Menembus Tanpa Batas
Posted by Jay pada Oktober 14, 2010
Muara Bungo, Sabtu 2 Oktober 2010
Tiba-tiba mata ini tersentak bangun dari tidur. Jam dinding menunjukan pukul 03.00. Istriku Melly Susanti masih terlelap tidur disamping sebelah kiri, sambil mengapit guling dengan menggunakan kedua tangannya. Suara kipas angin berukuran kecil menderu-deru dikamar berukuran 2,5 x 3 meter yang aku tempati. Meski kamar tersebut sangat kecil namun tetap terlihat rapi. Istriku sengaja menata ruangan kamar yang kecil itu dengan gaya minimalis. Ranjang Nomor 2 diletakkan dibagian samping pintu menghadap jendela. Untuk menghemat tempat, kami sengaja membeli ranjang yang mempunyai laci dibagian bawahnya. Setidaknya laci ini bias dijadikan untuk tempat pakaian ‘dalam’. Disamping jendela, diletakkan lemari dua pintu ukuran sedang. Untuk menghemat tempat, lemari pakaian ini juga sengaja dicari yang juga berfungsi untuk meje rias atau tualet. Selain bisa untuk menyimpan kosmetik dibagian pintu depannya juga terdapat kaca. Yah, maklum lah istriku kalau bersolek bisa sampai setengah jam lebih.
Setelah mengamati sekeliling kamar, aku mulai bergerak turun untuk sholat tahajud, sembari berpikir tentang agenda kegiatan hari ini yang sangat padat dan panjang. Jam 9.00 janji bertemu dengan Nalim, Bupati Merangin di rumah dinasnya di Kota Bangko. Jarak dari Muara Bungo ke Bangko sekitar 70 Km. Jam 16.00 atau jam 4 sore aku janji untuk menghadiri pernikahan karyawanku, Faisal, wartawan Bute Ekspres dengan Fatmawati, yang berlangsung di Pulau Temiang, Desa Tebing Seri, Tebo Ulu. ‘’Hari ini seharusnya aku libur. Tapi… hmmm. Alhamdulillah,’’gumamku dalam hati sembari melangkah kekamar mandi untuk ambil wudhu.
Usai melaksanakan sholat dua rakat, tiba-tiba perasaan ini merasa belum puas. Aku kembali berdiri sembari bertakbir untuk menambah sholat dua rakaat lagi. Setelah salam, aku kemudian langsung berzikir dan menutupnya dengan doa yang ku baca dari buku tuntunan sholat yang selalu tersedia di ruang depan dekat televise ditambah doa bahasa Indonesia yang ku rangkai sendiri. Ku lihat jam dinding warna hitam bertulisan Jambi Ekspres sudah menunjukan pukul 4.00 pagi. ‘’Aku harus istirahat. Hari ini perjalanan sangat panjang,’’cetusku dalam hati sembari melipat sajadah dan bergegas masuk kamar untuk melanjutkan tidur yang indah.
Belum satu jam mata ini terpejam, tiba-tiba suara azan terdengar sayup-sayup dibawa angin. “Allahuakbar-allahuakbar……… Assolatuhairumminannaum”. Setelah meliuk-liukan badan kekiri dan kekanan akupun bangun dan bergegas kekamar mandi untuk mengambil wudhu dan bersiap untuk sholat. Istriku juga melakukan hal yang sama. Bedanya, setelah sholat subuh, aku langsung ngaji sedangkan istriku langsung beres-beres rumah dan mempersiapkan sarapan. Usai ngaji, aku sempatkan untuk jogging dengan cara jalan pagi disepanjang jalan Dipenogoro sekitar 2 Km. Meski jam sudah menunjukan pukul 06.00 WIB namun kabut pagi masih terlihat tebal. Jarak pandang mencapai 200 meter. Tanpa alas kaki aku terus berjalan seorang diri dengan baju oblong setelan celana pendek. Sambil menggerak-gerakkan kakiku terus melangkah menebus kabut yang menutupi jalan aspal. ‘’Subhanallah. Maha besar Allah yang telah menciptakan alam semesta ini dengan sempurna,’’ucapku dalam hati berulangkali, sembari melihat sekeliling. Suara burung pipit dan berenjak terus bersaut-sautan. Meski matahari sudah memancarkan sinarnya, namun kabut pagi itu benar-benar tebal, sehingga mengganggu jarak pandangan. Kodok dan jangkring disepanjang jalan pun ikut bersaut-sautan.
