23.00 waktu Macau. Saya pun langsung istirahat setelah sebelumnya makan mie yang saya minta dari salah satu peserta. Apapun yang saya lihat hari ini adalah pelajaran beharga. Pengalaman adalah guru yang terbaik.(****)

Ditulis dalam Budaya, Cerita, Ekonomi, Hukum & Kriminal, Humor, Keluarga, Kerajinan, Kerja, Kesehatan, Kisah Nyata, Liputan, Musik, Pemerintahan, Pendidikan, Pengalaman Pribadi, Pengobatan, Politik, Religi, Seputar Kita, Tradisional, Travelling, Wartawan | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Wisata Budaya Tradisonal Tiongkok Patut Ditiru

Posted by Jay pada November 7, 2010

Disela-sela Study Banding Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 ke China

RAMAH LINGKUNGAN : Berpose di pantai Bakau atau Coastal Ecological Park, Shenzhen, China.

RAMAH LINGKUNGAN : Berpose di pantai Bakau atau Coastal Ecological Park, Shenzhen, China.


SHENZHEN, CHINA, MINGGU 24 OKTOBER 2010. Pagi-pagi betul Pak Chen, Guide yang menuntun kami selama di Ghuangzho sudah siap di ruang makan hotel. Hari ini perjalanan dilanjutkan ke Shenzhen. Jarak Ghuangzo ke Shenzen hanya sekitar tiga jam perjalanan dengan bus. Kami bersyukur, Pak Chen yang pandai berbahasa jawa itu masih menemani kami selama di Shenzhen.
Menurut cerita pak Chen, Sehenzen hanyalah sebuah kabupaten kecil tempat hamparan sawah. Baru di tahun 1980-kota ini diotonomikan menjadi kota Khusus Industri dan ekonomi. Waktu 30 tahun ternyata sudah dapat membuktikan perkembangan kota Shenzhen yang benar-benar mencengangkan dunia Internasional. Hamparan sawah yang diceritakan Pak Chen kini sudah menjadi lautan gedung pencakar langit, dengan taman disisi kiri kanannya. Jalan raya dan jembatan layang, silang melintang diantara gedung tinggi.
Cepatnya pertumbuhan ekonomi dan industry di Shenzhen tak lepas dari kebijakan pemerintah Shenzhen yang memberikan peluang bagi investor untuk berinvestasi di negeri Tirai Bambu itu. Shenzhen dibagi dua wilayah. Wilayah industry dan wilayah umum. ‘’Bagi investor yang ingin melakukan investasinya di wilayah industry akan bebas pajak selama 5 tahun pertama. Sedangkan untuk wilayah umum, akan dibebaskan pajak selama 3 tahun pertama,’’kata Chen, guide yang menuntun rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres di Shenzhen.
Bahkan pemerintah, membebaskan pabrik-pabrik yang sengaja menduplikasi produk luar. Barang-barang palsu yang diduplikat dari merek-merek terkenal tersebut dijual bebas tanpa ada larangan atau razia. Bahkan pusat perdagangan barang-barang palsu itupun menjadi salah satu tempat tujuan wisatawan. Alat-alat elektronik dan pakaian bermerek bisa ditemui disini. Untuk satu produk asli yang biasa dijual Rp. 5 juta di kota ini bisa dibeli hanya seharga Rp. 300 ribu. Biasanya turis mancanegara selalu mengincar HP, jam tangan, kamera dan handycamp. Karena produk elektronik paling sulit untuk dikenali antara yang asli dan palsu. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui perbedaannya.
Meski pertumbuhan ekonomi dan industry melaju pesat dan cepat, pemerintah Sehenzhen juga tetap memperhatikan lingkungan hidup atau ekologi. Diantara pabrik dan gedung-gedung pencakar langit dibuat taman penghijau. Tidak itu saja, meski Shenzhen sudah berubah drastic, namun kebudayaan dan kesenian tradisonal Tiongkok tetap dipertahankan. Bahkan dijadikan objek wisata.
RAMAH LINGKUNGAN : Zainuddin, foto bersama guru Favorit Jambi Ekspres di pantai Bakau atau Coastal Ecological Park, Shenzhen, China.

RAMAH LINGKUNGAN : Zainuddin, foto bersama guru Favorit Jambi Ekspres di pantai Bakau atau Coastal Ecological Park, Shenzhen, China.

Oke, lanjut ke perjalanan menuju kota Shenzhen. Sebelum masuk ke kota Shenzhen, Provinsi Kuantong, RRC sekitar pukul 10.30 waktu China, kami singgah terlebih dahulu ke Pantai Bakau atau Coastal Ecological Park. Untuk sampai ke bibir pantai kami harus berjalan menyusuri taman yang asri. Setiba dipinggir pantai, menjorok ke bawah tanaman bakau yang baru setengah baya terlihat hijau. Sementara diseberang lautan sana masih terlihat gedung-gedung tinggi menjulang. Payung-payung tenda terdapat dibeberapa pojok melindungi tropong yang sengaja disiapkan oleh pengelola. Disini kami hanya setengah jam saja. Setelah puas berfoto kami langsung melanjutkan perjalanan.
SHOPING : Salah satu pusat giok di China. Borong habis.

SHOPING : Salah satu pusat giok di China. Borong habis.

Untuk membuktikan kota ini sebagai kota industry, kamipun diajak mengunjungi industry kerajinan giok. Semua peserta bersorak riang. Tak kecuali saya. Untuk masuk ke pabrik yang mirip dengan musium giouk ini kami diberi tanda Visitor yang ditempel dibahu. Ternyata tidak hanya giok yang disediakan disini. The leci yang konon katanya sangat berhasiat juga disediakan disini. Semua pengunjung bebas meminum teh lecih yang masih hangat tersebut. Menariknya lagi, dikawasan ini menerima uang rupiah. Waw, banyak sekali rombongan yang belanja. Saya, membeli dua kaleng teh leci sebagai oleh-oleh dan Satu set giok berlilitkan emas 18 karat (gelang, kalung dan mainannya serta cincing dua pasang) saya beli seharga 1100 Yuans, atau sama dengan Rp. 1.550.000,- untuk oleh-oleh istri. Satu set giok tersebut ku beli setelah melalui bujuk rayu Ibu Yuliana Dewi, yang jago melakukan tawar-menawar.
Setelah puas belanja, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke pusat industry sutra. Ternyata Shenzhen juga merupakan industry sutra terbesar di dunia. Untuk masuk kekawasan ini kami juga diberi tanda pengenal visitor. Karena harganya relative mahal, saya melewatkan sovenir menarik ditempat ini. Beberapa orang dalam rombongan kami ada yang membeli baju dan lain sebagainya.
Menjelang sore, rombongan kembali dianjak ke pusat perbelanjaan barang-barang aspal. Upsss, semua barang asli tapi palsu ada disini. Saya lupa nama kawasan pusat perbelanjaan lima lantai itu. Disini pak Chen hanya memberi waktu satu setengah jam untuk berbelanja. Karena, malamnya kami akan diajak nonton tiaterikal.
Karena pusat perbelanjaan ini sangat besar, seorang guru bernama Pretty sempat nyasar. Kami secara berpencar sudah berusaha menyusuri setiap sudut. Tapi tak kunjung ketemu. Satu jam lebih kami harus menunggu. Agar tidak mengganggu agenda yang sudah disusun, Mbak Nila, tour lider dari Global Tour meminta kepada pak Chen untuk melanjutkan perjalanan. ‘’Biar saya sendirian aja menunggu. Nanti saya menyusul dengan menggunakan kereta,’’kata Nilawaty – nama lengkap Mbak Nila.
Bukan hanya Mbak Nila yang merasa bertanggung jawab terhadap perjalanan kami ini. Bosku Sarkawi juga menawarkan diri untuk tetap tinggal, menunggu hingga Ibu Pretty ditemukan. Akhirnya sepakat yang tinggal menunggu empat orang, diantaranya Mbak Nila, Bos Sarkawi, seorang guru namanya Pak Jufri dan satu orang lagi aku lupa namanya. Namun saat kami akan melanjutkan perjalanan, tiba-tiba Ibu Pretty keluar dari ujung pintu arah kami melangkah. Alhamdulillah. Ibu Pretty, guru dari Muaro Jambi itu berpelukan dengan ibu guru lainnya. Kami pun akhirnya melanjutkan perjalanan dalam rombongan lengkap.
‘’Cepat-cepat, kita sudah molor satu jam lebih’’kata Pak Chen, dengan mengayunkan langkah kakinya dengan cepat. Untuk sampai ke bus, Kami harus menyeberangi tangga penyeberangan. Wajar saja Pak Chen khawatir, karena tiket untuk nonton pertunjukan sudah diboking lebih dulu.
Bus yang membawa kami menerobos jalan raya yang penuh dengan gemerlap lampu. Malam seperti tak ada bedanya dengan siang. Hanya kemerlap lampu yang membedakannya. Semua seolah tidak tidur. Kami akhirnya sampai ke lokasi pertunjukan. Namanya kalo ngak salah ; Splendid China Miniature Scenic Spot, Shenzhen, China.
Pertunjukan tiaterikal dan tarian kolosal yang disajikan benar-benar menakjubkan. Meski semuanya adalah pertunjukan kesenian tradisional Tiongkok yang sudah dimodifikasi dengan teknologi, namun rugi sekali rasanya jika tidak melihat. Benar-benar menakjubkan.
BUDAYA : Kesenian tradisonal Tiongkok dengan pasukan berkuda yang menjadi tontonan para turis lokal dan mancanegara di Splendid China Miniature Scenic Spot, Shenzhen, China.

