Mengeruk keuntungan dari pemadaman listrik

14 08 2008

PEMADAMAN listrik secara bergilir yang diberlakukan PLN, banyak dikeluhkan warga, termasuk pelaku usaha. Tapi, setelah ditelusuri, ada juga pihak yang merasa gembira dan merasa diuntungkan dari pemadaman listrik secara bergilir ini. Siapa mereka ?.
Mereka adalah, pedagang lampu cas, genset, lilin hingga lampu teplok. Penjualan produk alat penerangan ini langsung drastis meningkat, hingga 100 persen lebih. Suatu hari, tepatnya hari Selasa (12/8) saya sengaja mencari sebuah toko yang menjual lampu cas dan genset. Selain memang ditugaskan dari kantor untuk menelusuri harga dua produk ini, pasca diberlakukannya pemadaman listrik secara bergilir oleh PLN.

Karyawan SUN Elektronik saat memperlihatkan sejumlah produk lampu cas, yang laris terjual, akibat pemadaman listrik bergilir.

BAHAGIA: Karyawan SUN Elektronik saat memperlihatkan sejumlah produk lampu cas, yang laris terjual, akibat pemadaman listrik bergilir.

Saya kemudian singgah di toko SUN elektronik, dibilangan Sipin Ujung, Jalan Kapten Pattimura, Kelurahan Simpang III Sipin, Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi. Pagi itu jam baru menunjukan pukul 08.30 WIB. Namun sejumlah pekerja, sudah terlihat sibuk menyusun barang-barang dagangan dibagian depan ruko dua pintu tersebut. Sejurus kemudian, barang-barang elektronik berukuran besar sudah berjejer rapi didepan teras toko SUN Elektronik yang dipayungi kenopi warna hijau.
Saya kemudian menyambangi toko SUN Elektronik. Setelah menjelaskan maksud kedatangan, Lisa, pemilik SUN Elektronik, tanpa ragu bersedia untuk diwawancarai, seputar perdagangan lampu cas dan genset.
‘’Yah sejak, pemadaman bergilir. Penjualan lampu cas dan genset naik drastis. Kita sebagai pedagang, tentunya sangat senang. Untung bisa 100 persen lebih,’’ kata Lisa, seraya mengaku penjualan lampu cas sebelumnya hanya 50 unit perbulan, namun setelah adanya pemadaman bergilir, penjualan perbulan bisa mencapai 300 unit perbulan atau 10 unit lebih perhari.
Begitu juga dengan penjualan genset. Saat listrik stabil, penjualan genset hanya kisaran 5-6 unit perbulan. Tapi begitu adanya pemadaman listrik bergilir, penjualan genset bisa mencapai 3-4 perharinya. ‘’Sekarang saja stok genset habis,’’tandas ibu tiga anak ini, seraya mengaku dampak dari permintaan yang signifikan tersebut membuat harga menjadi naik. ‘’Kenaikan BBM tidak mempengaruhi harga. Tapi begitu permintaan naik, karena pemadaman listrik, harga ikut naik. Sebab kadang-kadang di agen barang kosong. Mungkin itu juga penyebab harga naik. Atau mungkin memang permainan agen,’’katanya.
Faktor lain yang menyebabkan penjualan lampu cas dan genset meningkat tajam, karena lebih efisien dan tidak beresiko. Selain harganya relative murah dan terjangkau. Untuk harga lampu cas, kisaran Rp 35 ribu – 200 ribu. ‘’Yah ketahanan batre casnya dari 5 jam hingga 40 jam. Tergantung jenisnya,’’sebut Lisa.
Meningkatnya penjualan, membuat tempat usaha SUN Elektronik yang terletak di Jalan Kapten Patimura Simpang III Simpin, Kotabaru ini, menambah karyawannya. Semula hanya tujuh orang kini sudah menjadi sepuluh orang. Tidak itu saja, meningkatnya omset, juga berimbas pada penghasilan karyawan. ‘’Gaji kami baru saja naik. Yah naik sekitar 50 persen,’’kata Danil, salah seorang karyawan SUN Elektronik ini.

Sayangnya, produk yang mereka jajakan dan laris dipasaran bukan lah produk dalam negeri. Semua lampu cas tersebut produksi dari China. Dan jangan -jangan didatangkan secara ilegal tanpa melalui bea cukai. Jika betul, tentu semakin banyak Negara Indonesia tercinta ini dirugikan.

Opss, tapi ada juga mereka yang tidak peduli dengan pemadaman listrik secara bergilir tersebut. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan lampu cas atau genset yang sedang laris manis dijual. Mau tahu?
Mereka adalah, warga miskin yang memang tidak pernah menikmati listrik. Meskipun negara ini sudah lama merdeka. Begi mereka, listrik ada, atau tidak, sama saja. Sebab mereka tidak pernah merasakan nikmatnya menggunakan listrik.(***)