PEREKONOMIAN Amerika guncang, akibat harga bursa saham-nya terjun bebas alias anjlok ke nilai terendah semenjak tahun 2001.
Rontoknya bursa saham di Amerika, berimbas ke semua bursa di hampir seluruh dunia. Termasuk Indonesia. Langkah antisipasi pun diambil dengan menutup sementara transasiksi perdagangan di Bursa Efek Jakarta.
Penutupan sementara (sekarang sudah dibuka kembali) ini menurut saya lebih disebabkan karena terjadinya penarikan saham besar-besaran oleh investor asing terutama para pialang dari Eropa. Mereka melepas saham2 mereka dg harga banting. Analisanya, utk membantu perekonomian di Negara mereka. Wow, nasionalis mereka sangat tinggi…
Disatu sisi para pelaku pasar cemas dg kondisi ini. Karena akan mengalami kerugian yg tidak sedikit. (Untung saja saya tidak main saham. Yeee uang dari mana lagi utk main saham)
Tapi bagaimanapun ini peluang bagi Indonesia untuk mengambil/membeli kembali saham2 yg sudah tergadaikan tersebut. Mumpung murah gitu loh…. (kalau saja saya punya uang saat ini. Hmmm, ini peluang bagus. Mimpi kali yeee). Tapi saya sarankan pemerintah dan BUMN harus cepat2 menangkap peluang ini.
Kok, bisa ya harga saham anjlok — sampe harus terjun bebas lagi. Padahal hampir semua perusahaan tersebut labanya mengalami peningkatan. (Loh, kok gitu ya. Mestinya laba naik=saham juga naik). “Itulah yg menjadi masalah sekaligus menjadi peluang bagi bangsa ini”.
Tapi sudah lah– itu tidak perlu dibahas. (Tambah pusing klo dibahas– boro2 mau beli saham. Beli beras aja susah.Hehehehe. Biar mereka2 aja yg bahas).
Disini saya mencoba menganalisa versi saya, tentang bagaimana warga asing menanamkan jiwa nasionalis mereka, untuk membantu negara mereka, yg sedang terpuruk. Mereka tdk peduli akan mengalami kerugian, demi membaiknya perekonomian negara mereka.
Bagai mana dg kita, putra-putri Bangsa Republik Indonesia ?.
Krisis moneter 1998, memperlihatkan anak bangsa ini masih memikirkan perut mereka masing2. Yg berduit kian menggila memburu dolar. Sementara Pemerintah terpaksa menaikan suku bunga gila-gilaan, dg harapan Rp kembali kepangkuan ibu pertiwi dan tdk ditukar $.
Wow itu belum seberapa. Bayangkan ditengah melejitnya harga nilai tukar dolar saat itu, para penyelundup makin menjadi2. (La-iya-lah untungnya bisa 10x lipat, kalau dijual ke LN). Kekayaan alam Indonesia menjadi surga bagi para penyelundup. Minyak, kayu, rotan, emas, timah, dsb.
Lantas setelah 10 tahun krismon itu terjadi sekarang bagaimana?.
Hmmm, perubahannya cukup lumayan. Terlebih setelah penegakan hukum mulai berjalan, meskipun masih banyak juga oknum2 penegak hukum yg main mata. (kelilipan kali)
Tapi faktanya, masih banyak para spekulan yg menimbun BBM ditengah masyarakat kesulitan BBM (ingatkan !!, utk dapat BBM musti antri hingga seharian. Trus dibatasi lagi). Dan masih banyak pejabat yg berkolusi dg para pengusaha untuk mendapatkan keuntungan peribadi. Lebih kacaunya lagi, masih ada penegak hukum, wartawan dan LSM yg bisa diajak “main mata”.
Inilah saatnya jiwa Nasionalis kita bangkit dan harus dibangun dan dipertahankan. Cukuplah sudah kita sengsara, karena keinginan dan kepentingan pribadi. Buang jauh-jauh kepentingan. Mari sama-sama rapatkan barisan.
Menurut pembaca ?.