BUDAYA : Kesenian tradisonal Tiongkok dengan pasukan berkuda yang menjadi tontonan para turis lokal dan mancanegara di Splendid China Miniature Scenic Spot, Shenzhen, China.

Kesenian dan tiater kolosal yang menceritakan sejarah dan kehidupan rakyat China dipertontonkan secara fantastis diatas panggung dan hamparan terbuka. Pasukan berkuda yang mengawal raja, pengembala kambing dan kerbau semua ikut melintasi panggung terbuka dengan pencahayaan berwarna-warni diiringi musik khas tradisinal Tiongkok.
Saya langsung berpikir tentang negeri saya Indonesia yang kaya akan kesenian daerah dan aneka ragam budaya. Jika dikelola dengan baik pastilah bisa mengalahkan pertunjukan di Shenzhen tersebut. Dan akhirnya dapan dijadikan objek wisata yang menjadi tontonan mahal bagi turis lokal dan mancanegara, seperti yang dilakukan di Shenzhen, China.Tapi entah kapan. Semoga saja pejabat di negeri ini segera sadar. Menurut saya ‘’Wisata Budaya Tradisonal Tiongkok ini Patut Ditiru’’. Setidaknya, untuk melestarikan kesenian dan budaya daerah nusantara, selain juga bisa menampung tenaga kerja dan menjadi devisa Negara.
Setelah pertunjukan usai, Pak Chen menawarkan untuk melihat miniatur tujuh keajaiban dunia dikawasan yang sama. Tapi peserta sudah kelelahan. Semua sepakat untuk istirahat makan dan pulang ke hotel.Apalah artinya kaya budaya jika tak bisa dinikmati oleh orang lain. KAYA baru berarti jika bisa membantu orang lain.(****)

Ditulis dalam Budaya, Cerita, Ekonomi, Hukum & Kriminal, Humor, Keluarga, Kerajinan, Kerja, Kesehatan, Kisah Nyata, Liputan, Musik, Pemerintahan, Pendidikan, Pengalaman Pribadi, Pengobatan, Politik, Religi, Seputar Kita, Tradisional, Travelling, Wartawan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | Leave a Comment »

Kapan Yah Sungai Batanghari Bisa Seperti Ghuangzhou !

Posted by Jay pada November 6, 2010

Perjalanan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 di Beijing

 

GHUANGZHOU : Suasana malam di pinggir Sungai Mutiara di Ghuangzhou, China

GHUANGZHOU : Menikmati suasana malam di pinggir Sungai Mutiara di Ghuangzhou, China

 

 

GHUANGZHOU : Menikmati suasana malam di pinggir Sungai Mutiara,  Ghuangzhou, China.

GHUANGZHOU : Menikmati suasana malam di pinggir Sungai Mutiara, Ghuangzhou, China.

 

GUANG ZHOU, CHINA, SABTU 23 OKTOBER 2010. Matahari mulai terbenam. Malam pun mulai menunjukan gelapnya. Tapi kota Ghuangzho tetap terang benderang dengan kilauan lampu jalan dan gedung-gedung pencakar langit. Meski badan ini terasa letih, setelah seharian berjalan, namun para guru tampaknya sudah tak sabar ingin shoping. Sebab Ghuangzho dikenal dengan barang-barang murah. Pak Chen kemudian membawa kami ke kawasan perbelanjaan  namanya Beijing Lu. Disini kami diberi waktu satu jam setengah. Disini saya membeli tas untuk istri dan miniature Dewa Lima Kambing. Setelah cukup puas shoping, kami  bersiap untuk istirahat pulang ke Hotel. Tapi sebelum pulang ke Hotel, Pak Chen menawarkan satu lokasi yang indah, diluar agenda Tour. Tapi harus tambah uang. Satu orang harus tambah ongkos 50 Yuans atau sekitar Rp. 70 Ribu. ‘’Rugi jika tidak ke Sungai Mutiara. Sebab salah satu aikon Ghuangzho adalah      sungai Mutiara,’’kata Pak Chen, Guide yang menuntun kami selama di Ghuangzho.
Dengan menggunakan mic yang ada didalam bus, saya utarakan hal itu kepada seluruh peserta. Sebagian guru setuju tapi sebagian lainnya menolak. Namun, bosku Sarkawi langsung berbisik, ‘’Biar saya yang bayar semua,’’kata Bosku.
Kami pun kemudian melanjutkan malam itu dengan menyusuri sungai Mutiara. Alangkah terkejutnya kami ketika melihat sungai tersebut. Karena disepanjang pinggir sungai di kedua belah sisi sungai dibuat jalan berukuran enam meter dengan pepohonan rindang dipinggirnya . Jalan tersebut khusus untuk pejalan kaki. Dan disisi lainnya terdapat jalan raya yang juga lebar. Barulah disisilainnya berderet gedung-gedung tinggi yang memancarkan aneka ragam warna lampu. Empat jembatan yang membelah sungai itu memancarkan cahaya lampu yang gemerlap. Tidak itu saja, di aliran sungai belasan kapal kecil melintas dengan aneka ragam lampu, sehingga semakin membuat indah kota. Sementara, disepanjang jalan pinggir sungai, penduduk local sedang santai menikmati malam. Ada yang bersepeda, ada yang dansa, senam bahkan ada pula pemain music biola. Benar-benar menakjubkan. Melihat Sungai Mutiara ini saya langsung teringat dengan Sungai Batanghari yang ada di Jambi. Bentuk Sungainya persis sama. Tapi pegelolaan tata kotanya yang beda.  Kapan Yah Sungai Batanghari  bisa seperti Sungai Mutiara !.

