
Rilek diwaktu senggang bersama istri Melly Susanti di Saudi Arabia, Mei 2008
MUNGKIN semua wanita akan marah jika suaminya mencintai orang lain dari pada dirinya. Tapi istri ku Melly Susanti, tidak. Ia sangat tahu, jika aku lebih mencintai orang lain, dari pada dirinya. Bahkan jika, disuruh memilih aku tetap katakan hal yang sama. Ia lagi-lagi tidak marah.
Hal ini sering aku utarakan, bahkan sebelum ia aku nikahi. Saat itu ia masih kuliah di Akademi Kebidanan (Akbid). Dan sekarang istri ku sudah mendapatkan gelar sarjana diploma Kebidanan (AMKeb) dan sudah jadi PNS. Sesekali ucapan itu kembali aku ulang. Dan ia hanya bisa menangis.
Sebesar apa cintaku pada orang itu. Jika dibanding-bandingkan, forsinya sangat terpaut jauh. Mungkin 50 banding 100. Hemmm, soal hitung-hitungan forsi agak sulit ditimbang. Karena hingga saat ini timbangan untuk perasaan hati tidak ada jualannya. Heheheheheh.
Jadi hitungan forsi yang saya sebut itu hanya perkiraan saja. Sebab selisihnya mungkin bisa lebih jauh lagi. Hahahahahaaa…..
Mau tahu orang yang bisa memikat hati ku, hingga istri ku bisa tergeser dibuatnya, jika mengganggu atau memarahinya?. Dia adalah wanita yang sangat cantik. Kulitnya putih bersih. Tubuhnya tinggi sekitar 165 cm. Rambutnya lurus tergurai. Hatinya baik. Perasaannya lembut and so pasti Alim dan sangat perhatian dengan ku. Dialah wanita yang sangat aku cintai saat ini. Yang forsinya melebihi cinta ku pada istri.
Aku sadar sikap ini sangat membuat marah istri ku. Namun, berlahan ia mulai menyadari bahwa sikapku itu, merupakah prinsip yang memiliki dasar yang kuat. Dasar prinsip yang saya maksud, akan saya ceritakan nanti. Ntar… habis deh ceritanya. Wuhhhhhh.
Suatu ketika, sekitar pukul 00.00 WIB, saat aku pulang, istri ku menagis tersedu-sedu di kamar seorang diri. Aku bertanya, ada apa gerangan ?. Ternyata persoalannya, karena WIL (Wanita Idaman Lain) ku. Saat itu, aku coba menenangkan perasaannya. Ia berontak. Aku coba, untuk yang kedua kali. Ia tetap berontak dan tidak terima. Aku, peluk erat tubuhnya dan aku coba untuk yang ketiga kalinya menenangkan perasaannya, sembari menjelaskan tentang prinsip dan dasar yang aku pegang. Ia tetap berontak. Kesabaran ku habis. Aku berdiri sambil marah. Amarah ku tidak tertahan. Tapi, malam itu aku masih bisa mengendalikan diri. Aku ambil cara diam. Dan mengunci mulut ku dengan seribu bahasa. Hingga akhirnya kami tertidur pulas, tanpa tegur sapa.
Paginya ia masih marah. Aku tetap diam. Menjelang siang saat ia kerja, SMS masuk ke HP ku. Ternyata dari istri ku. Ia kembali marah-marah dalam SMS. Aku coba membalas dengan kata-kata yang dapat menenangkan hatinya. Istri ku kembali membalas SMS ku dengan kata-kata ancaman ; ingin pulang kampung. Kali ini SMS nya tidak aku balas. Ia kembali SMS dangan tulisan yang lebih kasar lagi. Tapi tetap tidak aku balas. Berulang kali ia missed call HP ku. Setiap kali ku angkat HPnya mati. Akhirnya, aku coba hubungi dia. Ia marah-marah, semua yang ditulis dalam SMS kembali diungkapkannya dengan kata-kata. Aku coba menenangkan, tapi dia tidak terima. Aku balik marah, dan HP ku tutup, tanpa salam.
Siang itu aku masih disibukkan dengan pekerjaan rutinitas ku. Namun hati ini tidak tenang. Terlebih istri ku selalu meneror lewat HP. Menjelang sore, aku pun pulang. Ku dapati istriku diatas ranjang sambil menutup mukanya dengan bantal. Amarah ku menggelegak. Semua prinsip dan dasar pemikiran ku, hingga mencintai wanita lain tersebut aku utarakan, dengan nada tinggi. Tapi ia tetap tidak terima.
Dubrakkkkkk. Tangan ku secara spontan, memukul lemari yang ada di kamar, hingga pintu tersebut jebol. Wajahnya pucat pasi. Ia kembali aku rangkul, dan aku beri pengertian. Kali ini ia mulai melunak. Sore itu menjelang magrib, ia aku ajak makan malam diluar. Dan kehidupan kami kembali normal, romantis dan bahagia.

Mesra bersama ibuku Hj Nyimas Fauziah
Tahukah, siapa wanita yang sangat super istimewa yang aku bela…? Dia adalah wanita yang melahirkan ku. Namanya Hj Nyimas Fauziah, yang kini tinggal serumah dengan ku. Sebelum ayah ku wafat, dia juga merupakan bagian orang yang aku cintai, yang cinta ku terhadapnya juga melebihi cinta ku pada istri. Tapi kini ayah ku H Ahmad Lutfi, sudah tiada. Hanya doa yang kini aku kirimkan padanya, tanda bakti ku padanya.
Ya Allah ampunilah dosa ayah ku H Ahmad Lutfi bin HM Yusuf. Terimalah amal ibadahnya. Berikanlah ia tempat sebaik-sebaik tempat di surga Mu Jannatul Firdaus, Amin.
O..ya, sebuah dasar dan prinsip yang aku pegang dan tidak bisa tergoyangkan oleh dasar apapun adalah Al Quran dan Hadis. Yang mana dijelaskan bahwa seorang laki-laki wajib berpihak kepada orang tuanya. Sedangka seorang wanita wajib berpihak kepada suaminya. Namun keberpihakannya tetap pada dasar kebenaran. (****)



subhanallah….sebuah kisah indah yang mungkin tak terlupakan, tapi menginspirasi banyak orang, termasuk aq…thanks ya bang…cintamu luar biasa!!!!!salut….