Wartawan Karyamu Kini

Disela sesaknya deadline

Arsip untuk Oktober, 2010

Perjuangan Menuju Finish Tiongkok

Posted by Jay pada Oktober 22, 2010

 

CHINA : Zainuddin beserta Kru Jambi Ekspres dan guru Favorit Jambi 2010 tiba di Beijing Capital Airport

CHINA : Zainuddin beserta Kru Jambi Ekspres dan guru Favorit Jambi 2010 tiba di Beijing Capital Airport

 

 

CHINA : Zainuddin beserta Kru Jambi Ekspres dan guru Favorit Jambi 2010 tiba di Beijing Capital Airport

CHINA : Zainuddin beserta Kru Jambi Ekspres dan guru Favorit Jambi 2010 tiba di Beijing Capital Airport

 

“Tendang ke gelanggang mesti seorang pantang mundur sebelum menang”. Semboyan ini saya dapat 20 tahun lalu. Saat sekolah di PPWS Ngabar, Jawa Timur.  Semboyan sederhana ini bangkit menjadi kenyataan dalam hidup saya saat ini. Tepatnya, saat saya menjadi Ketua Panitia Pelaksana Pemilihan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 se-Provinsi Jambi.
Begini ceritanya. Saya bekerja sebagai salah satu karyawan di Jambi Ekspres, bagian redaksi dengan jabatan Ass Redaktur. Tugas saya sebagai editor berita sebelum naik cetak. Salah satu kegiatan rutin di perusahaan tempat saya bekerja adalah pemilihan Guru Favorit (GF).  Sudah lima kali kegiatan ini dilaksanakan. Dan  2010 ini merupakan yang ke-6 kalinya. Saya ditunjuk sebagai ketua pelaksana GF 2010.  Bos saya Sarkawi, memberi pendelegasian penuh untuk menyusun kegiatan ini. ‘’Terserah kamu saja dik. Kamu atur aja,’’kata Sarkawi saat saya tanya tentang hadiah apa yang akan diberi kepada guru yang nanti terpilih.
Sebelumnya, lima tahun berturut-turut para guru yang terpilih diajak pergi jalan-jalan atau study banding ke Singapura, Malaysia atau ke Thailand.

 

TIANANMEN : Para Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 beserta CEO Jambi Ekspres Sarkawi dan ketua Panitia Zainuddin foto bersama di Tianmen, Beijing.

TIANANMEN : Para Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 beserta CEO Jambi Ekspres Sarkawi dan ketua Panitia Zainuddin foto bersama di Tianmen, Beijing.

 

‘’Bagaimana  jika guru yang terpilih nanti kita bawa ke Mesir atau China,’’tanyaku pada Pak Bos Sarkawi, seraya berpikir dalam hati untuk membuat gebrakan yang beda dari tahun sebelumnya.
Dari dua pilihan yang aku tawarkan tersebut pak Bos lebih condong memilih ke China dan Hongkong. ‘’Terserah kamu dik. Ke China dan Hongkong boleh juga. Kamu atur aja. Buat rancangannya,’’kata pak Bos sembari menepuk punggungku memberi semangat.
Kali ini ucapan Bos benar-benar menantang nyali dan kemampuanku dalam merancang dan meminij kepanitiaan ini. ‘’Oke Bos, secepatnya akan saya buat rancangannya dan nanti akan saya presentasekan di rapat,’’jawabku pada pak Bos.
Saat itu sekitar bulan September 2009 dan memasuki bulan puasa ramadhan. Dalam waktu satu minggu draf rancangan kegiatan Pemilihan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 berhasil saya buat. China dan Hongkong adalah hadiah yang akan diberikan kepada 15 guru yang nanti terpilih.   Total dana kegiatan sebesar 900 Juta lebih.
Dalam membuat rancangan saya dibantu dua orang teman dekat, Roby Harja dan Hono Prihartantio. Roby saya tempatkan sebagai sekretaris. Sedangkan Hono sebagai coordinator tim kreatif. Keduanya juga merupakan karyawan Jambi Ekspres.  Rancangan yang saya presentasekan langsung disetujui oleh pak Bos dalam rapat umum. Hanya satu item yang dirubah. Yakni ; untuk uang saku dari @Rp. 3 juta menjadi @ Rp. 7 juta. Alasan pak Bos, Rp  3 Juta tidak cukup untuk uang saku guru ke China dan Hongkong. Dalam rancangan itu saya juga melampirkan susunan panitia. Jumlah panitia yang terlibat mencapai 20-an orang. Pak Bos pun mengintruksikan kepada seluruh karyawan Jambi Ekspres untuk membantu secara total  kegiatan tersebut. ‘’Kegiatan ini sangat besar dan bagus. Semuanya saya perintahkan untuk membantu kesuksesan kegiatan ini,’’kata pak Bos dalam rapat.
Cerita diatas terjadi setahun yang lalu. Kini menjelang akhir kegiatan atau saya sebut menjelang masuk finish saya praktis ditinggal sendirian. Kondisi ini sudah mulai saya rasakan sejak berjalannya tahap pertama dari empat tahapan yang saya buat. Tahap pertama adalah sosialisasi dan penjaringan peserta. Roby setelah lebaran Idul Fitri tiba-tiba menyatakan pensiun dini  dari perusahaan Jambi Ekspres. Hono entah kenapa mulai sibuk dengan kegiatannya sendiri sehingga hampir separuh kagiatan roud show di Kabupaten/kota tidak diikutinya.

 

TIONGKOK : Zainuddin saat berada di Beijing Capital Airport, mendampingi Guru Favorit Jambi Ekspres 2010.

