Melihat Kota Makkah dan Sistem Kerajaannya

6 08 2008

Bebas Pajak, Kesehatan & Pendidikan Gratis,Gaji Guru 40 Juta

Kondisi seputar masjidil haram Makkah yang sedang direnovasi Mei 2008

Kondisi seputar masjidil haram Makkah yang sedang direnovasi Mei 2008

Provinsi Makkah adalah sebuah provinsi Arab Saudi yang memiliki luas wilayah 164.000 km. Ibu kotanya ialah Mekkah.
Di Kota inilah Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Di kota ini pula wahyu Al Quran pertama kali diturunkan.
Makkah memiliki sebuah masjid bernama Masjid Al-Haram, dimana didalamnya terdapat sebuah bangunan bernama Ka’bah yang merupakan bangunan suci bagi umat Islam seluruh dunia dan menjadi kiblat dalam sholat. Di Ka’bah, terdapat sebuah batu hitam yang dipercaya berasal dari surga bernama Hajar Aswad.
Apa saja keajaiban yang ada di Kota Makkah, berikut cerita yang saya kemas, usai menjalankan Ibadah Umrah bersama istri Melly Susanti 1-10 Mei 2008 Lalu.

SENIN (5/5/2008) sekitar pukul 11.30 waktu Saudi Arabia, matahari serasa tepat berada diatas kepala dan sangat terasa menyengat. Suhu panas diperkirakan mencapai 38 derajat lebih. Setelah malam sebelumnya melaksanakan Umrah (tawaf, syai dan tahalul) bersaama rombongan, siang itu kami diberi waktu untuk istirahat. Tapi siang itu saya memilih untuk ke Masjidil Haram untuk salat Zuhur berjamaah.
Setelah berwudu dengan air zam-zam, saya mengambil posisi salat ditengah, sejajar dengan pintu Ka’bah. Panas yang menyengat tidak berpengaruh terhadap ubin/lantai yang ada di sekeliling Ka’bah. Tidak ada rasa panas sedikitpun dilantai yang saya pijak. Beda halnya dengan lantai teras Masjid An Nabawi di Madinah. Jika siang, lantai teras di Masjid An Nabawi, tidak akan bisa dilalui kecuali mengenakkan alas kaki.
Tiga hari kemudian diwaktu yang sama, saya memilih salat di lantai tiga Masjidil Haram. Sebelum salat Zuhur, saya melaksanakan tawaf sunah dibagian teras lantai atas. Tidak banyak yang tawaf ditempat ini, jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.
Sementara dibawah ribuan umat muslim terlihat khusyu melaksanakan tawaf meski disengat matahari. Dibagian sebelah kanan pintu Ka’bah, terlihat ribuan umat Muslim berebut-rebut untuk mecium Hajar Aswad. Demikian pula di bagian pintu Ka’bah dan Yaman. Sementara dibagian kiri dari pintu Ka’bah, ratusan umat berebut salat sunah di pancuran emas atau Hijir Ismail. Seorang polisi bertubuh gelap tampak berjaga-jaga diantara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Dan dua orang polisi lagi mengatur jamaah yang ingin masuk dan salat sunah dibundaran Hijir Ismail, tepatnya dibawah pancuran emas.
Jika dilantai bawah yang sejajar dengan Ka’bah, tidak terasa panas, meski matahari menyengat. Lain halnya dengan ubin di lantai atas. Meski hanya sebagian terasnya yang tersiram matahari, namun rasa panas terasa ditelapak kaki ini. Saya pun terpaksa sedikit menghindar, menjorok kedalam untuk menghindar panasnya lantai ubin akibat sengatan matahari.
