Wartawan Karyamu Kini

Disela sesaknya deadline

Kabut Dingin di Tembok China

Posted by Jay pada November 4, 2010

Disela-sela Study Banding Guru Favorit Jambi Ekspres ke China

 

GREAT WALL : Zainuddin foto bersama sejumlah Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 di tembok China.

GREAT WALL : Zainuddin foto bersama sejumlah Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 di tembok China.

 

BEIJING, CHINA  KAMIS 21 Oktober 2010. Tiba-tiba suara telepon berdering. Dengan bahasa China yang tidak saya pahami, sipenelpon langsung menutup pembicaraan. Saya lihat jam tangan yang tergeletak disamping telepon menunjukan pukul enam pagi. Mata ini masih terasa ngantuk sekali. Saya coba untuk bangkit dari tidur dan menggerak-gerakkan badan. Setelah sholat saya kemudian membangunkan Fahmi dan Robi, teman satu rombongan yang  tidur sekamar dengan saya di Huidu Hotel, Beijing.
Fahmi ternyata mandi lebih dahulu. Temanku yang selengekan ini ternyata lebih rapi dari kami berdua. Saya menyusul kemudian. Setelah mandi dengan menggunakan air panas tubuh ini menjadi terasa lebih segar. Meski aneka makanan banyak berderet di ruang makan hotel. Namun sarapan pagi di hotel tidak dapat diterima oleh lidah melayu seperti kami. Selain takut makanan tak halal. Rasanya juga sedikit aneh. Roti campur telur  jadi kombinasi yang unik pada sarapan kali ini. Segelas kopi menyempurkanan sarapan kali ini.
Sule, sudah menunggu di lobi hotel, dengan jaker kulit warna coklat. ‘’Waktunya sudah molor setengah jam.Ayo, perjalanan kita masih panjang,’’kata Sule, member motivasi.
Baru jam Sembilan semua rombongan siap dan kami langsung berangkat dengan menggunakan bus yang sudah stenbay didepan hotel. Jarak dari hotel ke  Great Wall  atau tembok China, sekitar dua jam. Sepanjang jalan, kami bisa melihat kondisi kota Beijing dan aktifitas penduduknya. Sepanjang jalan, Sule selalu memberikan penjelasan tentang sejarah dan cerita rakyat RRC, yang dulu merupakan daerah terbelakang.

 

GREAT WALL : Zainuddin dan Zulfahmi foto bersama di Tembok China.

GREAT WALL : Zainuddin dan Zulfahmi foto bersama di Tembok China.

 