TIONGKOK : Zainuddin saat berada di Beijing Capital Airport, mendampingi Guru Favorit Jambi Ekspres 2010.

 

Pantang mundur sebelum menang adalah prinsipku.  Karena itu, meski nyaris tinggal sendirian aku tidak akan mundur dalam menjalankan tugas ini. Menyelesaikan roud show di seluruh kabupaten/kota. Melakukan penjaringan dari tahap dua hingga empat. Hingga ngelobi untuk mencari dana ke semua kabupaten/kota dan perusahaan-perusahaan.
Istilah lomba lari, kini aku sudah memasuki putaran terakhir atau sudah memberikan hadiah utama bagi 14 guru Favorit Jambi Ekspres yang terpilih untuk study banding ke China dan Hongkong. Alhamdulillah, aku ikut mendampingi langsung perjalanan ke negeri Tirai Bambu tersebut. Tinggal selangkah lagi aku akan menuju ‘’finish’’. Semoga saja 14  guru Favorit Jambi Ekspres 2010 yang saya bawa ke China dan Hingkong mendapatkan kepuasan dalam perjalanan. Selamat pergi dan selamat pulang tanpa ada halangan satu pun. Nantikan tulisan saya sepanjang perjalanan di Tiongkok bersama guru favorit Jambi Ekspres 2010.(***)

Ditulis dalam Cerita, Ekonomi, Humor, Keluarga, Kerja, Kisah Nyata, Liputan, Pemerintahan, Pendidikan, Pengalaman Pribadi, Politik, Religi, Seputar Kita, Travelling, Wartawan | Bertanda: , , , , , , , , | 4 Komentar »

Menembus Tanpa Batas

Posted by Jay pada Oktober 14, 2010

Muara Bungo, Sabtu 2 Oktober 2010

 

WARTAWAN NGAJI

WARTAWAN JUGA PERLU QURAN: Zainuddin, membaca Alquran sebelum menjalankan aktifitasnya

 

Tiba-tiba mata ini tersentak bangun dari tidur. Jam dinding menunjukan pukul 03.00.  Istriku Melly Susanti masih terlelap tidur disamping sebelah kiri, sambil mengapit guling dengan menggunakan kedua tangannya. Suara kipas angin berukuran kecil menderu-deru dikamar berukuran 2,5 x 3 meter yang aku tempati. Meski kamar tersebut sangat kecil namun tetap terlihat rapi. Istriku sengaja menata ruangan kamar yang kecil itu dengan gaya minimalis. Ranjang Nomor 2 diletakkan dibagian samping pintu menghadap jendela. Untuk menghemat tempat, kami sengaja membeli ranjang yang mempunyai laci dibagian bawahnya. Setidaknya laci ini bias dijadikan untuk tempat pakaian ‘dalam’. Disamping jendela, diletakkan lemari dua pintu ukuran sedang. Untuk menghemat tempat, lemari pakaian ini juga sengaja dicari yang juga berfungsi untuk meje rias atau tualet. Selain bisa  untuk menyimpan kosmetik dibagian pintu depannya juga terdapat kaca. Yah, maklum lah istriku kalau bersolek bisa sampai setengah jam lebih.
Setelah mengamati sekeliling kamar, aku mulai bergerak turun untuk sholat tahajud, sembari berpikir tentang agenda kegiatan hari ini yang sangat padat dan panjang. Jam 9.00 janji bertemu dengan Nalim, Bupati  Merangin di rumah dinasnya di Kota Bangko. Jarak dari Muara Bungo ke Bangko sekitar 70 Km. Jam 16.00 atau jam 4 sore aku janji untuk menghadiri pernikahan karyawanku, Faisal, wartawan Bute Ekspres dengan Fatmawati, yang berlangsung di Pulau Temiang, Desa Tebing Seri, Tebo Ulu. ‘’Hari ini seharusnya aku libur. Tapi… hmmm. Alhamdulillah,’’gumamku dalam hati sembari melangkah kekamar mandi untuk ambil wudhu.
Usai melaksanakan sholat dua rakat, tiba-tiba perasaan ini merasa belum puas.  Aku kembali berdiri sembari bertakbir untuk menambah sholat dua rakaat lagi.  Setelah salam, aku kemudian langsung berzikir dan menutupnya dengan doa yang ku baca dari buku tuntunan sholat yang selalu tersedia di ruang depan dekat televise ditambah doa bahasa Indonesia yang ku rangkai sendiri.  Ku lihat jam dinding warna hitam bertulisan Jambi Ekspres sudah menunjukan pukul 4.00 pagi. ‘’Aku harus istirahat. Hari ini perjalanan sangat panjang,’’cetusku dalam hati sembari melipat sajadah dan bergegas masuk kamar untuk melanjutkan tidur yang indah.
Belum satu jam mata ini terpejam, tiba-tiba suara azan terdengar sayup-sayup dibawa angin. “Allahuakbar-allahuakbar……… Assolatuhairumminannaum”. Setelah meliuk-liukan badan kekiri dan kekanan akupun bangun dan bergegas kekamar mandi untuk mengambil wudhu dan bersiap untuk sholat. Istriku juga melakukan hal yang sama. Bedanya, setelah sholat subuh, aku langsung ngaji sedangkan istriku langsung beres-beres rumah dan  mempersiapkan sarapan. Usai ngaji, aku sempatkan untuk jogging dengan cara jalan pagi disepanjang jalan Dipenogoro sekitar 2 Km. Meski jam sudah menunjukan pukul 06.00 WIB namun kabut pagi masih terlihat tebal. Jarak pandang mencapai 200 meter. Tanpa alas kaki aku terus berjalan seorang diri dengan baju oblong setelan celana pendek. Sambil  menggerak-gerakkan kakiku terus melangkah menebus kabut yang menutupi jalan aspal. ‘’Subhanallah. Maha besar Allah yang telah menciptakan alam semesta ini dengan sempurna,’’ucapku dalam hati berulangkali, sembari melihat sekeliling. Suara burung pipit dan berenjak terus bersaut-sautan. Meski matahari sudah memancarkan sinarnya, namun kabut pagi itu benar-benar tebal, sehingga mengganggu jarak pandangan. Kodok dan jangkring disepanjang jalan pun ikut bersaut-sautan.
Aku baru tersadar jika hari itu harus pergi ke Bangko menemui Nalim, Bupati Merangin. Ku percepat langkahku untuk segera pulang.  Di rumah, sarapan sudah siap diatas meja kayu ukiran Betung. Istriku Melly Susanti sudah mandi. ‘’Cepat pa. Kita sarapan dulu. Antar mama ke pukesmas sebentar. Baru kemudian kita pergi ke Bangko,’’kata istriku.