Aku baru tersadar jika hari itu harus pergi ke Bangko menemui Nalim, Bupati Merangin. Ku percepat langkahku untuk segera pulang. Di rumah, sarapan sudah siap diatas meja kayu ukiran Betung. Istriku Melly Susanti sudah mandi. ‘’Cepat pa. Kita sarapan dulu. Antar mama ke pukesmas sebentar. Baru kemudian kita pergi ke Bangko,’’kata istriku.
Yah, sehari sebelumnya aku sudah memberitahukan rencana pergi ke Bangko. Dan istriku bersedia untuk menemani. Setelah semuanya siap, sekitar pukul 7.30 pagi kami pun langsung bergegas pergi dengan menggunakan mobil phanter keluaran 1992 yang ku beli sejak lima tahun lalu. “Alhamdulillah. Meski usia mobil Isuzu ini sudah sangat tua namun banyak sekali jasa yang sudah diberikannya padaku. Ya, Allah berikanlah rezekiMu agar aku bisa mengganti mobilku ini dengan yang lebih layak sebagaimana Engkau memberikan rezeki kepada orang-orang sebelumku,’’gumamku dalam hati sembari membaca bismillahirrohmanirrohim dan dilanjutkan dengan surat Al Fatehah. Brummmmmmmm. Pedal gas ku tekan pelan-pelan dengan kaki kanan, sembari melepaskan kopling dikaki bagian kiri. Mobil hijau tua inipun mulai bergerak dan melaju. Dengan iringan musik HP rongsokan milik Istriku, mobil kupacu dengan kecepatan tinggi. Spido meter menunjukan jarum keangka 100 Km/jam. Jarak Bungo-Bangko sekitar 75 Km. Aku hanya membutuhkan sekitar 45 menit untuk menuju ibukota Merangin tersebut. Asep Nurkamil, GM Merangin Ekspres, sudah mengkondisikan pertemuan ku dengan sang Bupati.
Tiba-tiba Hp yang ada disakuku berdering. ‘’Dari Asep,’’gumamku. Dari informasi temanku ini diketahui bahwa Bupati baru bisa ditemui sekitar pukul 11 siang. Mengetahui kabar tersebut, gas pun kutarik pelan-pelan. ‘’Kasihan mobil tua dipacu kebut-kebut,’’ gumamku sambil mengelus-elus stir yang dibalut dengan kulit warna coklat.
Bangko, 09.30 WIB aku tiba di kantor Merngin Ekspres yang terletak persis dipinggir jalan tiga jalur. Asep, big bos di Kantor tersebut langsung keluar melihat mobil bututku parkir. Dengan penuh ramah ia mengajak duduk untuk menunggu waktu hingga pukul 11 siang.
Setengah jam menjelang jam 11 siang, Asep mengajakku untuk bergegas pergi menuju rumah dinas Nalim. Rumah dinas Bupati Merangin terletak di atas bukit sebelah kiri dari arah Sarolangun, atau sebelah kanan dari arah Bungo. Lokasinya agak menyendiri, namun sangat asri. Dibagian depan rumah utama terdapat bangunan kecil untuk penjagaan. Sekitar empat orang petugas Satpol PP selalu bersiaga siang dan malam di pos berukuran 2 x 2 meter tersebut.
Wajah Asep sepertinya sudah dikenal oleh para penjaga. Karena dengan sedikit mengangkat tangan, Asep kemudian mengajakku untuk masuk kebagian ruangan samping untuk bertemu dengan ajudan Nalim. Setelah sebentar duduk dikursi bagian samping seorang pria berbadan tegap, memanggil Asep dan meminta kami untuk menunggu diruang tamu utama depan. Asep sebenarnya menolak, dengan alasan terlalu formal. Selain itu, tamu yang dijamu dan disambut diruang utama depan biasanya orang-orang besar tertentu. Tapi ajudan berbadan tegap tersebut tetap memaksa, sembari melihat saya yang pura-pura tidak mendengar. Dengan lagak pede saya langsung mengatur tempat duduk biar mirip orang besar. Hahahahaha.
