Bernafas Saja Bayar ????
Ditulis oleh Jay di/pada November 26, 2008
Negara Industri Incar Oksigen Indonesia
ZAMAN sekarang semua perlu duit dan tidak ada yang gratis. Kata-kata ini sudah sering kita dengar. Bahkan ada lagunya. ”Makan perlu duit, mau tidur pake duit, cari kerjaan pake duit, mau beol pake duit, gali kuburan pun pake duit”. Benarkah begitu?.
Saya akan bilang itu benar. Sebab untuk bernafas saja kita harus bayar. Ini sudah ditandai dengan rencana para negara-negara maju yang mulai mengincar oksigen di negeri ini. Maklum karena negeri kita ini termasuk negara produsen O2. Yah itu karena kita kaya akan hutannya.
Belum lama ini Rabu (12/11/2008), Jambi kedatangan tamu dari Australia dan Ingris, Internasional Business Wett Work (IBN) Konsultan, Peter N.Kene dan Investor Carbon Strategic Clobal, Charles Jadkson. Mereka datang untuk membeli Carbon di Jambi atau Carbon Trade.
Gubernur Jambi H Zulkifli Nurdin, sangat menyambut baik investor tersebut. Dan penjualan Carbon Trade tersebut ditindak lanjuti dengan penandatanganan MoU. Gubernur merasa senang karena, yang dijual hanyalah udara alias oksigen dan bentuknyapun semu. Selain itu, dengan penjualan Carbon, hutan di Jambi bisa terjaga kelestariannya.
Ide Carbon Trade atau perdagangan carbon itu merupakan hasil pertemuan 180 negara di Kyoto, Japan,. Desember 1997. Dimana industri-industri yang mengeluarkan CO2, harus membeli atau memiliki pasokan O2 sebagai penyeimbang. Para investor dari Ingris dan Australia menawar USD 10 per ton. Sementara kebutuhan oksigen yang diminta oleh para investor ini masih dikaji, sesuai dengan pengeluaran CO2 industri mereka masing-masing. Demikian juga dengan jumlah oksigen yang didapat dari hutan kita ini. (Per hektar hutan menghasilkan berapa banyak oksigen, kini masih dikaji). Wuh rueeet deh….
Yang jelas Carbon Trade tersebut, menurut saya tidak ada ruginya bagi pemerintah dan masyarakat. Istilah saya, “bisnis yang pasti untung” . Kenapa begitu?. Karena, menjual sesuatu tanpa mengurangi barangnya.
Tapi, dalam hal ini pemerintah, perlu sedikt waspada dan jangan terlena. Sebab, jika terlena bisa-bisa kreatifitas anak bangsa ini akan terhambat. Yah, ini pemikiran saya. Maksudnya begini. Pemerintah, boleh-boleh saja melakukan kerjasama penjualan carbon atau oksigen ke negara maju. Tapi kerjasama itu, jangan terlalu lama. Menurut saya, idealnya kerjasama itu 3-5 tahun saja. Jika dibutuhkan kembali, kerjasama itu bisa diperpanjang. kenapa begitu?.
Seperti saya bilang, jika kontrak kerjasama dibuat terlalu panjang, maka akan membunuh kreativitas anak bangsa dan merugikan negara Indonesia dan Jambi khususnya. Contoh ini sudah banyak terjadi. Baik itu dibidang pengelolaan hutan maupun pertambangan. Saya tidak mau menyebutkan satu persatu, izin atau kerjasama yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah yang jangkawaktunya bisa mencapai 100 tahun. Anda mungkin sudah bisa menebak yang saya maksud.
Lantas, apa yang membuat kreatifitas anak bangsa ini terhambat, jika izin kerjasama tersebut terlalu panjang. Contoh, kerjasama pengelolaan hutan atau kerjasama tambang emas atau timah. Jika izinnya terlalu panjang, tentu anak bangsa ini tidak akan mendapatkan kesempatan lagi untuk menikmati hasil bumi tercinta ini. ”Ketika izinnya habis, potensi alam ini juga sudah habis. Itu misalnya. Hahahaha. Bocor deh”.