 

Zainuddin, menjalani tugas luar kota dengan ditemani Istri

JADI PEMBALAP : Zainuddin, menjalani tugas luar kota dengan ditemani Istri.

 

Yah, sehari sebelumnya aku sudah memberitahukan rencana pergi ke Bangko. Dan istriku bersedia untuk menemani. Setelah semuanya siap, sekitar pukul 7.30 pagi kami pun langsung bergegas pergi dengan menggunakan mobil phanter keluaran 1992 yang ku beli sejak lima tahun lalu. “Alhamdulillah. Meski usia mobil Isuzu ini sudah sangat tua namun banyak sekali jasa yang sudah diberikannya padaku. Ya, Allah berikanlah rezekiMu agar aku bisa mengganti mobilku ini dengan yang lebih layak sebagaimana Engkau memberikan rezeki kepada orang-orang sebelumku,’’gumamku dalam hati sembari membaca bismillahirrohmanirrohim dan dilanjutkan dengan surat Al Fatehah. Brummmmmmmm. Pedal gas ku tekan pelan-pelan dengan kaki kanan, sembari melepaskan kopling dikaki bagian kiri. Mobil hijau tua inipun mulai bergerak dan melaju. Dengan iringan musik HP rongsokan milik Istriku, mobil kupacu dengan kecepatan tinggi. Spido meter menunjukan jarum keangka 100 Km/jam. Jarak Bungo-Bangko sekitar 75 Km. Aku hanya membutuhkan sekitar 45 menit untuk menuju ibukota Merangin tersebut. Asep Nurkamil, GM Merangin Ekspres, sudah mengkondisikan pertemuan ku dengan sang Bupati.
Tiba-tiba Hp yang ada disakuku berdering. ‘’Dari Asep,’’gumamku. Dari informasi temanku ini diketahui bahwa Bupati baru bisa ditemui sekitar pukul 11 siang. Mengetahui kabar tersebut, gas pun kutarik pelan-pelan. ‘’Kasihan mobil tua dipacu kebut-kebut,’’ gumamku sambil mengelus-elus stir yang dibalut dengan kulit warna coklat.
Bangko,  09.30 WIB aku tiba di kantor Merngin Ekspres yang terletak persis dipinggir jalan tiga jalur. Asep, big bos di Kantor tersebut langsung keluar melihat mobil bututku parkir. Dengan penuh ramah ia mengajak duduk untuk menunggu waktu hingga pukul 11 siang.

 

AKRAB : Zainuddin bersama Nalim, Bupati Merangin.

AKRAB : Zainuddin bersama Nalim, Bupati Merangin.

 

Setengah jam menjelang jam 11 siang, Asep mengajakku  untuk bergegas pergi menuju rumah dinas Nalim. Rumah dinas Bupati Merangin terletak di atas bukit sebelah kiri dari arah Sarolangun, atau sebelah kanan dari arah Bungo. Lokasinya agak menyendiri, namun  sangat asri.  Dibagian depan rumah utama terdapat bangunan kecil untuk penjagaan. Sekitar empat orang petugas Satpol PP selalu bersiaga siang dan malam di pos berukuran 2 x 2 meter tersebut.
Wajah Asep sepertinya sudah dikenal oleh para penjaga. Karena dengan sedikit mengangkat tangan, Asep kemudian mengajakku untuk masuk kebagian ruangan  samping untuk bertemu dengan ajudan Nalim. Setelah sebentar duduk dikursi bagian samping seorang pria berbadan tegap, memanggil Asep dan   meminta kami untuk menunggu diruang tamu utama depan. Asep sebenarnya menolak, dengan alasan terlalu formal. Selain itu, tamu yang dijamu dan disambut diruang utama depan biasanya orang-orang besar tertentu. Tapi ajudan berbadan tegap tersebut tetap memaksa, sembari melihat saya yang pura-pura tidak mendengar. Dengan lagak pede saya langsung mengatur tempat duduk biar mirip orang besar. Hahahahaha.
Asep akhirnya kalah. ‘’Ayo bang kita kedepan. Pak Bupati mau nyambut abang di ruangan depan. Abangkan Bos,’’cetus Asep seenaknya sembari melangkah keruangan depan dan langsung masuk kedalam ruangan yang baru saja di buka oleh seorang pria bertubuh sedang sembari mempersilahkan masuk. ‘’Silahkan duduk pak. Bapak masih didalam. Tunggu sebentar yah,’’kata pria setengah baya itu.
Ada dua set kursi tamu di ruang utama tersebut. Keduanya berukuran besar. Satu bermotif ukiran jati. Dan yang lainnya bermotif sofa. Sejumlah toples Kristal warna-warni menghiasi meja tamu tersebut.   Dibagian belakang terdapat lemari rek (lemari khas Palembang) berukuran besar.
Kami mengambil duduk dikursi ukiran jati.  Duduk dikursi ukiran jati sudah biasa. Tapi duduk dikursi  jati rumah orang top sekelas Bupati mungkin baru ini yang pertama. Saya sering bertemu dengan bupati, walikota bahkan gubernur. Baik itu dirumah maupun di kantor. Tapi dijamu diruang utama rumah dinas Bupati, ini pengalaman yang pertama. ‘’Ini mungkin proses untuk menjadi orang besar,’’gumamku dalam hati.

