SUBUH kemarin saya medapat kabar bahwa mertua pria kakak saya meninggal dunia. Pagi itu juga sekitar pukul 10.00 WIB saya langsung ngelayat ke seberang. Tak lama saya duduk di rumah duka, jenazah almarhum dimandikan. Saya pun kemudian melihat langsung bagaimana prosesi memandikan mayat tersebut dan kemudian dikafankan selanjutnya disholatkan dan langsung dibawa ke pemakaman, untuk dikebumikan. Prosesi ini merupakan yang kedua kalinya saya saksikan. Sebelumnya saya menyaksikan prosesi ini ketika ayah saya meninggal dunia. Yah kira2 sekitar setahun lebih yang lalu.
Apa yang saya lihat itu menyadarkan akan kematian yang pasti datang. Tidak itu saja, saya mulai berpikir tentang persiapan untuk kematian itu… Hmmmm sesak juga menulis cerita kematian ini. Tapi tak apa-apa, ini harus saya tulis demi mengisi blog sekaligus sebagai alat untuk mengingatkan saya tentang kematian yang pasti akan datang.
Kebersihan mayat itu betul-betul diperhatikan oleh petugas yang memandikan mayat. Begitu telitinya, petugas bahkan menyuruh anak almarhum untuk mencium tangannya yang baru saja digosok ke bagian dubur mayat. Singkatnya, anak atau keluarga mayit menjadi saksi, bahwa mayat yang dimandikan betul-betul sudah bersih, sebelum dikafankan.
Setelah betul-betul bersih, mayit kemudian disiram dengan air khusus (saya ngak tahu air apa), dan kemudian dipercikkan air bunga mawar. Terakhir di-wudu-kan. Baru kemudian dikafankan. Kain Ihrom yang pernah digunakan almarhum saat haji dikenakkan dibagian dalam untuk pembungkus tubuh mayit. Dan kemudian barulah dilapisi dibagian luarnya dengan kain kafan.
Air bunga mawar dan pewangi non alkohol, kembali dipercikkan di kain kafan. Lalu mayit juga dipakaikan celak.
Subhanallah, begitu sempurna dan bersihnya mayit tersebut untuk dihantarkan ke hadapan Allah. Saya benar2 terpana. Tak terasa air mata ini berderai juga, membasahi pipi. Karena malu, cepat2 saya usap dengan tangan. Mungkin saya termasuk orang yg cengeng.
Jam menunjukan pukul 12.00 WIB tanda waktu sholat Zuhur tiba. Mayat pun dibawa ke masjid terdekat dari rumah duka. Setelah sholat Zuhur berjamaah selesai, mayit langsung disholatkan. Jumlah jamaahnya sekitar 200 orang lebih. Setelah berdoa untuk mayit, langsung dibawa ke pemakaman, dengan menggunakan mobil ambulan.
Setelah dikuburkan, seorang kiyai membaca talkin. Setelah selesai baca talkin dan doa, salah seorang keluarga almarhum berdiri, yah semacam memberikan kata sambutan. Tapi yg dibahas ttg almarhum. Yah mohon maaf jika ada kesalahan selama hidupnya. Dan jika ada utang-piutang agar diselesaikan secepatnya dg pihak keluarga. Sekaligus pengumuman tahlil untuk malamnya.
Prosesi pemakaman pun selesai. Semua pelayat langsung pulang. Saya memilih pulang lebih awal, karena takut terjebak macet. Maklum– jalan Seberang sedikit sempit dan sulit untuk memutar mobil.
Selama dalam perjalanan pulang, saya selalu berpikir, sambil memperbanyak membaca istgfar, kalimat tauhid dan bertasbih. Sambil menyetir, saya membayangkan kematian itu datang untuk saya……
Hmmmm sesak napas ini untuk meneruskan tulisan ini. Saya betul-betul minim persiapan utk itu. Terlalu banyak dosa yg sudah saya perbuat. Sungguh sudah teramat banyak dosa ku ini. Sementara ibadah ku masih jauh dari sempurna. Ya Allah ampunilah dosa ku. Sempurnakanlah ibadahku. Kumpulkan aku bersama orang2 yg solihin.
Tulisan ini untuk diri saya sendiri, agar bisa mengingat kematian yg akan menjemput. Sekaligus mengingatkan para pembaca. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam tulisan.
Setelah membaca tulisan yg tdk berarti ini, saya mohon bantuan pembaca dan minta waktunya sejenak utk membaca doa kepada almarhum mertua kakak saya dan ayah saya Ahmad Lutfi, semoga dosa-dosanya diampuni, amal ibadahnya diterima oleh Allah dan ditempatkan di surga –sebaik-baik surga. Sekaligus saya mohon doa untuk diri saya, agar bisa menyempurnakan ibadah…. Dan tidak lagi mengulangi dosa-dosa lama. //Terima Kasih//



Komentar Anda