Asep akhirnya kalah. ‘’Ayo bang kita kedepan. Pak Bupati mau nyambut abang di ruangan depan. Abangkan Bos,’’cetus Asep seenaknya sembari melangkah keruangan depan dan langsung masuk kedalam ruangan yang baru saja di buka oleh seorang pria bertubuh sedang sembari mempersilahkan masuk. ‘’Silahkan duduk pak. Bapak masih didalam. Tunggu sebentar yah,’’kata pria setengah baya itu.
Ada dua set kursi tamu di ruang utama tersebut. Keduanya berukuran besar. Satu bermotif ukiran jati. Dan yang lainnya bermotif sofa. Sejumlah toples Kristal warna-warni menghiasi meja tamu tersebut. Dibagian belakang terdapat lemari rek (lemari khas Palembang) berukuran besar.
Kami mengambil duduk dikursi ukiran jati. Duduk dikursi ukiran jati sudah biasa. Tapi duduk dikursi jati rumah orang top sekelas Bupati mungkin baru ini yang pertama. Saya sering bertemu dengan bupati, walikota bahkan gubernur. Baik itu dirumah maupun di kantor. Tapi dijamu diruang utama rumah dinas Bupati, ini pengalaman yang pertama. ‘’Ini mungkin proses untuk menjadi orang besar,’’gumamku dalam hati.
Hanya selang beberapa saat kemudian, Nalim, sang empu rumah keluar dengan menggunakan baju kaus lengan pendek berkerah, motif garis-garis. Setelah berslaman dan cipika-cipiki, iapun mempersilahkan kami untuk duduk. Pembicaraan kami ngalor-ngidul. Dari cerita pemerintahan provinsi Jambi, yang kini tengah mengadakan perombakan kabinet, hingga cerita Merangin dan kondisi politiknya. Bahkan saya sempat memberikan beberapa tips dan saran kepada Bupati untuk menghadapi politik kedepan. Meski hanya merupakan saran yang sederhana, tapi sepertinya selama ini Bupati Merangin ini belum pernah terpikir. Sehingga ia sangat antusias mendengarkan penjelasan saya, seputar tips dan trik politik yang jitu dalam rangka menghadapi Pemilukada kedepan. Saya hanya memberikan contoh-contoh logis. Dan sedikit saya bumbui dengan refrensi dari buku-buku yang ditulis oleh orang-orang top dunia.
Setelah cukup lama bercerita, akhirnya saya mengutarakan maksud kedatangan. Yakni minta bantuan untuk kegiatan Pemilihan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 yang saya ketuai. Anggukan tanda iya langsung disambutnya sembari menangkap kertas putih yang saya pegang dan saya sodorkan kepadanya. ‘’Yah, pasti saya bantu. Nanti Asep tolong dibantu urus,’’kata Nalim meyakinkan.
Setelah maksud dan tujuan diutarakan, kamipun minta izin pulang. Saya langsung keluar melalui pintu depan. Sedangkan Asep diminta untuk menunggu sebentar. Saya memutuskan untuk menunggu dipintu depan, dimana mobil Fortuner sudah hidup dan siap untuk pergi. Selang beberapa saat kemudian, Asep diikuti Nalim sang Bupati, keluar. Untuk yang kesekian kalinya saya berjabatan tangan dengan sang Bupati. ‘’Sepertinya pak Zainuddin bisa jadi konsultan politik saya nih,’’kata Nalim sembari melepas tangan saya.
Perkataan Bupati Merangin itu menurut saya hanyalah sekedar pujian untuk menyenangkan hati saya saja. ‘’Boleh pak. Kapan-kapan kita ngobrol lebih lama lagi,’’jawabku pada Nalim seenaknya. ‘’Yah, kapan-kapan kita ketemu di Bungo atau di Jambi,’’jawab Nalim lagi, sembari melambaikan tangan.
Asep, yang melihat suasana yang begitu hangat tersebut tersenyum senyum. ‘’Ada titipan dari pak Bupati,’’kata Asep berbisik. Akupun tersenyum. ‘’Ah, kamu ini ada-ada saja. Eh, berapa banyak ?,’’tanyaku ikut mengimbangi gurauan Asep.
‘’Serius nih bang. Nanti lah yah di kantor,’’jelas Asep, sembari memacu sepeda motor Honda metiknya.