 

SERIUS : Zainuddin, akrab dengan Nalim, Bupati Merangin dalam membahas politik Jambi kedepan

SERIUS : Zainuddin, akrab dengan Nalim, Bupati Merangin dalam membahas politik Jambi kedepan

 

Hanya selang beberapa saat kemudian, Nalim, sang empu rumah keluar dengan menggunakan baju kaus lengan pendek berkerah, motif garis-garis. Setelah berslaman dan cipika-cipiki,   iapun mempersilahkan kami untuk duduk. Pembicaraan kami ngalor-ngidul. Dari cerita pemerintahan provinsi Jambi, yang kini tengah mengadakan perombakan kabinet, hingga cerita Merangin dan kondisi politiknya. Bahkan saya sempat memberikan beberapa tips dan saran kepada Bupati untuk menghadapi politik kedepan. Meski hanya merupakan saran yang sederhana, tapi sepertinya selama ini Bupati Merangin ini belum pernah terpikir. Sehingga ia sangat antusias mendengarkan penjelasan saya, seputar tips dan trik politik yang jitu dalam rangka menghadapi Pemilukada kedepan. Saya hanya memberikan contoh-contoh logis. Dan sedikit saya bumbui dengan refrensi dari buku-buku yang ditulis oleh orang-orang top dunia.
Setelah cukup lama bercerita, akhirnya saya mengutarakan maksud  kedatangan. Yakni minta bantuan untuk kegiatan Pemilihan Guru Favorit Jambi Ekspres 2010 yang saya ketuai. Anggukan tanda iya langsung disambutnya sembari menangkap kertas putih yang saya pegang dan saya sodorkan kepadanya. ‘’Yah, pasti saya bantu. Nanti Asep tolong dibantu urus,’’kata Nalim meyakinkan.
Setelah maksud dan tujuan diutarakan, kamipun minta izin pulang. Saya langsung keluar melalui pintu depan. Sedangkan Asep diminta untuk menunggu sebentar. Saya memutuskan untuk menunggu dipintu depan, dimana mobil Fortuner sudah hidup dan siap untuk pergi.   Selang beberapa saat kemudian, Asep diikuti Nalim sang Bupati, keluar. Untuk yang kesekian kalinya saya berjabatan tangan dengan sang Bupati. ‘’Sepertinya pak Zainuddin bisa jadi konsultan politik saya nih,’’kata Nalim sembari melepas tangan saya.
Perkataan Bupati Merangin itu menurut saya hanyalah sekedar pujian untuk menyenangkan hati saya saja. ‘’Boleh pak. Kapan-kapan kita ngobrol lebih lama lagi,’’jawabku pada Nalim seenaknya. ‘’Yah, kapan-kapan kita ketemu di Bungo atau di  Jambi,’’jawab Nalim lagi, sembari melambaikan tangan.
Asep, yang melihat suasana yang begitu hangat tersebut tersenyum senyum. ‘’Ada titipan dari pak Bupati,’’kata Asep berbisik. Akupun tersenyum. ‘’Ah, kamu ini ada-ada saja. Eh, berapa banyak ?,’’tanyaku ikut mengimbangi gurauan Asep.
‘’Serius nih bang. Nanti lah yah di kantor,’’jelas Asep, sembari memacu sepeda motor Honda metiknya.
Oh ya,  saya lupa menceritakan, bahwa mobil Phanter ku mogok dak bisa hidup saat mau pergi kerumah dinas bupati. Akhirnya kami putuskan ke rumah bupati menggunakan sepeda motor saja. Yah, mogok karena memang usia mobilku sudah sangat tua untuk perjalanan jauh seperti ini. Istriku Melly Susanti terpaksa menunggu di kantor Merangin Ekspres.
Jam menunjukan pukul 13.00 WIB. Ternyata istri dan anaknya Asep sudah ada di kantor Merangin Ekspres bersama dengan istriku.  Kami kemudian makan bersama nasi bungkus yang dibeli oleh Asep. Hmmm. Lap-lup, satu bungkus nasi dengan ayam panggang ku santap habis.   Setelah cukup kenyang, akupun minta izin pulang. Kulihat jam Alexander Christine warna coklat ditangan kiriku menunjukan pukul 14.00 WIB.

 

SILATURRAHMI : Zainuddin menyempatkan diri bertemu dengan Edison di Rantau Panjang dalam perjalanan pulang ke Bungo.

SILATURRAHMI : Zainuddin menyempatkan diri bertemu dengan Edison, teman sesama di PPWS Jawa Timur dalam perjalanan pulang ke Bungo.

