Harga Saham Anjlok, Jiwa Nasionalis Dipertaruhkan

11 10 2008

PEREKONOMIAN Amerika guncang, akibat harga bursa saham-nya terjun bebas alias anjlok ke nilai terendah semenjak tahun 2001.

Rontoknya bursa saham di Amerika, berimbas ke semua bursa di hampir seluruh dunia. Termasuk Indonesia. Langkah antisipasi pun diambil dengan menutup sementara transasiksi perdagangan di Bursa Efek Jakarta.

Penutupan sementara (sekarang sudah dibuka kembali) ini menurut saya lebih disebabkan karena terjadinya penarikan saham besar-besaran oleh investor asing terutama para pialang dari Eropa. Mereka melepas saham2 mereka dg harga banting. Analisanya, utk membantu perekonomian di Negara mereka. Wow, nasionalis mereka sangat tinggi…

Disatu sisi para pelaku pasar cemas dg kondisi ini. Karena akan mengalami kerugian yg tidak sedikit. (Untung saja saya tidak main saham. Yeee uang dari mana lagi utk main saham)

Tapi bagaimanapun ini peluang bagi Indonesia untuk mengambil/membeli kembali saham2 yg sudah tergadaikan tersebut. Mumpung murah gitu loh…. (kalau saja saya punya uang saat ini. Hmmm, ini peluang bagus. Mimpi kali yeee). Tapi saya sarankan pemerintah dan BUMN harus cepat2 menangkap peluang ini.

Kok, bisa ya harga saham anjlok — sampe harus terjun bebas lagi. Padahal hampir semua perusahaan tersebut labanya mengalami peningkatan. (Loh, kok gitu ya. Mestinya laba naik=saham juga naik). “Itulah yg menjadi masalah sekaligus menjadi peluang bagi bangsa ini”.

Tapi sudah lah– itu tidak perlu dibahas. (Tambah pusing klo dibahas– boro2 mau beli saham. Beli beras aja susah.Hehehehe. Biar mereka2 aja yg bahas).

Disini saya mencoba menganalisa versi saya, tentang bagaimana warga asing menanamkan jiwa nasionalis mereka, untuk membantu negara mereka, yg sedang terpuruk. Mereka tdk peduli akan mengalami kerugian, demi membaiknya perekonomian negara mereka.

Bagai mana dg kita, putra-putri Bangsa Republik Indonesia ?.
Krisis moneter 1998, memperlihatkan anak bangsa ini masih memikirkan perut mereka masing2. Yg berduit kian menggila memburu dolar. Sementara Pemerintah terpaksa menaikan suku bunga gila-gilaan, dg harapan Rp kembali kepangkuan ibu pertiwi dan tdk ditukar $.

Wow itu belum seberapa. Bayangkan ditengah melejitnya harga nilai tukar dolar saat itu, para penyelundup makin menjadi2. (La-iya-lah untungnya bisa 10x lipat, kalau dijual ke LN). Kekayaan alam Indonesia menjadi surga bagi para penyelundup. Minyak, kayu, rotan, emas, timah, dsb.

Lantas setelah 10 tahun krismon itu terjadi sekarang bagaimana?.

Hmmm, perubahannya cukup lumayan. Terlebih setelah penegakan hukum mulai berjalan, meskipun masih banyak juga oknum2 penegak hukum yg main mata. (kelilipan kali)

Tapi faktanya, masih banyak para spekulan yg menimbun BBM ditengah masyarakat kesulitan BBM (ingatkan !!, utk dapat BBM musti antri hingga seharian. Trus dibatasi lagi). Dan masih banyak pejabat yg berkolusi dg para pengusaha untuk mendapatkan keuntungan peribadi. Lebih kacaunya lagi, masih ada penegak hukum, wartawan dan LSM yg bisa diajak “main mata”.

Inilah saatnya jiwa Nasionalis kita bangkit dan harus dibangun dan dipertahankan. Cukuplah sudah kita sengsara, karena keinginan dan kepentingan pribadi. Buang jauh-jauh kepentingan. Mari sama-sama rapatkan barisan.

Menurut pembaca ?.
1. Apa yg sebaiknya kita/negara lakukan dalam kondisi seperti ini.
2. Bagaimana cara memberantas para pejabat yg masih saja berkolusi dg pengusaha utk menghabiskan uang Negara ini.
3. Bagaimana cara memberantas oknum2 penegak hukum, wartawan dan LSM yg masih saja “main mata”.

(Terima kasih atas sumbangan pendapatnya. Kali aja bisa diusulkan ke SBY dan JK sebagai bahan masukan ) Hehehehehe.