Sekitar pukul 11.00 waktu setempat kami tiba di tembok China tersebut. Tembok sepanjang 6700 Km tersebut  terletak diatas bukit dengan ketinggian 2000 meter. Dibangun dengan batu gunung dan merupakan peninggalan tentara China dalam mempertahankan Negara.
Hari ini kabut dingin begitu tebal. Jarak pandang hanya berkisar 15 meter saja. Matahari yang sudah menampakkan sinarnya tak mampu menembus bumi. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 11.00 siang waktu Beijing. Tebalnya kabut yang menyelimuti bumi,  tidak menyurutkan niat kami rombongan guru Favorit Jambi Ekspres untuk menelusuri tembok China, yang merupakan satu dari tujuh keajaiban dunia itu.
Baju switer tebal yang membalut tubuh ini sepertinya belum cukup untuk menahan rasa dingin udara Beijing yang saat itu suhu udara mencapai 7 derajat celcius. Kubungkus kepala dengan sebo tebal. Kusarungi jari-jari dengan sarung tangan tebal. Rupanya bukan kami saja dari Indonesia yang kedinginan. Para bule dan penduduk lokal juga merasakan hal yang sama. Ini dapat dilihat dari cara mereka berpakaian. Berbaju tebal selutut  dan mengenakan sarung tangan. Untung saja, saat itu musim salju belum  tiba.
Saya dan 22 rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres yang notabenenya berasal dari Negara tropis seperti ayam kedinginan. Hanya semangat yang membakar jiwa kami sehingga tubuh yang dingin ini menjadi hangat. Bus yang mengantar kami ke Great Wall  berhenti diujung jalan yang sedikit datar. Puluhan bus ada disitu.  Didepannya terdapat gerbang, dengan dua jalur yang dibatasi dengan besi stenlis. Satu persatu pengunjung menunjukan karcis tanda masuk. Kami tak perlu lagi memperlihatkan karcis. Karena Pak Sule, Guide kami sudah berdiri disamping petugas dengan karcis ditangan.
Disebelah kiri pintu masuk terdapat restoran siap saji dengan menu yang masih hangat dan jajanan-jajanan ringan, seperti jagung rebus. Untuk satu jagung rebus hangat hanya seharga 5 Yuans atau  sekitar Rp. 7.500.  Sementara disebelah kanannya terdapat saung-saung peristirahatan dan toilet. Dibagian depan toilet ada sejumlah pelukis yang menjual baju kaus yang siap dilukis sesuai dengan pesanan. Para pembeli biasanya memesan lukisan tembok China kombinasi foto pembeli dilengkapi nama. Cuaca dingin membuat pengunjung banyak yang beser. Apalagi rombongan Indonesia  seperti kami yang hidup diiklim tropis.
Para penjual souvenir khas Tiongkok mulai terlihat saat menaiki tangga Great Wall. Waw, tidak itu saja. Baju khas Tiongkok juga disewa disini. Sekedar untuk berfoto dengan beground tembok China.  Saya tidak tertarik untuk menyewa baju mirip prajurit itu. Saya dan sejumlah rombongan memutuskan untuk terus menaiki tangga kea rah atas. Menurut keyakinan orang Tiongkok, semakin tinggi mendaki tembok, maka semakin tinggi pula cita-citanya dan kesuksesannya.
Sejumlah guru yang ikut dalam rombongan sangat antusias untuk mendaki tembok itu. Tapi tak ada satu pun yang mampu sampai ke puncak. Maklum saja, karena untuk sampai ke puncak, setidaknya butuh waktu jalan kaki selama empat hari bahkan bisa sampai seminggu atau sebulan. Karena panjang tembok itu 6700 Km.

 

PENGOBATAN : Zainuddin, Robi bersama guru  Zulhitmi dan Asrauddin foto bersama di depan pusat pengobatan tradisional China di Beijing.

PENGOBATAN : Zainuddin, Robi bersama guru Zulhitmi dan Asrauddin foto bersama di depan pusat pengobatan tradisional China di Beijing.

 

Setelah hampir dua jam di tembok China, Sule kemudian membawa  kami istirahat makan siang di restoran Muslim. Menjelang pukul tiga sore Sule kemudian membawa kami ke tempat pengobatan tradisoonal Tiongkok. Wah, Sule sang Guide ternyata  pandai mencari peluang. Dia sangat tahu jika kami keletihan, akibat mendaki tangga great wall. Satu bangunan berukuran besar itu ternyata merupakan perusahaan pengobatan ternama di China. Kami 22 orang semuanya mendapatkan pijatan gratis secara masal.  Wah, nikmat sekali. Bisa dipastikan turis dari Indonesia dan Malaysia sering singgah ditempat ini. Buktinya, banyak karyawan disini yang pandai berbahasa Indonesia.
Saya dan sejumlah peserta hanya menikmati pijatan refleksi dan rendaman ramuan air hangat gratis. Hanya beberapa orang saja yang membeli obat dan barang-barang yang ditawarkan. Selain takut tidak cocok, harganya  juga terlalu mahal, dan tidak sesuai dengan kantong saya, yang hanya seorang wartawan ini. Hahahah. ‘’Lain kali saya kesini dengan istri. Dan baru akan membeli prodak anda,’’kilah saya pada sales obat yang menawarkan produknya pada saya. Satu jam lebih kami berada disini. Dan menjelang magrib kami  melanjutkan perjalanan ke Summer Palace. Summer Palace merupakan taman buatan yang sengaja dibangun oleh kaisar untuk istirahat jika musim panas. Dikawasan 300 hektar ini dibentuk menjadi taman yang ditengahnya diciptakan danau buatan. Meski semuanya dibuat, namun kini menjadi salah satu tempat objek wisata ternama di negeri tirai bambu ini.  Melihat kondisi ini, saya langsung terbayang dengan sungai Batanghari yang ada di Jambi dan kurang terkelola.

