Perajin Batik Ditengah Persaingan Mesin
Posted by Jay pada Desember 21, 2009
BATIK Indonesia telah diakui UNESCO dengan dimasukkan ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity).
Sayangnya, perajin sebagai ujung tombak warisan budaya bangsa ini harus berhadapan dengan persaingan yang sangat ketat. Terlebih munculnya perusahaan-perusahan konveksi yang menggunakan mesin-mesin printing yang mampu mencetak batik dengan jumlah besar dan menawarkan harga jauh lebih murah.
Meski dihadapi dengan persaingan yang ketat, para perajin batik Jambi tampaknya tidak begitu mengkhawatirkannya. Mereka beralasan, bahwa kualitas yang dihasilkan oleh perajin rumahan jauh lebih bagus dibandingkan dengan hasil kerja mesin konfeksi atau printing.
A Somad Edi, Ketua Koperasi Kreatif Bersama yang membawahi sedikitnya 35 perajin batik dan kerupuk di Seberang Kota Jambi, mengakui hal itu. Menurut Bujang Loncos—begitu A Somad Edi ini biasa disapa, hal yang paling menjadi kendala oleh perajin adalah modal. ‘’Soal harga relative. Tergantung dengan bahan yang digunakan. Tapi soal kualitas, kita bisa jamin. Hasilnya jauh lebih bagus dari pada hasil konfeksi, yang biasa dijual di mall-mall,’’kata Bujang Loncos, seraya berharap pihak perbankan, BUMN dan Pemerintah bisa memperhatikan pengerajin batik dan kerupuk di Seberang Kota Jambi, khususnya dibawah naungan Koperasi Kreatif Bersama di Kelurahan Ulu Gedong, Kecamatan Danau Teluk.
Bujang berharap ada bantuan pinjaman dana lunak yang bisa dikelola oleh koperasi untuk membantu anggotanya. Sebab selama ini para perajin harus mengeluarkan biaya yang lebih besar, karena membeli bahan baku batik, yang harganya relative mahal. ‘’Kami berharap Koperasi Kreatif Bersama ini bisa membantu pengerajin dalam mendapatkan bahan baku seperti dasar, lilin, pewarna dan lain sebagainya dengan harga terjangkau. Selain itu juga dapat membantu anggota dalam memasarkan produknya,’’kata Bujang Loncos, sembari mengaku selama ini pengerajin hanya tebatas membuat pesanan para konsumen, itupun setelah mendapatkan DP atau uang muka dari konsumen.
Padahal, dalam satu bulannya seorang perajin bisa mendapatkan order pesanan mencapai 1.000 meter atau 5.00 potong.
Sebenarnya, kata Bujang Loncos, produk batik asal Jambi ini bisa saja dijual di butik atau di mall-mall. ‘’Tapi kita terkendala modal. Sebab di butik dan di mall-mall tidak bisa membayar kontan. Sistimnya titip,’’ungkap Bujang Loncos, yang mengaku 80 persen anggota Koperasi Kreatif Bersama adalah ibu rumahtangga dan remaja putri.(***)



bocahbancar berkata
HHhmm..Patut ada dukungan dari semua pihak agar tidak tergantikan seutuhnya oleh Mesin,,,
isdiyanto berkata
mari kita lestarikan bersama…
afin berkata
mas, minta izin posting foto batiknya di bukuku ya…makasih sebelumnya
Jay berkata
Yah gpp.. silahkan demi kebaikan bersama…