 

GHUANGZHOU : Masyarakat Ghuangzhou China mengisi malam di pinggir Sungai Mutiara,  dengan berbagai aktivitas. Salah satunya dansa seperti di foto ini. Asyik sekali.

GHUANGZHOU : Masyarakat Ghuangzhou China mengisi malam di pinggir Sungai Mutiara, dengan berbagai aktivitas. Salah satunya dansa seperti di foto ini. Asyik sekali.

 

Menurut keterangan Pak Chen, dulu sekitar 10 tahun yang lalu, Kota Ghuangzho sangat kotor, semrawut, dan jalannya sempit serta kecil.  Bahkan kota ini disebut dengan kota pembuangan sampah. ‘’Tapi kini sudah menjelma menjadi metropolitan dan tak kalah dengan Beijing,”ungkap Chen, warga Tiongkok keturunan Trenggalek, Jawa Timur ini. Sebagai bukti, menurut bapak satu anak ini Kota Guangzho pertengahan bulan ini bakal menjadi tuan rumah Asian Games.
Perubahan kota sampah menjadi kota metropolitan yang ramah lingkungan ini tak terlepas dari peran pemerintah dan masyarakat setempat. Gubernur setempat memerintahkan untuk dilakukan perubahan setiap tahun. Yah setiap tahun harus ada perubahan. Dan program pertopian, atau renofasi dilakukan secara masal. Baik terhadap fasilitas umum, maupun gedung-gedung swasta. Program ini benar-benar berjalan. Kini jadilah Ghuangzho menjadi kota yang bersih, rapi dan  tertib. Pohon-pohon tumbuh dengan hijau banyaknya taman- taman kota suasana  udara  segar dan sejuk. Pembangunan kota Guangzhou  sangat terintegrasi  dan selalu  mengutamakan keseimbangan dengan lingkungan.

 

GHUANGZHOU : Menikmati malam di Sungai Mutiara Ghuangzhou, China. Masyarakat Ghuangzhou mengisi malam di pinggir Sungai Mutiara,  dengan berbagai aktivitas. Salah satunya main sepeda, dansa, senam, main takrau dll. Dibelakang saya terlihat ramai-ramai orang bermain musik biola. Asyik sekali.

GHUANGZHOU : Menikmati malam di Sungai Mutiara Ghuangzhou, China. Masyarakat Ghuangzhou mengisi malam di pinggir Sungai Mutiara, dengan berbagai aktivitas. Salah satunya main sepeda, dansa, senam, main takrau dll. Dibelakang saya terlihat ramai-ramai orang bermain musik biola. Asyik sekali.

 

Pembangunan apartemen dan rumah susun diintegrasikan dengan konsep lingkungan. Semua buangan limbah dari apartemen, kantor, pertokoan dan rumah susun ditampung dalam suatu tempat dan diolah. Hasil kotoran jadi pupuk dan air yang bersih dialirkan ke sungai Mutiara.
Adapun faktor  yang membuat kota Guangzhou menjadi indah dan sejuk serta nyaman antara lain : Komitmen pemerintah dan masyarakat terhadap lingkungan hidup sangat tinggi, adanya langkah nyata oleh pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan kota Guangzhou menjadi kota yang sejuk dan indah, adanya konsep pembangunan yang seimbang dengan lingkungan hidup, Pembangunan yang terintegrasi dan berkesinambungan serta adanya penegakan dan kepastian hukum.
Saya terbayang andai negeri saya yang saya cintai khususnya Jambi seperti kota Guangzhou alangkah indahnya dan nyamannya serta damainya. Tapi kenyataannya, Sungai Batanghari justru dijadikan tempat pembuangan limbah. Sebut saja misalnya di Kota Jambi, seperti di kawasan pertokoan WTC.
Semoga pengalaman saya di Sungai Mutiara Ghuangzho China  yang saya buat dalam tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagi pejabat di negeri ini, khususnya di Jambi. Hidup ini terasa indah, jika bermanfaat bagi orang lain.(****)

Ditulis dalam Budaya, Cerita, Ekonomi, Hukum & Kriminal, Humor, Keluarga, Kerajinan, Kerja, Kesehatan, Kisah Nyata, Liputan, Musik, Pemerintahan, Pendidikan, Pengalaman Pribadi, Pengobatan, Politik, Religi, Seputar Kita, Tradisional, Travelling, Wartawan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | Leave a Comment »

Di China, Pelajar Berprestasi Dapat Penawaran Mahal

Posted by Jay pada November 6, 2010

Kunjungan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 di Kota Guangzhou, China

 

STUDY BANDING : Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 saat mengunjungi Guangzhoushi Youershifan Xuexiao di Guhungzho, China.

STUDY BANDING : Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 saat mengunjungi Guangzhoushi Youershifan Xuexiao di Guhungzho, China.

 

GUANG ZHOU, CHINA, SABTU 23 OKTOBER 2010. Perasaanku mulai tak enak. Karena sejak tiga hari setelah tiba di China, kami hanya jalan-jalan ketempat wisata. Sedangkan kegiatan yang ‘wajib’ belum juga terlaksana satupun. Yakni melakukan study banding ke sekolah. Saya sedikit kesal dengan travel, karena pesanan utama untuk study banding justru ‘dianggapnya sepele’. Ternyata perasaan yang aku alami sama dengan yang dirasakan oleh bosku Sarkawi dan sejumlah guru lainnya. Peranku dalam perjalanan tersebut tidak hanya sebatas wartawan peliput perjalanan, tapi juga merangkap sebagai ketua panitia pelaksana. Aku benar-benar terbeban dengan persoalan ini. Sebab berulang kali sudah kusampaikan kepada pihak travel, soal perjanjian awal untuk berkunjung ke sekolah-sekolah. Tapi ada saja alasannya. Ini dan itu. Bahkan pihak travel minta tambahan biaya yang cukup besar untuk bisa masuk ke sekolah. Ia hanya menjamin untuk kunjungan di satu sekolah di Hongkong dan kunjungan di Konjen di Hongkong. Wah, aku benar-benar dibuat kalut, dalam posisi yang serba sulit.
Tapi aku tidak habis akal. Ini berdasarkan pengalamanku saat di Beijing.   Upayaku untuk menembus KBRI di Beijing sudah menunjukan hasil yang cukup baik. Semula pihak travel menyebutkan bahwa rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres  tidak bisa ke KBRI di Beijing dengan alasan pihak KBRI sedang sibuk meladeni kunjungan Presiden dan Wapres. Tapi saat ini aku tetap ngotot untuk datang berkunjung ke kantor kedutaan Indonesia tersebut. Aku hanya berpikir simpel, bahwa tidak mungkin KBRI menolak kedatangan kami. Andai saja, kedatangan kami ditolak, maka taruhannya adalah jabatan Dubes harus lengser, karena menolak warga Indonesia. Saya sudah berpikir bagaimana caranya untuk melaporkan hal yang terburuk jika terjadi di KBRI. Ternyata kedatangan kami ke KBRI di Bejing tak seburuk yang aku bayangkan. Kami justru disambut dengan ramah, meski tanpa Dubes. Agus, Kepala Administrasi KBRI di Beijing yang saat itu menerima kami meminta maaf karena Dubes sedang menemani kunjungan Presiden RI.
Bahkan Agus terkejut saat kami sampaikan bahwa KBRI menolak kunjungan kami. ‘’Semua warga Indonesia yang datang pasti kami terima. Jika ada yang  bilang KBRI menolak, katakan siapa orangnya. Pasti kami tindak secara tegas. Sebab tugas utama kami disini (Beijing) adalah melayani warga Indonesia,’’terang Agus.
Oke, kembali ke cerita di Ghuangzho. Setiba di Bandara Fai Yin Airport atau awan putih di Kota Ghuangzhou Ibukota Provinsi Qhuangtung, Jumat 22 Oktober 2010 malam jam 21.45 waktu China atau pukul 20.45 WIB, kami disambut oleh Pak Chen, Guide di Kota Guangzho. Saya langsung memperkenalkan diri. Sebelum melanjutkan perjalanan, rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres diajak makan di Restoran Muslim di Kota Guangzho. Dalam perjalanan ke restoran saya langsung meminta kepada Pak Chen untuk membawa kami ke sekolah. Dan ini merupakan kunjungan yang wajib. Ucapan saya sedikit menekan. Pak Chen terkejut, tapi dia langsung mengendalikan diri. ‘’Saya akan melayani anda sesuai dengan permintaan. Besok akan saya atur untuk kunjungan ke sekolah,’’kata Pak Chen, sembari mengutak-atik HP ditangannya.