 

Melihat jam masih cukup siang, kucoba menghubungi Edison, teman satu sekolah saat di PPWS, Ngabar , Jawa Timur. Dia tinggal di Rantau Panjang, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin.  Ternyata dia ada ditempat. Aku memutuskan untuk silaturrahmi sebentar di rumah Edison. Ia tinggal di bedeng, ukuran sedang. Karena seorang diri, bedeng tersebut terlihat kotor dan berantakan. ‘’Sekarang bujangan. Istri dan anak di Jambi,’’kata Edison, menyambut saya yang datang.
Beruntung, istriku selalu membawa cukup banyak bekal di dalam mobil. Dua kaleng minuman diturunkan berikut kacang gorengnya. Aku memutuskan untuk sholat zuhur dulu, sebelum berbincang lebih jauh. Setelah sholat, barulah kami bercerita panjang lebar ngalor-ngidul. Setelah cukup puas, akhirnya kami pamitan untuk pulang ke Bungo. Jam menunjukan pukul 15.00 WIB WIB.
Sekitar pukul 16.00 WIB aku baru tiba lagi di Muara Bungo. Rencana pergi ke tempat pernikahan Faisal, sore itu aku undur hingga pukul lima sore. Pak Bustami Bei dan seluruh karyawan Bute Ekspres yang ingin ikut sudah ku hubungi terlebih dahulu tentang penundaan jadwal keberangkatan ke Tebo. Semua memakluminya. Sekira pukul 17.15 atau lima sore, kami bergegas pergi. Kami bertujuh, istriku, pak Bustami beserta istri (ibuk), Badri, Islahuddin, dan Rudi. Sementara, pegawai ADM-ku, Dewi,  batal berangkat karena masih masuk kuliah. Jarak dari Muara Bungo ke  Pulau Temiang, Desa Tebing Seri, Tebo Ulu sekitar 70 Km. Meski tidak terlalu jauh, tapi karena jalan untuk menuju kesana kecil dan jelek, perjalanan menjadi sangat terasa jauh. Kami baru sampai tujuan satu setengah jam.

Pulau Temiang, Desa Tebing Seri, Tebo Ulu, Kabupaten  Tebo, 18.45 WIB. Rumah sederhana itu sudah dipenuhi dengan

 

PERNIKAHAN : Zainuddin mendampingi Faisal dalam perjalanan menuju tempat pernikahan.

PERNIKAHAN : Zainuddin mendampingi Faisal dalam perjalanan menuju tempat pernikahan.

 

tamu. Begitu kami turun Faisal langsung mempersilahkan masuk ke bangunan rumah yang cukup sederhana itu. ‘’Ini rumah orang tua angkatku bang,’’sebut Faisal, sembari memperkenalkan orang tua angkatnya yang sudah duduk didalam rumah.
Aku sangat bersyukur ternyata kami tidak terlambat. Acara baru akan dimulai setelah sholat isya. Kami kemudian disuguhi makan malam. Perut yang memang terasa lapar ini langsung menyantap nasi dengan seluruh lauk yang ada didepan mata.
Setelah semuanya selesai baru kemudian ada utusan dari pihak perempuan datang memberi isyarat bahwa calon pengantin pria sudah bisa datang. Faisal, kemudian masuk kekamar untuk ganti pakaian. Selang sejurus ia kemudian keluar dengan baju jas dan kopiah hitam. Penampilannya kini terlihat lebih gagah dan berwibawa. Kami pun kemudian berjalan secara bergerombolan menuju arah bagian  dalam lorong, yang hanya diterangi dengan cahaya lampu rumah dipinggir jalan. ‘’Menurut adat dinisi pernikahan dilakukan dirumah tokoh adat. Bukan dirumah mempelai wanita,’’kata seorang pemuda menjelaskan kepadaku. Rumah mempelai wanita kami lewati, dan terus menembus lorong yang agak remang-remang.
Disudut kiri,  rumah sederhana terlihat orang ramai didalamnya. Meski rumah tidak terlalu terang, namun sudah dipastikan didalamnya ada banyak orang yang sudah menunggu.  Saya langsung masuk bersama Faisal dan beberapa rombongan lainnya.

 

SUAMI ISTRI : Faisal dan Fatmawati memperlihatkan buku nikah usai acara ijab kabul.

SUAMI ISTRI : Faisal dan Fatmawati memperlihatkan buku nikah usai acara ijab kabul.

 

 

SAKRAL : Meski hanya dengan menggunakan penerang senter, acara ijab kabul tetap berjalan khidmat, lancar dan sukses.

MATI LAMPU DI ACARA SAKRAL : Meski hanya dengan menggunakan penerang senter, acara ijab kabul tetap berjalan khidmat, lancar dan sukses.

 

