Negara Industri Incar Oksigen Indonesia
ZAMAN sekarang semua perlu duit dan tidak ada yang gratis. Kata-kata ini sudah sering kita dengar. Bahkan ada lagunya. ”Makan perlu duit, mau tidur pake duit, cari kerjaan pake duit, mau beol pake duit, gali kuburan pun pake duit”. Benarkah begitu?.
Saya akan bilang itu benar. Sebab untuk bernafas saja kita harus bayar. Ini sudah ditandai dengan rencana para negara-negara maju yang mulai mengincar oksigen di negeri ini. Maklum karena negeri kita ini termasuk negara produsen O2. Yah itu karena kita kaya akan hutannya.
Belum lama ini Rabu (12/11/2008), Jambi kedatangan tamu dari Australia dan Ingris, Internasional Business Wett Work (IBN) Konsultan, Peter N.Kene dan Investor Carbon Strategic Clobal, Charles Jadkson. Mereka datang untuk membeli Carbon di Jambi atau Carbon Trade.
Gubernur Jambi H Zulkifli Nurdin, sangat menyambut baik investor tersebut. Dan penjualan Carbon Trade tersebut ditindak lanjuti dengan penandatanganan MoU. Gubernur merasa senang karena, yang dijual hanyalah udara alias oksigen dan bentuknyapun semu. Selain itu, dengan penjualan Carbon, hutan di Jambi bisa terjaga kelestariannya.
Ide Carbon Trade atau perdagangan carbon itu merupakan hasil pertemuan 180 negara di Kyoto, Japan,. Desember 1997. Dimana industri-industri yang mengeluarkan CO2, harus membeli atau memiliki pasokan O2 sebagai penyeimbang. Para investor dari Ingris dan Australia menawar USD 10 per ton. Sementara kebutuhan oksigen yang diminta oleh para investor ini masih dikaji, sesuai dengan pengeluaran CO2 industri mereka masing-masing. Demikian juga dengan jumlah oksigen yang didapat dari hutan kita ini. (Per hektar hutan menghasilkan berapa banyak oksigen, kini masih dikaji). Wuh rueeet deh….
Yang jelas Carbon Trade tersebut, menurut saya tidak ada ruginya bagi pemerintah dan masyarakat. Istilah saya, “bisnis yang pasti untung” . Kenapa begitu?. Karena, menjual sesuatu tanpa mengurangi barangnya.
Tapi, dalam hal ini pemerintah, perlu sedikt waspada dan jangan terlena. Sebab, jika terlena bisa-bisa kreatifitas anak bangsa ini akan terhambat. Yah, ini pemikiran saya. Maksudnya begini. Pemerintah, boleh-boleh saja melakukan kerjasama penjualan carbon atau oksigen ke negara maju. Tapi kerjasama itu, jangan terlalu lama. Menurut saya, idealnya kerjasama itu 3-5 tahun saja. Jika dibutuhkan kembali, kerjasama itu bisa diperpanjang. kenapa begitu?.
Seperti saya bilang, jika kontrak kerjasama dibuat terlalu panjang, maka akan membunuh kreativitas anak bangsa dan merugikan negara Indonesia dan Jambi khususnya. Contoh ini sudah banyak terjadi. Baik itu dibidang pengelolaan hutan maupun pertambangan. Saya tidak mau menyebutkan satu persatu, izin atau kerjasama yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah yang jangkawaktunya bisa mencapai 100 tahun. Anda mungkin sudah bisa menebak yang saya maksud.
Lantas, apa yang membuat kreatifitas anak bangsa ini terhambat, jika izin kerjasama tersebut terlalu panjang. Contoh, kerjasama pengelolaan hutan atau kerjasama tambang emas atau timah. Jika izinnya terlalu panjang, tentu anak bangsa ini tidak akan mendapatkan kesempatan lagi untuk menikmati hasil bumi tercinta ini. ”Ketika izinnya habis, potensi alam ini juga sudah habis. Itu misalnya. Hahahaha. Bocor deh”.
Begitu juga dengan oksigen yang kita miliki. Jika kerjasama pembelian oksigen berjangkawaktu panjang, kesempatan saya untuk membuat perusahaan otomotif misalnya, akan terbatas. Kalupun bisa saya harus, beli oksigen di negara lain. ”Yah, mana tahu 10 tahun kedepan saya ingin membuat industri mobil yang bisa terbang seperti film-film. Nah karena sudah ada peraturan internasional, bahwa setiap industri yang mengeluarkan CO2, harus membeli pengimbangnya O2, maka saya harus beli deh oksigen. Sementara oksigen di Jambi sudah dikapling orang bule semua. Gitu deh, maksudnya”
Kembali ke topik utama, bernafas harus bayar ?. Yah, karena manusia dan binatang menghasilkan/mengeluarkan CO2. Itu sih, seperti yg saya dengar waktu sekolah dulu… Dari manapun asalnya CO2 tetap saja merupakan polusi. Tapi CO2 yang dikeluarkan oleh manusia dan binatang ini tidak seberapa. Sebab CO2 yg paling banyak berasal dari industri dan pabrik, serta emisi kendaraan.(*****)
Nah, tulisan diatas hanya sekelumit pemikiran pribadi saya. Sekarang giliran Anda menyalurkan ide dan aspirasi dalam kolom komentar ini :
1. Bagaimana sebaiknya sikap pemerintah menyikapi peluang Carbon Trade ?
2. Siapa yg akan menjaga hutan, tempat lokasi penjualan oksigen tersebut ?
“Ide dan aspirasi yg dimuat dalam kolom komentar akan saya salurkan ke Presiden… hahahahah”.
#TERIMA KASIH ATAS WAKTUNYA#
Komentar Anda