 

BELAJAR : Sejumlah mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Akademi Mandarin, Ghuangzo, China.

BELAJAR : Sejumlah mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Akademi Mandarin, Ghuangzo, China.

 

Bosku Sarkawi yang duduk di bangku sebelah kiri langsung melirik, dan berkata, ‘’Jika harus bayar, ngak masalah,’’katanya.
Sepertinya Pak Chen mengetahui bahwa permintaan tamu kali ini benar-benar harus dapat. Dia  langsung menghubungi seseorang dengan HP-nya. ‘’Kunjungan ke sekolah tidak perlu harus bayar. Saya sudah hubungi teman, besok pagi kita kesana,’’kata Pak Chen.
Karena itu Sabtu pagi setelah sarapan di Hotel, saya langsung menemui Pak Chen, untuk menanyakan kunjungan ke sekolah. ‘’Yah, kita bisa kesana. Kebetulan saya juga alumni disekolah tersebut. Jadi prosesnya bisa sedikit mudah,’’kata Pak Chen.
Jawaban Pak Chen membuat saya lega.  Dan perjuangan Pak Chen untuk menembus sekolah akhirnya benar-benar berhasil tanpa harus mengeluarkan fusus seperti yang diucapkan pihak travel. Dua sekolah sekaligus kami kunjungi hari itu. Guangzhoushi Youershifan Xuexiao dan Akademi Mandarin.Kedua sekolah ini terletak di kawasan Yuoe Kenlu,  Kota Guangzhou, Provinsi Kuantong, RRC. Guangzhoushi Youershifan Xuexiao merupakan sekolah setingkat SMA yang khusus mendidik siswi untuk dipersiapkan menjadi guru taman kanak-kanan. Atau serupa dengan SPG-TK. Sedangkan Akademi Mandarin merupakan tempat khusus pendalaman  bahasa Mandarin. Disini banyak pemuda Indonesia yang menimba ilmu. Setidaknya ada 200 pelajar dari Indonesia yang menimba ilmu Mandarin disini.
Di China, ternyata pendidikan disesuaikan dengan bakat masing-masing pelajar.  Di Guangzhoushi Youershifan Xuexiao, hanya dikhusukan bagi murid wanita. Siswi yang tamat disini tidak perlu khawatir untuk mencari kerja. Karena, menjelang semester akhir, pihak sekolah sengaja mengundang yayasan-yayasan sekolah lainnya untuk melihat pertunjukan atau show dari siswi yang akan tamat. Persis seperti transaksi barang dagangan. Pihak yayasan yang membutuhkan tenaga kerja akan langsung melakukan transaksi dengan pelajar yang akan dijadikan tenaga kerja atau guru di tempat mereka. Bagi yang berprestasi, akan dibiayai untuk melanjutkan sekolah lebih tinggi.
‘’Setiap tahunnya ada show di sekolah ini. Sekolah-sekolah yang membutuhkan tenaga pengajar biasanya selalu datang kesini untuk melihat pertunjukan kemampuan pelajar disini,’’kata Melati (21) warga Solo yang juga merupakan alimni Guangzhoushi Youershifan Xuexiao dan kini menjadi mahasiswi di Universitas Mandarin, Sabtu (23/10/2010).
Melati yang didampingi oleh ketua yayasan Guangzhoushi Youershifan Xuexiao menjelaskan bagaimana teknik belajar mengajar disana.

 

WNI : Melati warga Indonesia yang juga merupakan alumni Guangzhoushi Youershifan Xuexiao, dan kini melanjutkan sekolah di Akademi Mandarin, Ghuangzho, China.

WNI : Melati warga Indonesia yang juga merupakan alumni Guangzhoushi Youershifan Xuexiao, dan kini melanjutkan sekolah di Akademi Mandarin, Ghuangzho, China.

 

Menurut Melati, fasilitas sekolah sangat lengkap sehingga mudah bagi pelajar untuk memahami pelajaran, dan mudah bagi guru untuk menjelaskan materi.
Untuk mempermudah pengawasan para pelajar, pihak sekolah melengkapi dengan asrama tempat tinggal pelajar, yang juga masih satu hamparan dengan kampus.
Selain Melati, sejumlah pelajar Indonesia lainnya juga berhasil ditemui oleh rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres. Sebut saja misalnya, Agus (16 th), asal Singkawang, Shinta (18) Medan, Winvia Hamdani, asal Makasar dan Junardi (18) Medan.
Menurut Shinta,  ia bersama lima orang temannya dari Sumatra Utara sengaja belajar di Tiongkok untuk menguasai bahasa Mandarin. Hal senada juga diungkapkan oleh Agus. Dengan nada medok jawa ia mengaku sangat senang dengan pendidikan di negeri Tirai Bambu tersebut.  Selain karena disiplin, juga karena fasilitas yang dimiliki sangat lengkap.
Hasil kunjungan saya dan rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres di Akademi Mandarin, untuk satu kelas terdapat fasilitas white board, infokus, sond system, kamera CCTV, Black Board, AC dan kipas angin. Tidak itu saja, fasilitas di asrama pun sangat menggoda. Bayangkan saja, satu kamar hanya diisi untuk satu orang, dengan fasilitai toilet didalam, AC, kipas angin dan telepon. Sedangkan televisi hanya disediakan diruang lobi. Uniknya tamu dilarang masuk ke kamar, meskipun itu teman sendiri atau keluarga. Tujuannya untuk menjamin kenyamanan pelajar saat istirahat dan belajar. Di antara gedung tinggi bangunan sekolah, kampus dan asrama selalu dibuat taman terbuka yang asri. Sepertinya lingkungan yang asri selalu menjadi prioritas dalam penataan kampus dan sekolah di China.
Penerapan pendidikan bakat atau kejuruan di Tiongkok ini agar pelajar dapat benar-benar menguasai bidang study secara maksimal. Jika sudah menguasai jurusan yang dibidangi harga tenaganya sangat mahal.
Hati saya sudah sedikit lega, karena sudah mengunjungi dua sekolah. Meskipun itu belum sesuai dengan target. Tapi setidaknya kunjungan ke dua sekolah itu sudah bisa membuat tenang hati ini. Saya berpikir akan melakukan hal serupa di tiga kota lainnya. Karena kami masih akan melakukan perjalanan ke Shenzhen, Macau dan Hongkong.