Sedangkan yang lain, terpaksa hanya bisa melihat dari luar, karena tempat duduk terbatas. Badri, ternyata lupa membawa kamera besar. Untung saja Faisal punya kamera sendiri. Sehingga moment penting dalam hidup Faisal itu bisa tetap diabadikan. Badri sebagai juru jepret, mondar-mandir mencari posisi yang tepat.  Sayangnya saat akan memasuki acara inti, yakni ijab Kabul, tiba-tiba lampu mati. Suasana jadi gaduh. Beruntung, para tamu yang hadir banyak membawa senter yang berfungsi sebagai penerang seperti lampu emaergansi. Dengan menggunakan penerangan seadanya,  lampu senter,  acara sakral ijab Kabul tersebut terus dilanjutkan. Setelah dua kali diucapkan, kemudian terlontar ucapkan ‘’sah-sah, sah-sah”. Pak penghulu langsung menyalami Faisal  dan melanjutkan dengan doa dan nasehat perkawinan. Dengan menggunakan genset, lampu kemudian kembali menyala. Kali ini terlihat lebih terang dari sebelumnya. Ternyata daya listrik PLN lebih rendah dari pada genset.
Acara pernikahanpun ditutup dengan ramah tamah dan makan malam dengan lauk khusus kari kambing. Wow mantap. Badan mulai terasa pegal-pegal. Saya melirik kesekitar. ‘’Hmm. Tidak ada yang bisa bawa mobil. Terpaksa aku harus nyetir sendiri,’’ gumamku dalah hati, sembari melihat jam yang sudah menunjukan pukul 21.30 WIB.  Aku pun kemudian memberikan isyarat kepada Faisal. Kamipun kemudian pamitan pulang ke Bungo.
Alhamdulillah mobilku tidak mogok dan bias lancer-lancar saja menemani perjalanan kami. Kami baru tiba di kota Muara Bungo sekitar pukul 22.45 WIB. Badan ini serasa remuk dan ingin secepatnya berbaring di tempat tidur. Perjalanan panjang yang melelahkan. ‘’Hari ini aku sudah berjalan 300 Km menembus tiga kabupaten dalam moment yang berbeda-beda. Ya Allah terima kasih atas kesehatan dan rezeki yang telah engkau berikan. Andai saja badan ini sakit, atau andai saja aku tidak memiliki mobil, tentu saja aku tidak bisa pergi. Terima kasih Ya Allah,’’gumamku dalam hati, sembari berpikir bahwa besok pagi ada janji dengan Sudirman Zaini, Wakil Bupati Bungo, untuk sebuah liputan sekaligus lobi iklan Cabup Bungo.Kehidupan Wartawan penuh warna. Bisa menembus tanpa batas. (****)

Ditulis dalam Cerita, Ekonomi, Hukum & Kriminal, Humor, Keluarga, Kerja, Kesehatan, Kisah Nyata, Liputan, Pemerintahan, Pendidikan, Pengalaman Pribadi, Politik, Religi, Seputar Kita, Travelling, Wartawan | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar »

Menutup Wawancara Dengan Lobi

Posted by Jay pada Oktober 1, 2010

SELAIN harus pandai mengejar berita untuk menghimpun data dan  menulisnya  menjadi bacaan yang enak. Saya juga dituntut untuk memiliki kemampuan lain. Yakni harus juga pandai melobi bahkan menguasai administrasi.  Bekal pendidikan organisasi saat sekolah di Ngabar, Jawa Timur kini menjadi sangat penting. Maklum saja, karena saat ini saya tidak hanya sebagai wartawan Jambi Ekspres (JE) tapi juga menjabat sebagai GM sekaligus Pimred harian pagi Bute Ekspres (BE).
Hari itu, menjelang pukul 05.00 pagi Bungo diguyur hujan. Suara gemuruh diatas seng atap bedeng yang aku kontrak semakin lama semakin memekakkan telingga. Hujan turun makin deras.  Ku coba bangkit dari tidur dan mengambil wudhu untuk selanjutnya shalat subuh, kemudian berdoa dan membaca Al Quran yang sejak bulan puasa dulu belum pernah aku tamatkan.  Inilah penyesalanku selama sekolah di pondok pesantren Moderen.  Aku tidak pernah dituntun dan dibimbing untuk membaca Al Quran yang baik, benar dan fasih. Beruntung, sebelum menuntut ilmu di pulau Jawa, saat masih SD aku sudah sedikit dibekali pelajaran Alquran oleh guru ngajiku di Mushala. Namanya Ibu Sol. Wanita bertubuh kecil dan kurus itu   takkan pernah kulupakan jasanya. Dia merupakan wanita yang sangat penyabar. Selain diajarkan membaca Al Quran, kami juga diajarkan bagaimana sholat yang benar, baik cara gerak maupun bacaanya.

BUNGO : Santai dengan menghirup kopi menjelang berangkat kerja.

BUNGO : Saat santai dengan menghirup kopi menjelang berangkat kerja.

