Wartawan Karyamu Kini

Disela sesaknya deadline

Hidup Dalam Keseimbangan Dua Arah

Posted by Jay pada Agustus 6, 2008

Ibadah Umroh Bersama Istri Tercinta, Mei 2008

Ibadah Umroh Bersama Istri Tercinta, Mei 2008

KEHIDUPAN ada dua. Kehidupan sebelum mati yang disebut dengan kehidupan Duniawi dan kehidupan setelah mati, yang disebut dengan kehidupan Ukhrowi. Kehidupan yang saat ini kita rasakan adalah kehidupan Duniawi. Sementara kehidupan Ukhrowi tak bisa diraba dan belum bisa dirasa saat ini.
Kedua alam ini sangat berbeda. Kehidupan di dunia, kita tata selama didunia. Persiapannya dirancang sejak dari kecil, dengan cita-cita dan sekolah di TK.  Yang berhasil dan sukses tentu melalui proses keras keras. Sementara yang malas, akan menuai kegagalan. Sementara kehidupan Ukrowi, adalah kehidupan yang harus dipersiapkan di dunia.
Saat saya menulis, tangan ini menari-nari diatas keyboard dan otak saya terus berpikir tentang materi tulisan yang akan saya beberkan. Sementara mata ini tak terpejam, mengawasi kata demi kata yang tertera dalam monitor. Padahal jam sudah menunjukan pukul 01.30 WIB Sabtu (23/5/2008) dini hari.
Jika ketiga organ tubuh ini tidak mau bekerjasama, tentu saya tidak bisa menulis apa yang menurut saya perlu untuk diutarakan.
Bayangkan, jika saat ini mata ini ngantuk, tentu pikiran dan tangan ini tidak bisa bekerja. Demikian pula jika tangan saya, semisalnya sedang sakit, tentu tulisan ini tak bisa saya ketik. Begitu pula dengan otak saya. Jika saat ini pikiran saya lagi blank tentu tangan dan mata ini tak akan dapat bekerja, karena tak tahu apa yang harus ditulis.
Beda halnya dengan denyut jantung ini dan darah. Keduanya terus bekerja. Disaat saya sibuk, jantung dan darah ini mengikuti irama kerja saya. Ketika saya tidur, jantung dan darah ini terus berdetak dan mengalir, mengikuti irama nafas ini.
Sungguh besar karunia Allah SWT, yang telah menciptakan semua yang tak akan sanggup dibuat oleh manusia.
Lantas apa hubungannya dengan Hidup Dalam Keseimbangan Dua Arah.  Baiklah. Bismillahirrohmanirrohim.
Ibadah_23 Sebelum tulisan ini saya buat, perlu saya jelaskan bahwa penulis bukanlah seorang Kiayi atau Ustadz atau Ulama. Penulis hanyalah seorang yang pernah nyantri di salah satu Pondok Pesantren di kawasan Ponorogo, Jawa Timur dan kemudian sempat terjerumus ke lumbung dosa. Astagfirullahalazim.
Selesai mondok tahun 1994, penulis sempat terjerumus dalam pergaulan anak muda yang bergelimang dosa. Gemerlap kehidupan malam menjadi bagian dari pergaulan, yang sangat dirasakan menyesatkan. Banyak sekali dosa yang sudah saya lakukan kala itu. Yah… semua telah saya coba.
Praktis hasil bisnis dan pekerjaan saya habis untuk mengumpulkan dosa. Hingga akhirnya saya pun tamat kuliah di Fakultas Ekonomi Managemen  Unbari tahun 2002, saya baru mulai kuliah tahun 1997. Begitu tamat, saya berinisiatif untuk kerja dengan orang atau perusahaan orang lain. Sekitar bulan Mei 2002 sebuah media cetak lokal di Jambi menerima saya. Namanya Harian Pagi Jambi Ekspres, saat itu masih berkantor di Jalan Kolonel Abunjani, Sipin Ujung.
Jujur saja, saat itu saya termotifasi masuk Jambi Ekspres hanya karena ingin meninggalkan kehidupan hitam saya. Minimal dapat meninggalkan Narkoba. Saat itu saya lagi candu-candunya denga ganja dan ekstasi. Tiada hari tanpa mengkonsumsi barang haram itu.
Pemikiran saya, dengan bekerja di Jambi Ekspres, waktu saya akan habis, dan kesempatan saya untuk mengkonsumsi narkoba akan terbatas, karena kesibukan kerja.
Bisnis bengkel yang saya kelola selama kuliah kemudian saya percayakan kepada teman namanya Tobar dan kini usaha bengkel tersebut saya percayakan pengelolaannya kepada saudara sepupu namanya Fauzan alias Makyek. Sedangkan usaha kontraktor, saya tinggalkan untuk sementara waktu. Sementara, bisnis-bisnis saya yang lainnya sudah gulung tikar semua. Suppler bahan bangunan di sejumlah perumahan, peternakan ayam boiler, café dan banyak lagi bisnis yang akhirnya tutup tanpa ada bekas, kecuali pengalaman.
Dengan tekad ingin meninggalkan narkoba saya kemudian memulai bekerja sebagai wartawan. Harapan saya untuk menghabiskan waktu dipekerjaan benar-benar terjadi.
Berangsur, Narkoba mulai saya kurangi. Saya terus berjuang, untuk menghilangkan narkoba dari kehidupan saya. Agustus 2004, saya kemudian menikahi pacar yang selama itu mengerti dengan kehidupan saya ia adalah Melly Susanti, AMKeb.
Meski sudah bekeluarga namun Narkoba dan miras masih saja mengikuti kehidupan saya. Namun tidak separah dulu lagi. Istri saya yang sangat pengertian, semakin membuat saya terus berjuang untuk meninggalkan dosa itu.