 

WISATA : Rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 foto bersama di depan patung Dewa Lima Kambing.

WISATA : Rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 foto bersama di depan patung Dewa Lima Kambing.

 

 

SYIAR ISLAM : Foto bersama di depan makam Abu Wakos, penyiar Islam pertama di negeri Tiongkok.

SYIAR ISLAM : Foto bersama di depan makam Abu Wakos, penyiar Islam pertama di negeri Tiongkok.

 

Setelah makan siang, Pak Chen membawa kami lokasi yang disebut dengan Dewa Lima Kambing. Tidak ada yang istimewa ditempat ini. Lokasinya asri dan sedikit menanjak ke bukit. Dan dipaling atas bukit terdapat patung besar berbentuk lima kambing tapi dalam satu badan. Setelah puas berfoto dan membeli souvenir yang dijajakan dipinggir lokasi wisata, kami melanjutkan perjalanan ke Makam Abu Wakos, seorang penyiar Islam pertama di Thiongkok. Menurut keterangan Pak Chen, Abu Wakos, masih merupakan paman dari Nabi Muhammad SAW.  Dilokasi ini terdapat masjid besar warna merah dengan gaya arsitektur Tiongkok. Didalam masjid terdapat sejumlah jamaah berjubah putih berkelompok-kelompok disetiap sudut. Sepertinya mereka sedang melakukan pengajian. Saya menyempatkan diri untuk sholat sunat tahyatul masjid.  Subhanaalh, ternyata di Negara komunis seperti ini masih banyak orang muslim yang taat kepadaMu ya Allah.
Setetelah sholat dua rakaat, saya langsung menuju makam Abu Wakos,  yang letaknya diujung lokasi. Makam penyiar Islam pertama ini terdapat didalam bangunan ukuran sedang. Setelah membaca Fatehah dan Kulhu yang saya hadiahkan untuk almarhum, saya langsung keluar dan berfoto-foto. (****)

Ditulis dalam Budaya, Cerita, Ekonomi, Hukum & Kriminal, Humor, Keluarga, Kerajinan, Kerja, Kesehatan, Kisah Nyata, Liputan, Musik, Pemerintahan, Pendidikan, Pengalaman Pribadi, Pengobatan, Politik, Religi, Seputar Kita, Tradisional, Travelling, Wartawan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | Leave a Comment »

Wisata Pengobatan Tiongkok

Posted by Jay pada November 5, 2010

Perjalanan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 di China

 

WISATA PENGOBAOBATAN TRADISONAL : Para Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 beserta CEO Jambi Ekspres Sarkawi dan ketua Panitia Zainuddin foto bersama di depan salah satu lokasi pengobatan Tiongkok.

WISATA PENGOBAOBATAN TRADISONAL : Para Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 beserta CEO Jambi Ekspres Sarkawi dan ketua Panitia Zainuddin foto bersama di depan salah satu lokasi pengobatan Tiongkok.

 

BEIJING & GHUANGZHO CHINA, JUMAT 22 OKTOBER 2010. Banyak pelajaran yang saya dapat selama di China. Salah satunya adalah wisata pengobatan Tiongkok. Begini ceritanya. Dihari terakhir di Beijing, sebelum terbang ke Ghuangzho, Provinsi Kuan Tou,  Sule, Guide yang menuntun selama di Beijing  kembali membawa kami ke pusat pengobatan China. Tapi tempat pengobatan kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya.  Belakangan diketahui  Beijing juga disebut sebagai kota obat, karena kemujaraban Shin She atau tabib-nya, semasa kerajaan China.

 

PERIKSA KESEHATAN : Para Guru Favorit Jambi Ekspres saat mendapatkan pelayanan pengobatan tradisional Tiongkok.

PERIKSA KESEHATAN : Para Guru Favorit Jambi Ekspres saat mendapatkan pelayanan pengobatan tradisional Tiongkok.

 

 

REFLEKSI : 22 Rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres dipijat refleksi dan rendam air rambuan Tiongkok.

REFLEKSI : 22 Rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres dipijat refleksi dan rendam air rambuan Tiongkok.

 

Karena itu dihari terakhir di kota Beijing, kami rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres juga mempir di pusat pengobatan raja-raja China tersebut, yang terletak sekitar 30 Km dari kota Beijing atau setengah jam perjalanan menggunakan bus. Para pengelola sepertinya sudah mengetahui persis bahasa Indonesia. Ada sekitar lima orang di tempat itu yang mahir berbahasa Indonesia. Satu orang sebagai pemandu dengan lancar menjelaskan tentang obat-obat yang ada di China. Setelah cukup jelas, sejumlah anak muda masuk dengan membawa dua handuk ditangan dan siap mengurut semua peserta. Belum lima menit, masuk kembali dokter  dengan penterjemah bahasanya. Hanya dengan cara melihat telapak tangan, si-dokter bisa mengetahui kondisi kesehatan kita. Disini saya baru menyadari bahwa tempat pengobatan tradisional juga bisa menjadi kawasan wisata. Wisata Pengobatan Tradisional Tiongkok ini tidak hanya di Beijing, tapi juga di kota-kota lain di China, seperti di Ghuangzho dan Shenzhen. di Ghuangzho dan Shenzhen,  Guid yang menuntun jalan juga membawa kami ke tempat pengobatan tradisonal Tiongkok. Andai saja Indonesia mau melakukan hal yang sama, tentu akan menjadi sesuatu yang baru  dan dapat membantu pengusaha dan menambah devisa Negara. Apalagi Indonesia memiliki Jamu-jamu-an tradison  yang tidak dimiliki Negara lain.

 

SOVENIR : Sarkawi CEO Jambi Ekspres, didampingi Zainuddin, menyerahkan kenang-kenangan kepada KBRI di Beijing.

SOVENIR : Sarkawi CEO Jambi Ekspres, didampingi Zainuddin, menyerahkan kenang-kenangan kepada KBRI di Beijing.

 

 

GURU : Para guru Favorit Jambi Ekspres 2010 didampingi Sarkawi dan Zainuddin foto bersama didepan KBRI di Beijing, China.

GURU : Para guru Favorit Jambi Ekspres 2010 didampingi Sarkawi dan Zainuddin foto bersama didepan KBRI di Beijing, China.

 