Setelah selesai membaca Al Quran, saya langsung mempersiapkan diri untuk berangkat kerja. Setelah sebelumnya melakukan olahraga kecil, rilek dengan membaca buku,  mandi  dan sarapan pagi sajian istri. Semangkuk mie plus telur dan sepiring nasi lengkap dengan sambal. Bersama istri yang juga sudah lengkap dengan pakaian dinasnya kami menyantap sarapan pagi hingga tuntas dengan bunyi kerupuk krap-krup sebagai lalapan. Segelas kopi dan sebatang rokok menutup aktifitas saya setiap pagi di rumah menjelang berangkat ke kantor. Dengan mobil Phanter keluaran 1992 menuju kantor Bute Ekspres yang terletak di Jalan Rangkayo Hitam Bungo Timur, Kecamatan Pasar Muara Bungo. Jarak dari rumah kekantor tidak terlalu jauh. Hanya cukup setengah batang rokok  untuk sampai di kantor. Dengan laptop 14 inci,  saya masuk kekantor yang berbentuk rumah tersebut. Rumah milik warga itu khusus saya sewa untuk kantor dan mess para wartawan. Salam yang saya lontarkan sebelum masuk dijawab ringan oleh seorang staf bagain pemasan yang sibuk merekap para pelanggan yang off  dan baru serta menghitung uang tagihan. Lembaran Koran terbaru sudah bergeletakan. Sementara para loper sudah tidak terlihat lagi. Mereka sudah berpencar untuk menjalankan tugasnya masing-masing, mengantar Koran kepada para pelanggan. Beberapa orang wartawan masih bersiap-siap untuk berangkat kelapangan. Sedangkan sebagian lagi sudah berangkat kelapangan dan sebagian lagi masih sibuk didepan computer yang online. Melihat saya masuk, para wartawan buru-buru berkemas untuk cepat-cepat berangkat ke lapangan.
Sementara dibagian ruangan lain berukuran 3×4 meter, saya lihat Dewi, sang sekretaris sedang serius didepan komputer. Setiap pagi Dewi, bertugas merekap omzed iklan yang baru masuk dan merekap kode tulisan wartawan yang terbit hari itu. Saya hanya tersnyum kecil melihat staf saya yang hanya satu-satunya wanita tersebut. Dan tentunya menjadi wanita tercantik di Bute Ekspres. Saya bersyukur, karena pasca lebaran Idul Fitri 1431 hijriah atau 2010 kemarin, Dewi mulai memakai jilbab. Wajahnya yang bulat dengan bulu mata lentik, membuat wajahnya yang dibalut kain tipis semakin enak dipandang. Saya hanya berdoa, semoga kelak dia mendapatkan jodoh yang sepadan dengan wajahnya yang cantik.
Setelah melihat seluruh aktifitas kantor, saya langsung  menghidupkan laptop di meja khusus di ruangan paling depan yang memang sudah disambungkan dengan server dan tentunya bisa online dengan internet. Sambil menunggu laptop konek dengan perangkatnya, saya membaca Koran yang terbit hari itu. Selain melihat perwajahan Koran saya selalu mengontrol iklan dan berita pariwara atau society yang terbit hari itu. Iklan, dan berita pariwara serta society merupakan pemasukan utama perusahaan media yang saya kelola.  Alhamdulillah, gumam saya dalam hati, hari ini society warna satu halaman full, mempublikasikan Grand Opening Royal SPA dan Salon.  Setelah membolak balik Koran termasuk memonitor Koran kompotitor, saya langsung mengklik internet. Media online lokal dan nasional menjadi salah satu refrensi informasi saya, selain juga membuka e-mail, facebook dan twiter untuk sekedar mengecek kemungkinan ada pesan baru yang masuk. Selain juga membuka blog, untuk mengecek pengunjung yang masuk dan membalas komen nya.
Saya lihat jam bulat berukuran besar yang terpajang didinding masih menunjukan pukul 08.30 WIB.  Saya coba hidupkan televisi yang ada diujung ruangan, sambil berpikir langkah yang akan saya ambil pagi itu. ‘’Hmmm. Saya akan pergi ke KPU Bungo,’’gumam saya dalam hati sambil melihat siaran televisi dengan presenter Olgah. Gayanya yang kocak membuat saya tersenyum-senyum kecil, sembari terus berpikir.
Sementara tangan kanan saya terus menggerak-gerakan mouse. Dan sekali-kali memindahkannya ke keyboard untuk menulis sesuatu. Biasanya saya membalas pesan di facebook dan membalas koment di Blog probadi saya (http:// zainuddinjambi.wordpress.com) dan kemudian kembali mengklik blog sipengunjung untuk meninggalkan koment pada tulisannya. Ini merupakan trik bagi blogger agar tulisannya sering dikunjungi blogger lainnya. Yah, saling berkunjung dan meninggalkan koment sesuai dengan materi yang ditulis.  Sebelum menutup jaringan internet, saya tak pernah lupa berkunjung ke website Bute Ekspres (http://www.bungoteboekspres.com), sekedar melihat apakah berita hari ini juga sudah dipublis di website resmi Bute Ekspres.   Setelah me-refresh beberapa kali, laptop langsung ditutup dengan mengklik turn off.  Sambil menunggu proses clossed, saya menghampiri Dewi sang sekretaris. Sekedar melihat kerjanya, sembari bertanya yang dianggap perlu. Biasanya pertanyaan yang sering saya lontarkan adalah soal omzed, piutang yang belum tertagih, dan beban yang harus dibayar perusahaan dalam waktu dekat.