1. Apa yg sebaiknya kita/negara lakukan dalam kondisi seperti ini.
2. Bagaimana cara memberantas para pejabat yg masih saja berkolusi dg pengusaha utk menghabiskan uang Negara ini.
3. Bagaimana cara memberantas oknum2 penegak hukum, wartawan dan LSM yg masih saja “main mata”.
(Terima kasih atas sumbangan pendapatnya. Kali aja bisa diusulkan ke SBY dan JK sebagai bahan masukan ) Hehehehehe.



Amiiien, mudahan dgn usulan ini. saya dipilih jd caleg.
1. Jawabannya cukup panjang, butuh waktu dan aksi. jd saya pending dulu
2. Pejabat yang berkolusi. Ingetin lagi dng sumpah nya saat diambil sumpahnya dulu. kalau masih bandel….jangan suruh bersumpah kalo cuman lipsing doank mah.
3. Inget aja Etika profesi. Jika gaji wartawan nggak cukup sampai berani main mata. Kenapa harus mengambil profesi ini. masih banyak koq profesi halal lainnya tnpa hrs main mata. Emang mau jd penari bali ya…??
sungguh, secara makro pertumbuhan ekonomi di negeri ini belum bisa menumbuhkan optimisme di kalangan rakyat. saya hanya melihat angka kemiskinan dan pengangguran yang masih saja meningkat. yang lebih repot, banyak petani yang mengeluh karena jerih payah mereka tak sebanding dg hasil yang dicapai. idealnya, pemerintah, menurut pemahaman awam saya, perlu membuat sebuah kebijakan yang berpihak kepada para petani di sektor agraris, kedua, supremasi hkum harus bener2 jalan, mereka yang mencoba berkolusi mesti dilibas, yang tdk kalah penting harus ada kesadaran kolektif utk membangun sebuah kultur yang benar2 berpihak kepada rakyat. *walah kok jadi sok tahu saya, mas zain, hiks*
@> Pakde ;
1. Pendingnya jgn lama2 Pakde.
2.Ya, emang mereka cuman sumpah dimulut. Ngak sampe kehati gitu…
3.Persoalannya bukan hanya digaji… Urip si Jaksa Agung contohnya—
wah kalau mencermati postingan anda saya jadi berpikir kembali tentang banyak hal yang selama ini berlaku seperti tak makin baik
@> Pak Siwali ; Yah kalo secara makro saya jga sependapat dg bpk. Pertumbuhan ekonomi belum bisa menumbuhkan optimisme di kalangan rakyat.
#Negeri yg subur ini kurang apa lagi..?… Kurang mencintai aja kali ya.. Kok jagung aja harus di inport….
–Harganya ngak bisa bersaing— Inilah peranan pemerintah utk mengatur. Mana brg yg bisa masuk dan mana yg tdk…. —Wuh kan pasar bebas—
…Ihhhh gimana sih, repot baget…..
Thanks ya pak atas komentarnya
Mudah-mudahan gempa ini segera berlalu dan tidak berlanjut kepada keruntuhan pondasi ekonomi bangsa ini.
Yang jelas nomer satu adalah penegakan hukum dan sistem. Karena dengan kunci sistem yang jelas dan hukum yang tegas, siapapun pemimpinnya, partai apapun yang berkuasa tujuan pembangunan isnyaAllah akan mencapai sasaran. thanks
Salam kenal dulu Bang Zay…kunjungan perdana nih
@>Rafki ; Yah semoga aja pondasi ekonomi bangsa ini tdk runtuh. Ehh… Pondasinya apa ya Pak Rafki ??? Kok saya yg bingung. Thanks atas kunjungannya.