Begitu juga dengan oksigen yang kita miliki. Jika kerjasama pembelian oksigen berjangkawaktu panjang, kesempatan saya untuk membuat perusahaan otomotif misalnya, akan terbatas. Kalupun bisa saya harus, beli oksigen di negara lain. ”Yah, mana tahu 10 tahun kedepan saya ingin membuat industri mobil yang bisa terbang seperti film-film. Nah karena sudah ada peraturan internasional, bahwa setiap industri yang mengeluarkan CO2, harus membeli pengimbangnya O2, maka saya harus beli deh oksigen. Sementara oksigen di Jambi sudah dikapling orang bule semua. Gitu deh, maksudnya”
Kembali ke topik utama, bernafas harus bayar ?. Yah, karena manusia dan binatang menghasilkan/mengeluarkan CO2. Itu sih, seperti yg saya dengar waktu sekolah dulu… Dari manapun asalnya CO2 tetap saja merupakan polusi. Tapi CO2 yang dikeluarkan oleh manusia dan binatang ini tidak seberapa. Sebab CO2 yg paling banyak berasal dari industri dan pabrik, serta emisi kendaraan.(*****)
Nah, tulisan diatas hanya sekelumit pemikiran pribadi saya. Sekarang giliran Anda menyalurkan ide dan aspirasi dalam kolom komentar ini :
1. Bagaimana sebaiknya sikap pemerintah menyikapi peluang Carbon Trade ?
2. Siapa yg akan menjaga hutan, tempat lokasi penjualan oksigen tersebut ?
“Ide dan aspirasi yg dimuat dalam kolom komentar akan saya salurkan ke Presiden… hahahahah”.
#TERIMA KASIH ATAS WAKTUNYA#
namada berkata
waduh,,,udara bisa djadiin bisnis yaa..
tapi awas, jgn lengah, nanti kehabisan udara baru nyaho…
Pakde berkata
Bang, obrolan seperti ini beberapa bulan lalu sempat mengemuka saat talkshow dengan beberapa crew warsi. Saya malah ribet ngitung hasil penjualannya nanti. sampai ke petaninya berapa rupiah perkubik nya ya…?
Harus ada sosialisasi ke seluruh lapisan masyarakat dari pihak pengelola siapapun itu, khususnya yang nanti akan terlibat nih bang. Salutnya Jambi jadi Prioritas Utama juga dari sekian banyak hutan di Indonesia. Saya dukung deh, karena akan pada konservasi hutan, apalagi ini berhubungan dengan penghijauan.
Sikap pemerintah baiknya dukung deh, terlepas dari ribetnya proses transaksi yang nanti akan diterima tiap pemilik hutan/lahan. Stekholdernya gimana kalo melibatkan bloggerjambi bang?…….(halah)
yulism berkata
JIka demikian halnya, menanam pohon sebanyak-banyaknyalah yang sekarang menjadi prioritas. Karena udara adalah sumber daya alam yang tak terbatas dan sudah pasti akan memberi dampak positive bagi masyarakat…
jika memang hal itu terjadi. Thanks dan sukses selalu untuk bang Jay.
indra1082 berkata
peringatan buat yang hidungnya mancung, boros nafas tuh..hehehehehe
perempuan berkata
oksigen bisa2 jadi rebutan nih , suatu saat bisa langka klo polusi makin meningkat
debora berkata
emang keadaan udara sekarang ama dulu ‘dah lain.
dari data who, kadar oksigen di udara ternyata tinggal 17% aja, gila ga, terus sisanya apa? tiap saat qta menghirup udara. bayangin aja kalo yg kita hirup itu bukan lagi udara bersih, tapi racun2 dari polutan. ihhh… syerem bgt. ada yg mau ikutan bisnis udara ga?? kalo yg ini dijamin legal dan teruji (debora.widiya@yahoo.com)
subpokjepang berkata
sikap pemerintah :
jangan keluarkan hph,
jaga kelestarian hutan,
habisi mafia hutan,
masDan berkata
Stop Pembalakan Liar …… Save our Forest ..
donapiscesika berkata
AKU KENAL PERSIS BAGAIMANA ANTUSIASNYA PEMERINTAH KITA MENYAMBUT ACARA JUAL-JUALAN INI…AKU JUGA SANGAT KENAL PERSIS…PEMERINTAH KITA TERCINTA INI JARANG BERPIKIR PANJANG ATAS ‘TAWARAN MENGGIURKAN’ YANG SEJENIS INI…BANYAK CONTOH DEH BANG JAY….
INGAT ASIALOG? KINI HANCUR BERANTAKAN BOTAK GUNDUL
INGAT KASUS YANG LAIN YANG SERING KITA BAHAS?
SAYA NGGGA NOLAK KITA MAU JUALAN CARBON….
TAPI SAYA SANGAT CEMAS…JUALAN INI AKAN BERDAMPAK ANEH…
TOH MASIH BANYAK CARA LAIN UNTUK TETAP BISA MEMPERTAHANKAN POTENSI CARBON YANG ADA…TANPA HARUS JUALAN DAN HANYA MELIBATKAN KEWENANGAN SEPIHAK PEMEGANG KEBIJAKAN DAN MENGABAIKAN PELAKU UTAMANYA *MASYARAKAT*….KARENA JIKA TERJADI SESUATU NANTI…..MASYARAKAT JUGA LAH YANG JADI KORBAN….