Oh ya, saya lupa menceritakan, bahwa mobil Phanter ku mogok dak bisa hidup saat mau pergi kerumah dinas bupati. Akhirnya kami putuskan ke rumah bupati menggunakan sepeda motor saja. Yah, mogok karena memang usia mobilku sudah sangat tua untuk perjalanan jauh seperti ini. Istriku Melly Susanti terpaksa menunggu di kantor Merangin Ekspres.
Jam menunjukan pukul 13.00 WIB. Ternyata istri dan anaknya Asep sudah ada di kantor Merangin Ekspres bersama dengan istriku. Kami kemudian makan bersama nasi bungkus yang dibeli oleh Asep. Hmmm. Lap-lup, satu bungkus nasi dengan ayam panggang ku santap habis. Setelah cukup kenyang, akupun minta izin pulang. Kulihat jam Alexander Christine warna coklat ditangan kiriku menunjukan pukul 14.00 WIB.

SILATURRAHMI : Zainuddin menyempatkan diri bertemu dengan Edison, teman sesama di PPWS Jawa Timur dalam perjalanan pulang ke Bungo.
Melihat jam masih cukup siang, kucoba menghubungi Edison, teman satu sekolah saat di PPWS, Ngabar , Jawa Timur. Dia tinggal di Rantau Panjang, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin. Ternyata dia ada ditempat. Aku memutuskan untuk silaturrahmi sebentar di rumah Edison. Ia tinggal di bedeng, ukuran sedang. Karena seorang diri, bedeng tersebut terlihat kotor dan berantakan. ‘’Sekarang bujangan. Istri dan anak di Jambi,’’kata Edison, menyambut saya yang datang.
Beruntung, istriku selalu membawa cukup banyak bekal di dalam mobil. Dua kaleng minuman diturunkan berikut kacang gorengnya. Aku memutuskan untuk sholat zuhur dulu, sebelum berbincang lebih jauh. Setelah sholat, barulah kami bercerita panjang lebar ngalor-ngidul. Setelah cukup puas, akhirnya kami pamitan untuk pulang ke Bungo. Jam menunjukan pukul 15.00 WIB WIB.
Sekitar pukul 16.00 WIB aku baru tiba lagi di Muara Bungo. Rencana pergi ke tempat pernikahan Faisal, sore itu aku undur hingga pukul lima sore. Pak Bustami Bei dan seluruh karyawan Bute Ekspres yang ingin ikut sudah ku hubungi terlebih dahulu tentang penundaan jadwal keberangkatan ke Tebo. Semua memakluminya. Sekira pukul 17.15 atau lima sore, kami bergegas pergi. Kami bertujuh, istriku, pak Bustami beserta istri (ibuk), Badri, Islahuddin, dan Rudi. Sementara, pegawai ADM-ku, Dewi, batal berangkat karena masih masuk kuliah. Jarak dari Muara Bungo ke Pulau Temiang, Desa Tebing Seri, Tebo Ulu sekitar 70 Km. Meski tidak terlalu jauh, tapi karena jalan untuk menuju kesana kecil dan jelek, perjalanan menjadi sangat terasa jauh. Kami baru sampai tujuan satu setengah jam.
Pulau Temiang, Desa Tebing Seri, Tebo Ulu, Kabupaten Tebo, 18.45 WIB. Rumah sederhana itu sudah dipenuhi dengan
tamu. Begitu kami turun Faisal langsung mempersilahkan masuk ke bangunan rumah yang cukup sederhana itu. ‘’Ini rumah orang tua angkatku bang,’’sebut Faisal, sembari memperkenalkan orang tua angkatnya yang sudah duduk didalam rumah.
Aku sangat bersyukur ternyata kami tidak terlambat. Acara baru akan dimulai setelah sholat isya. Kami kemudian disuguhi makan malam. Perut yang memang terasa lapar ini langsung menyantap nasi dengan seluruh lauk yang ada didepan mata.
Setelah semuanya selesai baru kemudian ada utusan dari pihak perempuan datang memberi isyarat bahwa calon pengantin pria sudah bisa datang. Faisal, kemudian masuk kekamar untuk ganti pakaian. Selang sejurus ia kemudian keluar dengan baju jas dan kopiah hitam. Penampilannya kini terlihat lebih gagah dan berwibawa. Kami pun kemudian berjalan secara bergerombolan menuju arah bagian dalam lorong, yang hanya diterangi dengan cahaya lampu rumah dipinggir jalan. ‘’Menurut adat dinisi pernikahan dilakukan dirumah tokoh adat. Bukan dirumah mempelai wanita,’’kata seorang pemuda menjelaskan kepadaku. Rumah mempelai wanita kami lewati, dan terus menembus lorong yang agak remang-remang.