Keinginan saya untuk mengetahui kehidupan warga kota Makkah semakin bertambah. Malam itu usai makan malam, selepas salat Isya di Masjidil Haram, saya menghubungi teman satu alumni di Jawa Timur. Namanya Abrar, 32, asal Kualatungkal, bekerja di Makkah sejak lima tahun lalu. Malam itu juga ia langsung menyambangi saya, yang nginap di Eman Plaza Hotel di kawasan Ghazza.
Menurut cerita Abrar, kerajaan Saudi Arabia, sangat otoriter. Rakyat atau pengusaha tak bisa menolak keputusan kerajaan. Sebut saja pembongkaran yang dilakukan di kawasan Syamiyah. Puluhan bangunan pencakar langit dibongkar, karena untuk pengembangan Masjidil Haram. Tidak ada protes atau demo disini.
Entah apa yang terjadi jika itu dialami Indonesia. Mungkin pemerintah akan selalu di demo, karena berbagai alasan. Kehilangan pekerjaan, dan lain sebagainya adalah isu yang paling populer untuk melakukan penolakan. Entah berapa pula korban jiwa, untuk penolakan itu.
Meski kerajaan Saudi otoriter, namun rajanya sangat mencintai dan memperhatikan rakyatnya. Pendidikan dan kesehatan diberikan secara gratis. Meski pendidikan dan kesehatan gratis, tapi gaji perawat, dokter dan guru sangat tinggi. Untuk gaji sekolah bisa mencapai 16000 Real lebih atau sama dengan Rp 40 Juta.
Pendidikan dan kesehatan gratis tersebut tidak ada batasannya. ‘’Sakit apapun disini berobatnnya gratis,’’tandasnya.
Tidak itu saja, Negara yang dikenal dengan kaya minyaknya itu juga membebaskan pajak terhadap seluruh produk. ‘’Disini tidak ada pajak. Semua kendaraan bebas pajak. Dan disini banyak jalan mirip tol, juga gratis. Tidak seperti Indonesia, masuk jalan tol harus bayar,’’ungkap alumni Unja ini.
Karena bebas pajak, harga kendaraan pun relatif murah. Sementara untuk plat atau nomor polisi (nopol) baru bisa didapat setelah pemilik/pengemudi memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi).
Tapi, bagi pengendara yang melanggar rambu lalu lintas, akan mendapatkan hukuman yang cukup berat. ‘’Jika nembak lampu merah, kita akan didenda 900 Real sama dengan Rp 2.250.000 plus kurungan penjara satu hari,’’jelasnya.
Sementara bagi mereka yang tidak memiliki SIM atau tidak memiliki nopol sangat beresiko. ‘’Jika kedapatan tidak memiliki SIM, maka kendaraannya akan disita dan tidak dikembalikan lagi plus denda uang,’’kata Abrar.
Lantas berapa harga minyak sejenis premium?. Untuk satu liter minyak, hanya seharga 45 Halalah atau kurang dari satu real, sama dengan Rp 1.125.
‘’Ini kan Negara minyak. Yah, jelas murah-lah harga minyaknya. Tapi sebenarnya, dibandingkan dengan Negara kita, Indonesia jauh lebih kaya sumber daya alamnya. Disini hanya mengandalkan minyak dan visa pengunjung. Warga asli Arab sering merasa heran dengan kondisi Indonesia,’’cerita Abrar, sambil memesan roti khas Arab di salah satu kedai di pinggr jalan.





Melihat Keajaiban Kota Madinah

6 08 2008

Mobil Melaju 120 Km/Jam Tanpa Hidup Mesin

di Jabal Al Baydo atau Bukit Magnet, Mobil Berjalan Tanpa Menghidupkan Mesin.

di Jabal Al Baydo atau Bukit Magnet, Mobil Berjalan Tanpa Menghidupkan Mesin.