@>Yulis : Benar jga ya Mbak. Penegakan hukum harus tegas dan sistem harus jelas. Ndak plin-plan kaya sekarang.. Info terbaru.. UU perbankan hari ini dirubah lagi… Apakah ini bentuk tdk konsistenya pemerintah kita Mbak…. Trims ya Mbak atas sarannya.. Ntar saya kasih tahu SBY dan JK ttg usulan Mbak…
@>Nened ; Salam kenal kembali Mas… Senang atas kunjungan anda. Semga kunjungan perdana ini akan berlanjut, utk saling membangun… Thanks ya.
setuju banget sama jeung Yulis…
sebaiknya kita banyak berdoa om
saya gak punya saham kang … jadi gak ikut anjlok
justru ini kesempatan emas bagi kita utk menguasai aset2 kita yang kuasai asing, dibalik bencana selalu tersimpan hikmah,,,,
Jawabannya tidak mudah, dan panjang jika diungkapkan disini…saya sepakat dengan usulan Mirza Adityaswara, analis Senior di Kompas hari ini, hal 1 tanggal 13 Oktober 2008.
duh .. ngeri deh baca atau denger berita ttg krisis finanz ini
beli kembali saham2 BUMN yang dijual ke asing…………..
beli kembali saham2 BUMN yang dijual ke asing…………..
@> Yessy : Ih, kok ikut-ikutan dg Mbak Yulis sih…. Ndak apa2 deh. Thanks ya
@>Easy : Semoga doa kita dikabulkan. AMIN
@> Rindu ; Yah…….. walau ngak punya saham, Tapi punya perut kan dan iman. Masalah Bangsa masalah kita semua… trims atas kunjungannya.
@>Tengku ; Benar pak, dibalik bencana selalu tersimpan hikmah,,,, Thanks ya.
@> Ratna ; Waduh saya belum baca tuh usulan Mirza Adityaswara, analis Senior di Kompas hari ini, hal 1 tanggal 13 Oktober 2008. Ya deh ntar saya baca. Thanks infonya ya Mbak
@>Elys; Emang gitu. Tapi harus kita hadapi
@> Bang Ciwir ; Setuju. Tapi apakah ini bisa mengatasi masalah 100 %…. Trims ya Bang
Mampir dulu bang zay….
salam kenal….
dari dulu saya tidak terlalu setuju dengan menggunakan indikator perhitungan pertumbuhan ekonomi ada IHSG sebagai tolok ukur kemajuan bangsa ini.
pertumbuhan ekonomi terlalu dilihat dari aspek nilai mata uangnya saja, sedangkan nilai uang sendiri dapat mengalami inflasi. lebih fair jika pertumbuhan ekonomi di lihat dari aspek penambahan kapasitas produksi barang dan jasa yang dihasilkan negara ini serta portofolio (alokasi sebaran) barang dan jasa. jika barang dan jasa yang dihasilkan makin besar secara kuantitas dan semakin beragam dapat diindikasikan ekonomi sedang tumbuh, tidak harus diikuti dengan kenaikan nilainya yang diukur dengan mata uang.
IHSG, saya nilai, cenderung lebih kepada mekanisme transaksi jual-beli yang ada di bursa (pasar sekunder). akan menjadi lebih fair jika IHSG dilihat dari corporate action yang dilakukan oleh para emiten. jika corporate action ini berisikan ekspansi usaha maka dapatlah dijadikan ukuran kemajuan bangsa ini.
1. apa yang harus dilakukan:
tetap berkegiatan dan terus beraktivitas produksi dan jasa.
2. untuk nomor dua…, sepertinya biar KPK yang nangani hehehe
, yang penting jangan mau ikutan berkolusi…, ganti slogan merdeka atau mati, menjadi tidak korupsi dan kolusi atau mati :sok patriotis nih:
3. weksss…, suka main mata ?
, biar ga bisa main mata lagi…
bawa aja kedokter mata…, lama – lama main mata bisa sakit mata kemudian lebih baik pake kaca mata hitam seperti ini
kalo saya cuma satu bang…
laksanakan semua sistem dgn BENAR
hukum penjahat seberat2nya; koruptor, pengemplang uang rakyat, penghalal segala cara, dihukum MATI
(oh ada dua ya)…
ya intinya kl mo negara ini baik, segala lapisan masyarakat mesti menjalankan segala tugas dan kewajiban dgn benar.