Di Depan Masjid Nabawi, Madinah Bersama Istri Tercinta.

Di Depan Masjid Nabawi, Madinah Bersama Istri Tercinta.

Setiap selesai sholat, saya selalu berdoa agar dijauhi dari godaan setan dan iblis dan dikuatkan iman. Doa untuk keberhasilan pun tak pernah terlewatkan. Dan kerab kali saya berpesan kepada ibu saya Hj Fauziah, untuk selalu mendoakan saya. Untuk keberhasilan dan keselamatan saya. Saya sangat yakin, doa yang aku panjatkan dan doa yang aku titipkan kepada ibu yang melahirkan diriku akan dikabulkan oleh Allah SWT.
Alhamdulillah doa saya didengar oleh Allah SWT. Semua urusan saya diberi kemudahan, usaha saya berjalan lancar dan rezeki ini terus mengalir. Dengan rezeki sedikit itu saya pun mampu membeli tanah di kawasan kenali Besar, membeli mobil Datshun, membeli mobil Phanter, merehab rumah, membeli rumah di perumahan Puri Mahebat (Kredit), dan saat ini sedang membuka perkebunan di kawasan Muba, Sumsel. Semua adalah investasi saya untuk di dunia atau di duniawi.
Februari 2008, saya masih memiliki simpanan uang tak lebih dari 90 juta. Jumlah yang bagi saya sangatlah banyak. Bersama teman-teman saya kemudian membuka usaha baru yang diberi nama Jambi Portalindo.
Disela-sela saya membuka usaha baru, Allah SWT membuka pikiran dan hati bersih ini. Entah bagaimana, tiba-tiba Saya merasa malu kepada tuhan yang telah memberikan saya rezeki. Sementara rezeki itu hanya saya pergunakan untuk berinvestasi di dunia.
Sayapun kemudian membicarakannya dengan istri tercinta, untuk melakukan Investasi Akhirat. Melaksanakan ibadah Umroh adalah pilihan saya, selain terus bersedekah, walau hanya kepada pengemis jalanan.
Sebagian uang, saya peruntukan modal usaha baru (investasi dunia), sedangkan sebagian lagi saya peruntukan biaya Umroh (investasi Akhirat). Ongkos berangkat umroh satu orang Rp 15 juta (dua orang 30 juta).
Rabu 30 April 2008 saya dan istri Melly Susanti, berangkat ketanah suci Makkah, untuk melaksanakan ibadah Umroh. Saya yakin, Umroh yang saya lakukan adalah bagian doa saya yang dikabulkan oleh Allah SWT.
10 Mei 2008, saya beserta istri tiba di Jambi, setelah melaksanakan ibadah Umroh. Kini aku sudah tidak lagi menyentuh Narkoba dan miras.
Ya Allah, sungguh dosa yang aku perbuat sangatlah banyak. Hamba bukanlah ahli surga tapi hamba tidak sangup untuk di neraka. Ya, Allah, jika kau masih beri aku umur panjang maka berikanlah kekuatan bagi ku untuk dapat menjalankan kehidupan didunia ini dengan rahmat dan ridhoMu. Namun bila maut akan tiba pada diriku ini, datanglah ia saat hamba berada diatas sajadah sembari berzikir memujaMu. Ya, Allah, yang maha pengasih lagi maha pemurah dan mendengar apa yang ada didalam hati ku ini, kabulkanlah doa hamba yang sangat hina dan penuh dosa ini, Amin.

Satu Tanggapan to “Hidup Dalam Keseimbangan Dua Arah”

  1. ndank berkata

    nice story…
    takdir allah berada di ujung ikhtiar. Jadi, barang siapa berikhtiar sungguh-sungguh, maka kasih sayang allah pun akan secepat kilat menyambut dan memberikan perlindungannya. Selanjutnya, bersyukurlah, bersujudlah, jika saat fajar tiba, kita masih bisa melihat senyum orang-orang tercinta…..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.