Al Madinah meupakan salah satu Provinsi Arab Saudi. Ia terletak di pantai barat, pesisir Laut Merah. Pusatnya ialah Madinah. Kota ini merupakan tempat hijrah Nabi Muhammad SAW, dari Makkah setelah dikejar kaum Kafir Kurais. Di mana Nabi Muhammad SAW menjalankan dakwah selama 10 tahun.
Di tengah kota Madinah inipula Masjid An Nabawi atau Masjid Haram An Nabawi dibangun oleh Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya. Pembangunannya dimulai pada bulan Rabiul Awal tahun 1 H (September 662M) setelah beliau hijrah dari Makkah ke Yastrib (nama Madinah dulu).
Peletakan batu pertama dilakukan oleh Nabi SAW diikuti oleh para sahabat, Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Awalnya Masjid ini sangat kecil yaitu hanya sekitar 1050 m2 saja. Tiang-tiang dibuat dari batang kurma sedangkan penerangannya dari pelepah kurma yang dibakar.
Di kota Madinah Al Munawwarah inilah Nabi Muhammad SAW wafat. Keistimewaan masjid Nabawi ialah adanya makam Nabi kita Muhammad SAW, dan sahabatNya Abu bakar dan Umar. Tempat makam ini gampang ditandai dari luar karena kubah hijau besar terletak diatasnya dan merupakan satu-satunya kubah yang berwarna hijau, juga terletak Raudah dekat makam Nabi Muhammad SAW yang dipercaya nantinya merupakan bagian dari taman di surga.
Dari sebuah kisah diceritakan bahwa tempat makam Nabi besar Muhammad SAW itu dulunya merupakan rumah rosulluah Muhammad SAW.
Nabi bersabda dalam Hadisnya : yang artinya kurang lebih : ‘’Barang siapa salat di Masjid Ku (An Nabawi) maka akan mendapatkan pahala 1000 kali salat di Masjid biasa. Dan siapa yang salat di Masjidil Haram akan mendapatkan pahala 100.000 kali dari masjid biasa’’.
Apa saja keajaiban di Madinah yang bisa dilihat secara zohir atau kasat mata. Berikut cerita penulis yang baru saja menjalankan Ibadah Umrah bersama istri Melly Susanti, AMKeb (01-10 Mei 2008).

