EMPAT calon Walikota dan Wakil Walikota Jambi, kini tengah sibuk mencari simpati masyarakat. Masa kampanye yang dimulai Minggu (3/8/2008) lalu dimanfaatkan oleh masing-masing calon dengan berbagai kegiatan. Jalan santai, pengerahan massa, zikir akbar, hingga turun ke pasar tradisional Angsoduo.
Aktifitas kompanye dan cari simpati para calon Walikota dan Wakil Walikota Jambi 2008-2014 ini tak pernah dilewatkan oleh media local dan nasional. Praktis, hampir setiap hari, kegiatan cari simpati massa ini menjadi hiasan di halaman muka Koran-koran lokal. Maklum saja, karena perebutan kursi Walikota dan Wakil Walikota Jambi akan digelar 20 Agustus 2008 nanti.
Tapi bagaimana jadinya jika sebuah media, wartawannya atau krunya menjadi tim sukses salah satu kandidat?. Wah tentu saja akan tidak berimbang isi beritanya. Apalagi jika, sang wartawan sudah berani dengan terang-terangan memperlihatkan diri sebagai tim sukses. Ini lebih celaka lagi. Sebab, media tersebut, dipastikan tidak akan dibaca orang, kecuali satu aliran.
Tapi bagaimana jika disebuah media, didalamnya (wartawan/kru) ada berbagai simpatisan. Tentu nya akan ramai, setiap dead line. Masing-masing wartawan yang menjadi simpatisan, pasti akan selalu monitor setiap berita yang akan diterbitkan esok harinya. Yah, seperti tim sukses gitu.
Ruang redaksipun praktis akan ramai, dengan berbagai argument para simpatisan. Wartawan satu akan menyebutkan calon A yang paling hebat. Wartawan lainnya akan mengatakan calon B yang paling bersih. Wartawan yang lainnya lagi akan bilang calon C yang paling ramai saat kampanye. Tak jarang pula mereka saling hujat dan saling menjelek-jelekkan. Kondisi ini selalu menjadi pemandangan diruang redaksi kami.
Saya pun, ikut menimpal diantara mereka. Yah golput aja. Itu mungkin lebih baik. ‘’Wah jangan, itu berarti ikut Gus Dur,’’jawab Toni, wartawan Politik.
‘’Itu bisa dipenjara. Apa lagi mengajak-ajak orang lain,’’cetus Raden Surahman, Redaktur Daerah. ‘’Wah, yang mengajak-ngajak orang lain golput akan diganjar 3 tahun penjara,’’saut Novan, Redpel, yang duduk persis didepan saya.
Lantas siapa yang akan menang?. Saya lontarkan pertanyaan ini pada teman-teman di Redaksi:
‘’No 3 lah (Bambang-Sum),’’sebut Novan. ”Kita kan membela yang bayar. Karena pasangan Bambang-Sum yang lebih banyak pasang iklan dan society,”timpal Novan sembari melihat tulisan yang saya ketik.
‘’Jelas No 4 (Asnawi-Nuzul) yang menang. Pasti. Harus pilih orang Jambi,’’jawab Harmen, Penjab Jambi Raya.

HARAMEN: Yakin dengan pilihan Asnawi-Nuzul, karena putra daerah. Pasti Menag. Pede dan penuh keyakinan.
‘’Saya diantara keduanya No 3 dan No 4,’’saut Toni, dengan ragu-ragu. Namun si Toni, Penjab halaman Politik ini tidak mau disebut sebagai golput. ‘’Yang jelas diantara keduanya. Kan, masih lama waktunya,’’ujar Toni, diplomatis.
‘’Saya Sutrisno (No 1),’’gurau Raden Surahman, menyaut debat kami. ‘’Wah, itu Raden jelas ke Bambang (no 4),’’tegas Novan.
Namun beda dengan Indrawan, yang punya nama beken Kliwon. Ia menegaskan tidak memilih semua kandidat. ‘’Tidak ada yang saya pilih. Golput aja,’’ kata Penjab Olahraga ini.
Ternyata, pilihan Golput tidak hanya Kliwon. Robi, mantan Kabak Pracetak ini juga dengan santai mengungkapkan pilihannya Golpu. ‘’Golput lah. Itu lebih baik,’’ungkap Robi santai.
‘’Netral aja. Karena tidak ada yang peduli dengan IT,’’tutur Hono, Kabag IT.(****)









Komentar Anda