Kerja

SEKRETARIS : Dewi saat bekerja di Bute Ekspres

Tugas Dewi sedikit merangkap. Selain sebagai sekretaris, dia juga merupakan bagian administrasi dan keuangan. Saya merasa belum perlu menambah petugas ADM, karena pekerjaan yang ada masih bisa diatasi oleh Dewi sendirian. Tapi suatu saat, pastilah saya membutuhkan tambahan karyawan wanita untuk membantu tugas Dewi.
Dewi sebenarnya memiliki basik pendidikan di bidang akutansi. Soal pembukuan keuangan, saya tidak terlalu sulit mengajarnya. Tapi soal surat menyurat, Dewi sedikit kelabakan. Hampir seluruh surat menyurat, terpaksa saya sendiri yang membuat konsepnya. Pernah suatu hari saya menghadrik sekretaris saya ini, karena tidak bisa membuat konsep surat yang diinginkan oleh bagian iklan. Tapi dengan lugu Dewi memberikan jawaban. ‘’Saya kuliahnya jurusan keuangan pak,’’sebut Dewi dengan nada polos.
Saya hanya menarik nafas panjang mendengar jawaban bawahan saya ini. Bukan karena jawabannya, tapi karena saya berpikir bahwa kenapa dia tidak ada upaya untuk berusaha untuk belajar  membuat konsep surat. ‘’Yah sudahlah, mungkin kemampuannya tidak sama dengan saya yang harus serba bisa,’’gumam saya dalam hati, sambil meminta selembar kertas kosong dan pena untuk membuat konsep yang diinginkan oleh bagian iklan. Setelah saya konsep dengan tulisan steno, oret-oretan tersebut saya berikan kembali kepada Dewi untuk diketik. Sebelum saya teken, surat tersebut saya koreksi kembali. Jika masih ada yang  dianggap salah dan kurang tepat, surat yang sudah diketik tersebut saya coret dan koreksi ulang. Dan kemudian diperbaiki kembali oleh Dewi. ‘’Jangan lupa surat itu disave, untuk draf surat yang serupa nanti,’’kata saya, sembari disambut anggukan kecil Dewi.
Sementara itu jam Alexsander warna coklat mengkilat ditangan kiri saya sudah menunjukan pukul 09.30 WIB. ‘’Saya keluar dulu,’’sebutku kepada Dewi sambil meneteng leptop keluar ruangan dan menuju mobil Isuzu warna biru metalik. Warnanya yang mengkilat memantulkan cahaya karena diterjang matahari pagi. Siapa yang tahu kalau mobilku ini sudah sangat tua usianya. ‘’Semoga saja tidak pernah mogok,’’doaku sambil membuka pintu mobil yang sudah lima tahun menamani kehidupanku.
Setelah membaca bismillah dan surat Al-Fateha, ku tekan gas dengan kaki pelan-pelan. Kantor KPU Bungo adalah tujuanku kali ini. Letaknya tepat dibelakang rumah Dinas Bupati Bungo  Zulfikar Achmad. Hanya sekitar lima menit mobilku sampai di depan kantor KPU. Jejeran mobil plat merah memenuhi parkir, hingga membludak ke kiri kanan jalan . Aku bahkan kesulitan mencari tempat yang cocok untuk parkir. Setelah melihat kiri kanan dan memutar sekali lagi, aku akhirnya dapat menyelipkan mobilku diantara mobil milik pemerintah yang berjejer.
Ini kali pertama aku masuk ke kantor KPU Bungo setelah hampir lima bulan bertugas di kota lintas ini.     Saya tidak pernah kenal dengan satu pun petugas di KPU Bungo. Biasanya wartawan saya yang berseleweran dikantor ini untuk mencari berita yang sudah di proyeksi malam sebelumnya. Tapi kali ini saya sendiri yang turun tanpa didampingi wartawan. Berbekal sebuah nama, saya menghampiri satpam yang bertanya tujuan saya. ‘’Ada pak Subhan (Ketua KPU Bungo),’’tanyaku meyakinkan, sembari memperkenalkan diri.

Hasil liputan ekslusip

HARIAN PAGI JAMBI EKSPRES : Hasil liputan yang terbit di Jambi Ekspres.

Mungkin karena yang datang wartawan berpenampilan parlente, security ini

Harian Pagi Bute Ekspres

HARIAN PAGI BUTE EKSPRES : Liputan yang terbit di Bute Ekspres.

bergegas mengajak saya masuk  keruangan yang jelas tertulis diatas pintunya Ketua KPU. Wajah sang empu ruangan sudah tidak asing lagi bagi saya. Karena saya sering melihat dia dikoran. Didalam ruangan terdapat meja bundar berukuran sedang. Yang menurut saya meja tersebut cocok untuk rapat. Duduk melingkari meja tersebut tiga pria dan satu wanita.  Diantara mereka terdapat pria bertubuh sedang dengan kulit kuning, yang seingat saya dia adalah Subhan, Ketua  KPU Bungo. Benar saja, setelah saya memperkenalkan diri sembari memberikan kartu nama, pria bertubuh lebih kecil dari yang lain tersebut ternyata Subhan.  Dua pria lagi bernama Dailami dan Musfar, keduanya juga merupakan anggota KPU. Dan satu wanita lagi, terlihat asyik dengan laptop mininya warna putih, dan hanya sekali-kali menimpali wawancara saya, yang berkaitan dengan Pemilukada Bungo yang akan diselenggarakan 2011 nanti.
Setelah merasa cukup mendapatkan data,  yang saya pindahkan di notbook kecil. Saya langsung melakukan lobi untuk bisa mendapatkan iklan sosialisai.  Dua iklan sekaligus saya minta. Untuk terbit di JE dan BE.  Ternyata, semua anggota KPU yang hadir mengamini penawaran saya tersebut.  Saya pun  akhirnya pamitan untuk pulang dengan hati yang gembira, karena sudah dijanjikan akan mendapatkan iklan sosialisasi.  ‘’Ya Allah sudah ku sempurnakan tugasku. Mohon Kau kabulkan doa hambaMu ini. Selanjutnya aku tawakal dan iklas  dengan keputusanMu,’’ gumamku dalam  hati sambil   melaju ke kantor, dan langsung menulis berita yang baru saja aku dapat di kantor KPU Bungo. Dan aku bangga karena keesokan harinya, berita yang aku tulis dan dimuat di JE dan BE berjudul ; Pilbup Bungo 11 Maret 2011,  tidak ada yang diketahui oleh media lain. Padahal isu yang aku angkat  sangat ditunggu oleh masyarakat terutama para politisi. Terima kasih Tuhan.

Ditulis dalam Cerita, Hukum & Kriminal, Humor, Keluarga, Kerajinan, Kerja, Kesehatan, Kisah Nyata, Liputan, Pemerintahan, Pendidikan, Pengalaman Pribadi, Politik, Religi, Seputar Kita, Travelling, Wartawan | Bertanda: , , | 1 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.