Bismillahirrohmanirrohim

PAGI itu KAMIS (1/5/2008) sekitar pukul 09.30 WIB saya berangkat dari bandara Sukarno-Hatta Jakarta, menuju King Abdul Aziz Jeddah dengan pesawat Garuda Indonesia 984. Jarak tempuh Jakarta-Jeddah sekitar sembilan jam. Sekira pukul 18.30 WIB atau pukul 14.30 waktu Saudi Arabia kami tiba di Jeddah.
Tidak ada keistimewaan di bandara internasional ini, selain gurun pasir yang menggelilingi landasan yang sangat luas. Sementara bangunan bandara tampak sederhana dan tidak juga terlalu besar, dibandingkan bandara Soekarno-Hatta. Setelah melalui proses imigrasi dan mengambil barang bagasi, kami dijemput sekitar tiga orang guide yang sudah menanti rombongan Al Mabrur. Yang kemudian langsung membawa kami ke Madinah dengan menggunakan bis. Sebelum keluar dari bandara di Jeddah, tampak kembang kertas yang sedang berbunga. Jumlahnya cukup banyak dan tersusun rapi dalam dua baris. Baris pertama kembang berwana merah dan baris kedua berwarna putih.
Menurut cerita, kembang tersebut pemberian dari mantan Presiden RI, Soeharto. Yang sengaja dikirim dari Indonesia beserta tanah-tanahnya.
Sementara bis terus melaju keluar dari bandara menuju Madinah. Jarak tempuh Jeddah-Madinah sekitar 5 jam perjalanan dengan bis. Sepanjang jalan yang tampak hanya gurun pasir dan bukit batu. Suasana gersang sangat tertera dikawasan ini. Sementara tanaman hanya terdapat ditempat-tempat tertentu. Itupun dibantu dengan keran air disetiap batang pohon.
Menjelang tengah malam kami baru tiba di Madinah dan langsung nginap di Al Rawda Sakan Hotel yang letaknya sekitar 200 meter dari Masjid An Nabawi. Meski menempuh perjalanan jauh, namun tidak ada rasa lelah dalam tubuh ini. Setelah makan malam dan istirahat di hotel, dinihari sekitar pukul 03.30 waktu Saudi Arabia, saya beserta istri dan jamaah lainnya menuju, ke Masjid An Nabawi atau disebut juga dengan Masjid Haram An Nabawi, untuk melaksanakan salat subuh berjamaah.
Mesjid dengan 10 menara besar itu langsung menampakkan kebesarannya. Ribuan tiang pilar dibalut dengan kuningan emas, semakin menambah kemegahan.
Hari itu, saya habiskan waktu di Masjid, dan berziarah. Tempat ziarah yang pertama kali saya kunjungi yakni makam Nabi Muhammad SAW, dan sahabatnya Abu Bakar dan Usman, yang letaknya didalam Masjid. Tempat ini disebut dengan Raudoh atau Taman Surga, yang dulunya merupakan rumah Nabi Muhammad SAW. Semua pintu rumah yang kini menjadi makam, terbuat dari emas. Begitu pula dengan mimbarnya yang terletak dibagian depan. Seorang Polisi berjaga-jaga di mimbar dan seorang polisi lagi berjaga di makam Nabi Muhammad SAW.
‘’Syirik, syirik, syirik,’’ucap polisi yang menjaga pintu Raoudoh, kepada salah seorang peziarah yang mencoba memegang pintu sambil meratap-ratap dan berderai air mata.
Setelah melaksanakan Salat Sunah dan berdoa di depan mimbar dan raudah, saya kemudian melanjutkan ziarah ke Baki, tempat pemakaman para keluarga Nabi dan sahabat-sahabatnya. Letaknya sekitar 200 meter dari Masjid Nabawi. Ribuan pemakaman terlihat digurun pasir yang berbatuan ini. Tidak ada keramik atau tulisan diatas makam tersebut. Hanya pasir dan diatasnya batu gunung ukuran kecil yang didjadikan sebagai batu nisan. Ukurannyapun tidak sama.
Keesokan harinya, Sabtu (3/5) sekira pukul 07.30 WIB kami pun melakukan ziarah ketempat-tempat bersejarah. Diantaranya Masjid Quba, masjid pertama kali didirikan Nabi Muhammad, kebun kurma, Jabal Uhud, makam para Suhada Uhud, singgah di Masjid Qiblatain dan ke Jabal Al Baydo atau bukit Magnet.
Jabal Al Baydo atau bukit Magnet, baru ditemukan dua tahun terakhir dan bukan merupakan tempat bersejarah. Karena diluar program, sopir bis yang membawa kami minta tambahan ongkos, sekitar 300 Reala (Rp 750 ribu). Dengan cara patungan, kamipun menyanggupi tambahan ongkos tersebut.
Bukit yang ada di Jabal Al Baydo ini mengandung Magnet dan Emas. Meski jalannya bagus, besar dan rata, namun untuk menuju kesana, sopir sedikit kewalahan. Karena mobil tidak bisa ditancap gas. Meski pun pedal gas sudah ditekan habis. Saya pun langsung mengambil posisi duduk paling depan. ‘’Kita sedang berlawanan arah. Jadi tidak bisa kencang,’’sebut Fauzi, Ketua KBIH Al Mabrur sambil menunjukan jarinya ke sppedo meter yang jarumnya menunjukan angka 40 dan pedal gas yang ditekan sopir.
Sementara di kiri kanan jalan tidak terlihat bangunan. Yang ada hanya bukit berbatuan. Warna bukit-bukit itu coklat kemerah-merahan.
Dua jam perjalanan kami pun sampai di ujung lokasi yang berbentuk bundaran besar jalan memutar. Didepan bundaran berjejer bukit yang warnanya sedikit lebih merah. Setelah berfoto-foto, kami kembali naik bis, untuk pulang ke hotel.
Sayapun mengambil posisi duduk persis di samping sopir. Mesin bis yang kami tumpang masih menyala, tapi hanya untuk menghidupkan AC. Sementara sopir mulai menurunkan rem tangan dan memasukkan gigi satu untuk menjalankan dan memutar mobil. Begitu posisi mobil sudah lurus, gigi mobil langsung di free kan, sementara pedal gas dilapas. Secara menakjubkan bis yang mengangkut 45 orang penumpang itu bergerak sendiri kedepan. Kecepatan bis itu terus bertambah hingga 120 Km lebih. Sementara gigi masih free dan pedal gas masih dilepas. Semakin lama, kecepatan mobil terus bertambah. Sopir berkaca mata hitam dengan baju gamis putihnya itu terus berupaya mengendalikan setir. Dan sesekali ia menekan rem. ‘’Sopirnya takut. Remnya akhirnya ditekan juga,’’sebut Fauzi sambil tertawa ringan.
Menurut keterangan Fauzi kawasan tersebut mengandung emas dan baru ditemukan dua tahun terakhir ini. Kawasan itu ditemukan, setelah salah satu helikopter yang melintas dikawasan itu jatuh, karena tersedot daya magnet.