Oke, lanjut ke cerita.  Setelah hampir satu jam lebih di tempat pengobatan Tiongkok tersebut,  kami 22 rombongan guru Favorit Jambi Ekspres   melanjutkan perjalanan menuju ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing. Sayangnya, Duta Besar (Dubes) yang ditugaskan di negeri Tirai Bambu ini sedang sibuk meladeni pejabat Negara yang sedang berkunjung.
Seolah sudah menjadi kebiasaan, para pegawai KBRI yang menyambut justru  menawarkan stempel dan tandatangan untuk SPPD. ‘’Dimana yang mau distempel untuk SPPD-nya,’’kata salah seorang pegawai KBRI di Beijing, dengan lugunya.
Setelah dijelaskan maka akhirnya petugas tadi menyadari bahwa guru yang datang bukanlah utusan dari pemerintahan, tapi dari Jambi Ekspres, perusahaan Koran terbesar di Jambi.  ‘’Duit aja orientasinya,’’cetus Feerlie Mhontana, guru dari MAN Bungo, yang ikut dalam rombongan.
Para guru akhirnya diterima oleh Agus, administrasi KBRI. Dari penjelasan Agus diketahui bahwa sistem pendidikan di China disesuaikan dengan bakat. Itu dilakukan sejak kelas 7 atau setara dengan SMP. ‘’Pendidikan di China gratis. Jam pelajaran lebih lama. Tapi yang diajarkan lebih sedikit. Karena lebih fesipik sesuai dengan bakat dan cita-cita masing-masing. Tidak seperti di Indonesia. Yang dipelajari sangat banyak macam dan ragamnya,’’jelas Agus.
Setelah cukup lama melakukan audiensi di kedutaan besar Indonesia di Beijing, rombongan dari Jambi Ekspres melanjutkan perjalanan ke Guang Zhou. Sebelum ke bandara, kami menyempatkan diri untuk singgah di kawasan pusat Olimpiade yang terkenal dengan stadion Sarang Burung. Kami hanya diberi waktu 10 menit untuk berfoto-foto. Setelah puas berpose dengan latar belakang gedung naga dan stadion sarang burung kami langsung menuju ke bandara. Dengan menggunakan China Airline kami terbang ke Guang Zhou, melalui bandara kecil milik tentara RRC. Jarak tempuh Beijing ke  Guang Zhou selama tiga jam perjalanan pesawat. Kami mendarat dengan selamat di Pain Airport, sekitar pukul 18.00 waktu setempat.  Bandara ini berbentuk huruf H, juga  disibut airpot awan putih.  Dipintu keluar airport, seorang pria bertubuh putih memegang kertas besar bertuliskan Jambi Ekspres. Dia adalah Pak Chen Haluan, dia adalah guide kami di  Kuan Tou. Pak Chen merupakan pria periang. Ia tidak hanya pasih berbahasa Indonesia. Tapi juga pandai  berbahasa Jawa. Maklum saja karena Pak Chen pernah tinggal di Surabaya. Bahkan ia masih memiliki kerabat di Indonesia. Menurut cerita Pak Chen, Guang Zhou merupakan salah satu kota di Provinsi Kuan Tou, RRC, dengan luas kota 1000 meter persegi. Di  China terdapat 34 Provinsi. Guang Zhou, disebut juga kota dagang. Kota ini merupakan kota yang baru berkembang. Meski begitu kemajuan sudah sangat pesat sekali. Bahkan Kota ini disebut sebagai kota Industri. Guang Zhou hanya. Kota ini juga dikenal sebagai pusat perdagangan internasional ulat sutra.(****)

Ditulis dalam Budaya, Cerita, Ekonomi, Hukum & Kriminal, Humor, Keluarga, Kerajinan, Kerja, Kesehatan, Kisah Nyata, Liputan, Pemerintahan, Pendidikan, Pengalaman Pribadi, Pengobatan, Religi, Seputar Kita, Tradisional, Travelling, Wartawan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | 1 Comment »

Kabut Dingin di Tembok China

Posted by Jay pada November 4, 2010

Disela-sela Study Banding Guru Favorit Jambi Ekspres ke China

 

GREAT WALL : Zainuddin foto bersama sejumlah Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 di tembok China.

GREAT WALL : Zainuddin foto bersama sejumlah Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 di tembok China.

 

BEIJING, CHINA  KAMIS 21 Oktober 2010. Tiba-tiba suara telepon berdering. Dengan bahasa China yang tidak saya pahami, sipenelpon langsung menutup pembicaraan. Saya lihat jam tangan yang tergeletak disamping telepon menunjukan pukul enam pagi. Mata ini masih terasa ngantuk sekali. Saya coba untuk bangkit dari tidur dan menggerak-gerakkan badan. Setelah sholat saya kemudian membangunkan Fahmi dan Robi, teman satu rombongan yang  tidur sekamar dengan saya di Huidu Hotel, Beijing.
Fahmi ternyata mandi lebih dahulu. Temanku yang selengekan ini ternyata lebih rapi dari kami berdua. Saya menyusul kemudian. Setelah mandi dengan menggunakan air panas tubuh ini menjadi terasa lebih segar. Meski aneka makanan banyak berderet di ruang makan hotel. Namun sarapan pagi di hotel tidak dapat diterima oleh lidah melayu seperti kami. Selain takut makanan tak halal. Rasanya juga sedikit aneh. Roti campur telur  jadi kombinasi yang unik pada sarapan kali ini. Segelas kopi menyempurkanan sarapan kali ini.
Sule, sudah menunggu di lobi hotel, dengan jaker kulit warna coklat. ‘’Waktunya sudah molor setengah jam.Ayo, perjalanan kita masih panjang,’’kata Sule, member motivasi.
Baru jam Sembilan semua rombongan siap dan kami langsung berangkat dengan menggunakan bus yang sudah stenbay didepan hotel. Jarak dari hotel ke  Great Wall  atau tembok China, sekitar dua jam. Sepanjang jalan, kami bisa melihat kondisi kota Beijing dan aktifitas penduduknya. Sepanjang jalan, Sule selalu memberikan penjelasan tentang sejarah dan cerita rakyat RRC, yang dulu merupakan daerah terbelakang.

 

GREAT WALL : Zainuddin dan Zulfahmi foto bersama di Tembok China.

GREAT WALL : Zainuddin dan Zulfahmi foto bersama di Tembok China.

 

Sekitar pukul 11.00 waktu setempat kami tiba di tembok China tersebut. Tembok sepanjang 6700 Km tersebut  terletak diatas bukit dengan ketinggian 2000 meter. Dibangun dengan batu gunung dan merupakan peninggalan tentara China dalam mempertahankan Negara.
Hari ini kabut dingin begitu tebal. Jarak pandang hanya berkisar 15 meter saja. Matahari yang sudah menampakkan sinarnya tak mampu menembus bumi. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 11.00 siang waktu Beijing. Tebalnya kabut yang menyelimuti bumi,  tidak menyurutkan niat kami rombongan guru Favorit Jambi Ekspres untuk menelusuri tembok China, yang merupakan satu dari tujuh keajaiban dunia itu.
Baju switer tebal yang membalut tubuh ini sepertinya belum cukup untuk menahan rasa dingin udara Beijing yang saat itu suhu udara mencapai 7 derajat celcius. Kubungkus kepala dengan sebo tebal. Kusarungi jari-jari dengan sarung tangan tebal. Rupanya bukan kami saja dari Indonesia yang kedinginan. Para bule dan penduduk lokal juga merasakan hal yang sama. Ini dapat dilihat dari cara mereka berpakaian. Berbaju tebal selutut  dan mengenakan sarung tangan. Untung saja, saat itu musim salju belum  tiba.
Saya dan 22 rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres yang notabenenya berasal dari Negara tropis seperti ayam kedinginan. Hanya semangat yang membakar jiwa kami sehingga tubuh yang dingin ini menjadi hangat. Bus yang mengantar kami ke Great Wall  berhenti diujung jalan yang sedikit datar. Puluhan bus ada disitu.  Didepannya terdapat gerbang, dengan dua jalur yang dibatasi dengan besi stenlis. Satu persatu pengunjung menunjukan karcis tanda masuk. Kami tak perlu lagi memperlihatkan karcis. Karena Pak Sule, Guide kami sudah berdiri disamping petugas dengan karcis ditangan.
Disebelah kiri pintu masuk terdapat restoran siap saji dengan menu yang masih hangat dan jajanan-jajanan ringan, seperti jagung rebus. Untuk satu jagung rebus hangat hanya seharga 5 Yuans atau  sekitar Rp. 7.500.  Sementara disebelah kanannya terdapat saung-saung peristirahatan dan toilet. Dibagian depan toilet ada sejumlah pelukis yang menjual baju kaus yang siap dilukis sesuai dengan pesanan. Para pembeli biasanya memesan lukisan tembok China kombinasi foto pembeli dilengkapi nama. Cuaca dingin membuat pengunjung banyak yang beser. Apalagi rombongan Indonesia  seperti kami yang hidup diiklim tropis.
Para penjual souvenir khas Tiongkok mulai terlihat saat menaiki tangga Great Wall. Waw, tidak itu saja. Baju khas Tiongkok juga disewa disini. Sekedar untuk berfoto dengan beground tembok China.  Saya tidak tertarik untuk menyewa baju mirip prajurit itu. Saya dan sejumlah rombongan memutuskan untuk terus menaiki tangga kea rah atas. Menurut keyakinan orang Tiongkok, semakin tinggi mendaki tembok, maka semakin tinggi pula cita-citanya dan kesuksesannya.
Sejumlah guru yang ikut dalam rombongan sangat antusias untuk mendaki tembok itu. Tapi tak ada satu pun yang mampu sampai ke puncak. Maklum saja, karena untuk sampai ke puncak, setidaknya butuh waktu jalan kaki selama empat hari bahkan bisa sampai seminggu atau sebulan. Karena panjang tembok itu 6700 Km.