 

TERLEWATKAN : Inilah salah satu pojok keindahan Summer Palace di Beijing. Sayangnya kami sampai disini pada malam hari sehingga fotonya gelap. Nih foto yg saya ambil dari internet.

TERLEWATKAN : Inilah salah satu pojok keindahan Summer Palace di Beijing. Sayangnya kami sampai disini pada malam hari sehingga fotonya gelap. Nih foto yg saya ambil dari internet.

 

Sayangnya, keindahan alam di Summer Palace ini tak dapat kami nikmati karena hari sudah gelap. Sejumlah peserta termasuk saya menyesali langkah Sule yang membawa kami ke tempat pengobatan sehingga melewatkan tempat yang indah seperti ini. Karena gelap, kondisi summer palace tidak dapat saya abadikan dalam foto. Yah sudah lah, gambaran taman buatan itu saya ambil dari internet aja. Yang penting saya sudah menginjakan kaki ditempat peristirahatan Kaisar China itu. Hehehehe.
Sebelum  makan malam, Sule membawa kami ke tempat shoping. Khusus penjualan giok. Disini saya membeli gelang mata kucing dan gelang untuk istri. Kartu kredit ternyata berlaku disini.
Sebelum pulang ke Hotel, kami kemudian makan malam di restoran Muslim. Lagi-lagi Sule, mengingatkan 6,7,8. Jam enam bangun untuk sholat dan mandi, jam tujuh sarapan dan jam delapan chek out.
Sebuah pelajaran didapat  dari perjalanan hari ini.  Dari cerita Sule, Guide yang membimbing kami selama di Bejing diketahui bahwa pemerintahan RRC melarang aktivitas sepeda motor. Warga Tiongkok lebih suka menggunakan sepeda dan Bus atau kreta api. Tak heran jika diantara mobil-mobil mewah, terdapat parkir sepeda.
Hal lain yang menjadi pelajaran di negeri Tirai Bambu ini, bahwa disepanjang jalan yang bersih dan lebar tersebut tidak ada tukang sapu jalan. Semua kebersihan jalan dilakukan oleh mobil penyedot debu dan mobil penyapu jalan yang setiap jam lalulalang ditengah keramaian aktifitas kota yang akan menjadi tuan rumah pada olimpiade nanti.
Tidak itu saja, menurut Sule, guite yang memandu tim Jambi Ekspres bahwa, di China dilarang  memiliki lebih dari satu anak. ‘’Ini merupakan program three in one. Satu istri, satu suami dan satu anak.   Jika seorang PNS ketahuan maka akan diberhentikan dari pegawai. Begitu juga bagi pegawai swasta atau sipil, akan didenda,’’tukas Sule, dengan logat China-nya yang khas. Jika ingin punya banyak anak atau punya banyak istri, Sule dengan bergurau menyebutkan agar pindah saja ke Negara Indonesia.(*****)

5 Tanggapan to “Kabut Dingin di Tembok China”

  1. notrealsad berkata

    hwaa…enaknya udah ke beijing…
    xixixi…
    aku aja yg udah da d china belum bisa ke beijing…
    semoga liburan musim dingin ini bisa ke sana.amieennn
    hehehe
    salam kenal
    ^^

  2. mala berkata

    woooow asyiknya jln2 ke beijing…….rencana saya bulan februari ini nih……musim dingin atau panas ya disana…? dan apa saja yg perlu dibawa/dipersiapkan.
    trims.

    • Jay berkata

      Maaf saya ngak begitu tahu. Pada februari apakan musim dingin atau panas… Coba tanya ke travel angennya… Yah klo musim dingin saran saya bawa baju parasut, ringan dan bisa menahan tembusnya dingin dan salju..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.