Disudut kiri, rumah sederhana terlihat orang ramai didalamnya. Meski rumah tidak terlalu terang, namun sudah dipastikan didalamnya ada banyak orang yang sudah menunggu. Saya langsung masuk bersama Faisal dan beberapa rombongan lainnya.

MATI LAMPU DI ACARA SAKRAL : Meski hanya dengan menggunakan penerang senter, acara ijab kabul tetap berjalan khidmat, lancar dan sukses.
Sedangkan yang lain, terpaksa hanya bisa melihat dari luar, karena tempat duduk terbatas. Badri, ternyata lupa membawa kamera besar. Untung saja Faisal punya kamera sendiri. Sehingga moment penting dalam hidup Faisal itu bisa tetap diabadikan. Badri sebagai juru jepret, mondar-mandir mencari posisi yang tepat. Sayangnya saat akan memasuki acara inti, yakni ijab Kabul, tiba-tiba lampu mati. Suasana jadi gaduh. Beruntung, para tamu yang hadir banyak membawa senter yang berfungsi sebagai penerang seperti lampu emaergansi. Dengan menggunakan penerangan seadanya, lampu senter, acara sakral ijab Kabul tersebut terus dilanjutkan. Setelah dua kali diucapkan, kemudian terlontar ucapkan ‘’sah-sah, sah-sah”. Pak penghulu langsung menyalami Faisal dan melanjutkan dengan doa dan nasehat perkawinan. Dengan menggunakan genset, lampu kemudian kembali menyala. Kali ini terlihat lebih terang dari sebelumnya. Ternyata daya listrik PLN lebih rendah dari pada genset.
Acara pernikahanpun ditutup dengan ramah tamah dan makan malam dengan lauk khusus kari kambing. Wow mantap. Badan mulai terasa pegal-pegal. Saya melirik kesekitar. ‘’Hmm. Tidak ada yang bisa bawa mobil. Terpaksa aku harus nyetir sendiri,’’ gumamku dalah hati, sembari melihat jam yang sudah menunjukan pukul 21.30 WIB. Aku pun kemudian memberikan isyarat kepada Faisal. Kamipun kemudian pamitan pulang ke Bungo.
Alhamdulillah mobilku tidak mogok dan bias lancer-lancar saja menemani perjalanan kami. Kami baru tiba di kota Muara Bungo sekitar pukul 22.45 WIB. Badan ini serasa remuk dan ingin secepatnya berbaring di tempat tidur. Perjalanan panjang yang melelahkan. ‘’Hari ini aku sudah berjalan 300 Km menembus tiga kabupaten dalam moment yang berbeda-beda. Ya Allah terima kasih atas kesehatan dan rezeki yang telah engkau berikan. Andai saja badan ini sakit, atau andai saja aku tidak memiliki mobil, tentu saja aku tidak bisa pergi. Terima kasih Ya Allah,’’gumamku dalam hati, sembari berpikir bahwa besok pagi ada janji dengan Sudirman Zaini, Wakil Bupati Bungo, untuk sebuah liputan sekaligus lobi iklan Cabup Bungo.Kehidupan Wartawan penuh warna. Bisa menembus tanpa batas. (****)
Share this:
Like this:
Entri ini dituliskan pada Oktober 14, 2010 pada 12:04 pm dan disimpan dalam Cerita, Ekonomi, Hukum & Kriminal, Humor, Keluarga, Kerja, Kesehatan, Kisah Nyata, Liputan, Pemerintahan, Pendidikan, Pengalaman Pribadi, Politik, Religi, Seputar Kita, Travelling, Wartawan. Bertanda: Bungo, bupati Merangin, Bute Ekspres, Guru Favorit, Jawa Timur, Konsulrtan politik, Merangin Ekspres, Nalim, Ngabar, Nikah, PPWS, Pulau Temiang, Tebo, Zainuddin. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.






isdiyanto berkata
tetap semangat bang jay…