 

PENGOBATAN : Zainuddin, Robi bersama guru  Zulhitmi dan Asrauddin foto bersama di depan pusat pengobatan tradisional China di Beijing.

PENGOBATAN : Zainuddin, Robi bersama guru Zulhitmi dan Asrauddin foto bersama di depan pusat pengobatan tradisional China di Beijing.

 

Setelah hampir dua jam di tembok China, Sule kemudian membawa  kami istirahat makan siang di restoran Muslim. Menjelang pukul tiga sore Sule kemudian membawa kami ke tempat pengobatan tradisoonal Tiongkok. Wah, Sule sang Guide ternyata  pandai mencari peluang. Dia sangat tahu jika kami keletihan, akibat mendaki tangga great wall. Satu bangunan berukuran besar itu ternyata merupakan perusahaan pengobatan ternama di China. Kami 22 orang semuanya mendapatkan pijatan gratis secara masal.  Wah, nikmat sekali. Bisa dipastikan turis dari Indonesia dan Malaysia sering singgah ditempat ini. Buktinya, banyak karyawan disini yang pandai berbahasa Indonesia.
Saya dan sejumlah peserta hanya menikmati pijatan refleksi dan rendaman ramuan air hangat gratis. Hanya beberapa orang saja yang membeli obat dan barang-barang yang ditawarkan. Selain takut tidak cocok, harganya  juga terlalu mahal, dan tidak sesuai dengan kantong saya, yang hanya seorang wartawan ini. Hahahah. ‘’Lain kali saya kesini dengan istri. Dan baru akan membeli prodak anda,’’kilah saya pada sales obat yang menawarkan produknya pada saya. Satu jam lebih kami berada disini. Dan menjelang magrib kami  melanjutkan perjalanan ke Summer Palace. Summer Palace merupakan taman buatan yang sengaja dibangun oleh kaisar untuk istirahat jika musim panas. Dikawasan 300 hektar ini dibentuk menjadi taman yang ditengahnya diciptakan danau buatan. Meski semuanya dibuat, namun kini menjadi salah satu tempat objek wisata ternama di negeri tirai bambu ini.  Melihat kondisi ini, saya langsung terbayang dengan sungai Batanghari yang ada di Jambi dan kurang terkelola.

 

TERLEWATKAN : Inilah salah satu pojok keindahan Summer Palace di Beijing. Sayangnya kami sampai disini pada malam hari sehingga fotonya gelap. Nih foto yg saya ambil dari internet.

TERLEWATKAN : Inilah salah satu pojok keindahan Summer Palace di Beijing. Sayangnya kami sampai disini pada malam hari sehingga fotonya gelap. Nih foto yg saya ambil dari internet.

 

Sayangnya, keindahan alam di Summer Palace ini tak dapat kami nikmati karena hari sudah gelap. Sejumlah peserta termasuk saya menyesali langkah Sule yang membawa kami ke tempat pengobatan sehingga melewatkan tempat yang indah seperti ini. Karena gelap, kondisi summer palace tidak dapat saya abadikan dalam foto. Yah sudah lah, gambaran taman buatan itu saya ambil dari internet aja. Yang penting saya sudah menginjakan kaki ditempat peristirahatan Kaisar China itu. Hehehehe.
Sebelum  makan malam, Sule membawa kami ke tempat shoping. Khusus penjualan giok. Disini saya membeli gelang mata kucing dan gelang untuk istri. Kartu kredit ternyata berlaku disini.
Sebelum pulang ke Hotel, kami kemudian makan malam di restoran Muslim. Lagi-lagi Sule, mengingatkan 6,7,8. Jam enam bangun untuk sholat dan mandi, jam tujuh sarapan dan jam delapan chek out.
Sebuah pelajaran didapat  dari perjalanan hari ini.  Dari cerita Sule, Guide yang membimbing kami selama di Bejing diketahui bahwa pemerintahan RRC melarang aktivitas sepeda motor. Warga Tiongkok lebih suka menggunakan sepeda dan Bus atau kreta api. Tak heran jika diantara mobil-mobil mewah, terdapat parkir sepeda.
Hal lain yang menjadi pelajaran di negeri Tirai Bambu ini, bahwa disepanjang jalan yang bersih dan lebar tersebut tidak ada tukang sapu jalan. Semua kebersihan jalan dilakukan oleh mobil penyedot debu dan mobil penyapu jalan yang setiap jam lalulalang ditengah keramaian aktifitas kota yang akan menjadi tuan rumah pada olimpiade nanti.
Tidak itu saja, menurut Sule, guite yang memandu tim Jambi Ekspres bahwa, di China dilarang  memiliki lebih dari satu anak. ‘’Ini merupakan program three in one. Satu istri, satu suami dan satu anak.   Jika seorang PNS ketahuan maka akan diberhentikan dari pegawai. Begitu juga bagi pegawai swasta atau sipil, akan didenda,’’tukas Sule, dengan logat China-nya yang khas. Jika ingin punya banyak anak atau punya banyak istri, Sule dengan bergurau menyebutkan agar pindah saja ke Negara Indonesia.(*****)

Ditulis dalam Cerita, Ekonomi, Hukum & Kriminal, Humor, Keluarga, Kerajinan, Kerja, Kisah Nyata, Liputan, Pemerintahan, Pendidikan, Pengalaman Pribadi, Politik, Religi, Seputar Kita, Travelling, Wartawan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | 5 Comments »

Guru Favorit Jambi Ekspres Melihat Sejarah China

Posted by Jay pada November 3, 2010

 

SEJARAH CHINA : Zainuddin, beserta rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 didampingi langsung oleh Sarkawi, CEO JAmbi Ekspres foto bersama di Tiananmen, Beijing, China.

SEJARAH CHINA : Zainuddin, beserta rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 didampingi langsung oleh Sarkawi, CEO JAmbi Ekspres foto bersama di Tiananmen, Beijing, China.