BISA-BISA..NTAR KALO MAU NAPAS…
HARUS PEGANG SURAT BAYAR PAJAK BERNAPAS….
TIDAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKK………..
Ade berkata
wedew
syerem bgt nih bisnis
nanti orang susah ga bisa napas dunks
Mufti AM berkata
Jangan2 ntar datang ke lokasi penambangan oksigen mesti bayar nih, karena menghirup udara tanpa ijin pemilik kaplingnya. Idealnya memang dalam jangka waktu pendek saja kerja samanya. Orang2 bule itu mesti bikin pabrik di sini dan bebas mengambil oksigen sebanyak2nya tapi setelah kontrak habis pabrik jadi milik kita dan tak perlu diperpanjang lagi. Gitu loh…
Diki berkata
Kalo yang kayak gini musti dipikir-pikir dulu deh. Jangan asal terima aja karena iming-iming duit. Kalo ntar Carbonnya dah dijual smua, negara kita ga bisa berkembang dong perindustriannya. Kenapa? Karena Carbon kita sudah bukan milik kita lagi.
isdiyanto berkata
masak harus mulai belajar mengirit bernafas? kan ga lucu jadinya…
maskoko berkata
wuiiiiih…. besok2 jangan buang angin sembarang, sayang…. jual aja sama orang luar
bloggerjambi berkata
Ha ha ha Yang lucu kalo kejadian kita harus pakai tabung oksigen tiap hari ha ha ha…ke kantor bawa tabung…mandi bawa tabung…yang repot bercinta bawa tabung juga..gimana urusannya nanti…jangan2 bercinta dengan tabung juga! nggak deh.
Salam untuk semua
gbaiquni berkata
good idea… pemerintah harusnya melakukan ini sejak lama…, tapi sebaiknya dikombinasikan dengan upaya reboisasi dan proses pemantauan penjagaan hutan secara berkesinambungan, bahkan kalo perlu sipihak asing yang langsung terjun dan turun tangan menjaga hutan, tentunya dengan syarat dan ketentuan yang lebih menguntungkan ekologi hutan secara berkesinambungan.
[senyum]
juliach berkata
Ijin kerja 100th itu sama saja 0% untuk anak bangsa. Enggak sekalian jual provinsi?
Lihat saja sekarang lihat harimau aja susahnya minta ampun! sampai tubuh ini habis dimakan pacet, harimau tak pernah nongol di depan kamera! Hanya babi hutan.
Apa? Semua perusahaan hutan harus reboisasi! kata pemerintah. Mana itu reboisasinya? Berkilo-kilo meter tak ada pohon hanya semak-semak belaka.
Bikin aku sesak nafas saja.
mamas86 berkata
Wah gimana cara bawanya ya…
Masa oksigen di jual, kayak mau nyelam ke air aja
Emang berapa gedenya tuh tabung oksigen….
mamas86 berkata
Jangan-jangan besok kita juga harus bayar kalau mo bernapas…..
welly berkata
bayangin aja…. mo nafas kudu bayar …… aampun deh, nggak bisa kebayang !
agung berkata
semoga jual beli karbon ini tidak membuat indonesia, inggris atau negara manapun terlena. karena apa? ntar merasa sudah membeli 02 trus ngelepas co2 seenaknya. kan sama aja dengan bohong.
owbertku berkata
saran yang bijak buat masalah ini
jadilah dokter spesialis paru2….
karena beberapa tau kedepan orang2 indonesia cuma bisa ngirup karbon monoksida…. heheheheh
ciwir berkata
wahhhhh…. padahal Tuhan (sang pencipta udara) aja nggak pernah minta bayaran… reppoottt….
Muhammad Surya Ikhsanudin berkata
Alhamdulillah kita masih dapat bernafas dengan gratis……
Subhanallah kalo memang harus dibisnisin……..Indonesia bisa kaya raya ya??? tapi dikorupsi gak???
novnovaitian berkata
kalo nafas buatan bayar gak bang?..hahahahaha..pa kabar bang Jay?….
Hans berkata
inilah dampak dari pengembangan iptek yg materialis-sekuler.
akhirnya kita juga (org timur) yg juga menanggungnya.
masak, oksigen aja krisis
rioseto berkata
Komentar ini mungkin tidak sempat terbaca, karena artikelnya sudah lewat cukup lama, ya. Saya ingin tahu bagaimana sih konversi O2 atau CO2 dengan uang itu? Bagaimana menghitung luas hutan dengan produksi O2? Berapa biaya satu pohon untuk memproduksekian O2 per hari(?). Hanya itu, just curiousity.
Blog saya: rioseto.wordpress.com, tidak ada kaitan dengan oksigen…
Terimkasih, banyak.