 

BEIJING, CHINA  20 Oktober 2010. Pesawat Garuda  Indonesia Boing 747 – 400 yang membawa kami dari Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta pada pukul 24.00 WIB tengah malam, Selasa (19/10). Mendarat dengan selamat di Beijing Capital Airport Internasional sekitar pukul 06.15 pagi (20/10) waktu Beijing. Selisih waktu Indonesia dengan China hanya satu jam.  Jarak tempuh Jakarta-Beijing hanya sekitar enam jam.
Cuaca dingin langsung menyambut 22 orang rombongan Jambi Ekspres. Suhu udara saat itu 8 derajat celcius.   Kami yang selama ini hidup di udara tropis langsung dibuat sepeti ayam kedinginan. Untunglah, sebelum berangkat saya sudah memberitahukan kondisi suhu di Beijing. Sehingga mayoritas peserta dalam rombongan tersebut sudah mempersiapkan diri dengan baju tebal, sebo dan sarung tangan. Mereka sudah seperti “bule-bule” dalam film.
Yah, ini adalah tugas akhir saya dalam membawa rombongan guru Favorit Jambi Ekspres 2010  ke China. Selain menjamin kenyamanan peserta saya juga tetap  membuat liputan khusus dalam perjalanan tersebut. WARTAWAN HARUS FLEKSIBEL DAN SERBA BISA.
Oke, lanjut ke cerita perjalanan kami yang baru saja sampai di Beijing. Dipintu keluar bandara Internasional Beijing, seorang pria berwajah putih mata sipit dan bertubuh tegap memegang kertas putih diangkat tinggi-tinggi,  bertuliskan Jambi Ekspres. Dia adalah  Sule, Guide yang mendampingi kami selama di Beijing. Meski Sule asli China, tapi dia fasih berbahasa Indonesia. Bahkan menurut pengakuannya, ia juga merupakan Muslim. Subhanallah, Alhamdulillah. Semoga saja Sule ditetapkan imannya. AMIN.
Begitu mengetahui kami adalah rombongan yang ditunggu, Sule langsung menyambut dengan ramah. Setelah saling memperkenalkan diri, ia kemudian langsung mengajak kami untuk sarapan dan kemudian langsung jalan-jalan. ‘’Waktu kita sangat terbatas. Bagaimana jika kita langsung tour, setelah itu baru chek ini ke hotel,’’tanya Sule kepada kami semua. Tanpa komando, semua peserta yang berjumlah 22 orang tersebut langsung  menjawab setuju.

 

MEJENG : Disela-sela kesibukan bertugas mendampingi guru Favorit Jambi Ekspres ke China, Zainuddin berpose.

MEJENG : Disela-sela kesibukan bertugas mendampingi guru Favorit Jambi Ekspres ke China, Zainuddin berpose.

 

Tujuan pertama kami adalah Tiananmen.  Lokasi ini merupakan simbol utama sejarah perjalanan Negeri Tiongkok hingga menjadi negara modern. Disinilah,  ribuan mahasiswa yang melakukan aksi unjuk rasa pada 4 Juni 1989 dibantai secara keji. Kini setelah 21 tahun peristiwa itu terjadi,  kawasan itu menjadi saksi sejarah China dan menjadi tempat tujuan wisatawan. Untuk sampai ke lokasi bersejarah di Tiongkok ini para turis dan wisatawan harus berjalan hingga lima kilo. Di China  tradisi berjalan kaki merupakan pemandangan yang biasa. Tidak seperti di Indonesia.
Setelah puas melihat lokasi bukti sejarah RRC dan berfoto-foto kami melanjutkan perjalanan wisata ke Forbidden City. Daerah terlarang ini merupakan istana kekaisaran Cina dari Dinasti Ming hingga Dinasti Qing. Terletak di tengah Beijing, Cina. Sekarang bekas rumah kaisar China itu menjadi Museum Istana dengan 1.460 panel relief.
Forbidden City dibangun pada tahun 1406 sampai 1420 oleh Kaisar Yongle, kaisar ke tiga dari Dinasti Ming. Kaisar ini memang terkenal sebagai Scholar Emperor karena tingkat intelegensianya yang tinggi.Kaisar ini pula yang memindahkan ibukota kekaisaran dari Nanjing di Utara ke Beijing sekarang. Oleh karena itu semua direncanakan dari awal oleh Kaisar Yonle ini.
Akhirnya, bangunan ini menjadi pusat pemerintahan dan tempat tinggal resmi kaisar Kerajaan Cina selama 500 tahun. Selama 500 tahun itu pula, kompleks kerajaan ini tidak bisa tersentuh oleh rakyat jelata. Oleh sebab itu dinamakan Forbidden City. Kaisar yang terakhir tinggal di Fobidden City adalah Kaisar Puyi dari Dinasti Qing.
Forbidden City ini luas sekali. Dari jalan raya di depan (Xichang’An Street) masuk melewati gerbang dengan foto Mao Ze Dong. Dari sana masih harus melewati alun-alun kecil di dalam tembok merah. Itu belum masuk Forbidden City. Masih di pelataran. Dari sana sudah terlihat tembok besar merah.Kami yang menggunakan jaket seragam dengan gambar bendera merah putih di bahu tangan membaur dengan ribuan pengunjung lainnya.

 

SANTAI : Zainuddin santai di Forbidden City, Beijing China.

SANTAI : Zainuddin santai di Forbidden City, Beijing China.

 

Menurut Sule, pada zaman dulu, kaisar memiliki banyak istri dan selir. Bahkan kata Sule, istri dan selir raja bisa mencapai 3000 orang. Karena itu didalam istana terdapat 3000 kamar, untuk selir-selirnya. Begitu banyaknya, Kaisar bahkan tidak hafal dengan nama istri dan selirnya. Apalagi dengan anaknya. Wow, bagaimana cara kaisar berhubungan badan. Ahhh, ngak usah dibahas, bikin pusing kepala aja. Yang jelas, hingga sekarang obat-obat China ramuan khaisar sering dijumpai.
Setelah makan siang di restoran Muslim, kami kembali melanjutkan  perjalanan. Kali ini kami  menonton Acrobatic Show. Tontonan yang sangat fantastis dan sayang sekali untuk dilewatkan. Pertunjukan yang ditampilkan adalah kombinasi antara kebudayaan, teknologi dan keahlian. Salah satu pertunjukan yang membuat berdebar jantung ini adalah pertunjukan motor. Mirip seperti pertunjukan roda-roda gila di pasar malam. Bedanya, tempat sepeda motor  balapan lebih kecil dan transparan. Tidak itu saja, jumlah motor yang masuk ke dalam  lingkaran tersebut ada lima unit dan semuanya dalam kondisi ngebut. Pertunjukan selama satu jam setengah itu terasa sangat sebentar. Badan yang letih dan belum mandi tidak lagi terasa capek.  Pertunjukan Acrobatic Show tersebut benar-benar menakjubkan dan mencengangkan kami.
Diluar gedung pertunjukan hari sudah gelap. Kami pun kemudian langsung makan malam di restoran Muslim dan selanjutnya pada pukul 20.00 waktu setempat kami langsung menuju Huidu Hotel, untuk Chek in dan kemudian istirahat.
‘’6,7,8. Jam enam bangun pagi, sholat dan mandi, jam tujuh sarapan, jam delapan kita berangkat untuk melanjutkan tour ke tembok China  dan lain-lain,’’sebut Guid kami Sule memberikan intruksi, kapada kami semua.
Saya pun kembali mempertegas intruksi Sule dengan mengambil microfon di dalam bus yang kami tumpangi. Yah setidaknya agar jangan ada yang telat. Apalagi ini baru hari pertama perjalanan kami. Hmmm. Hidup ini terasa indah jika bermanfaat bagi orang lain.(*****)

Ditulis dalam Cerita, Ekonomi, Hukum & Kriminal, Humor, Keluarga, Kerja, Kisah Nyata, Liputan, Pemerintahan, Pendidikan, Pengalaman Pribadi, Religi, Seputar Kita, Travelling, Wartawan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.