Hidup Dalam Keseimbangan Dua Arah

6 08 2008
Ibadah Umroh Bersama Istri Tercinta, Mei 2008

Ibadah Umroh Bersama Istri Tercinta, Mei 2008

KEHIDUPAN ada dua. Kehidupan sebelum mati yang disebut dengan kehidupan Duniawi dan kehidupan setelah mati, yang disebut dengan kehidupan Ukhrowi. Kehidupan yang saat ini kita rasakan adalah kehidupan Duniawi. Sementara kehidupan Ukhrowi tak bisa diraba dan belum bisa dirasa saat ini.
Kedua alam ini sangat berbeda. Kehidupan di dunia, kita tata selama didunia. Persiapannya dirancang sejak dari kecil, dengan cita-cita dan sekolah di TK.  Yang berhasil dan sukses tentu melalui proses keras keras. Sementara yang malas, akan menuai kegagalan. Sementara kehidupan Ukrowi, adalah kehidupan yang harus dipersiapkan di dunia.
Saat saya menulis, tangan ini menari-nari diatas keyboard dan otak saya terus berpikir tentang materi tulisan yang akan saya beberkan. Sementara mata ini tak terpejam, mengawasi kata demi kata yang tertera dalam monitor. Padahal jam sudah menunjukan pukul 01.30 WIB Sabtu (23/5/2008) dini hari.
Jika ketiga organ tubuh ini tidak mau bekerjasama, tentu saya tidak bisa menulis apa yang menurut saya perlu untuk diutarakan.
Bayangkan, jika saat ini mata ini ngantuk, tentu pikiran dan tangan ini tidak bisa bekerja. Demikian pula jika tangan saya, semisalnya sedang sakit, tentu tulisan ini tak bisa saya ketik. Begitu pula dengan otak saya. Jika saat ini pikiran saya lagi blank tentu tangan dan mata ini tak akan dapat bekerja, karena tak tahu apa yang harus ditulis.
Beda halnya dengan denyut jantung ini dan darah. Keduanya terus bekerja. Disaat saya sibuk, jantung dan darah ini mengikuti irama kerja saya. Ketika saya tidur, jantung dan darah ini terus berdetak dan mengalir, mengikuti irama nafas ini.
Sungguh besar karunia Allah SWT, yang telah menciptakan semua yang tak akan sanggup dibuat oleh manusia.
Lantas apa hubungannya dengan Hidup Dalam Keseimbangan Dua Arah.  Baiklah. Bismillahirrohmanirrohim.
Ibadah_23 Sebelum tulisan ini saya buat, perlu saya jelaskan bahwa penulis bukanlah seorang Kiayi atau Ustadz atau Ulama. Penulis hanyalah seorang yang pernah nyantri di salah satu Pondok Pesantren di kawasan Ponorogo, Jawa Timur dan kemudian sempat terjerumus ke lumbung dosa. Astagfirullahalazim.
Selesai mondok tahun 1994, penulis sempat terjerumus dalam pergaulan anak muda yang bergelimang dosa. Gemerlap kehidupan malam menjadi bagian dari pergaulan, yang sangat dirasakan menyesatkan. Banyak sekali dosa yang sudah saya lakukan kala itu. Yah… semua telah saya coba.
Praktis hasil bisnis dan pekerjaan saya habis untuk mengumpulkan dosa. Hingga akhirnya saya pun tamat kuliah di Fakultas Ekonomi Managemen  Unbari tahun 2002, saya baru mulai kuliah tahun 1997. Begitu tamat, saya berinisiatif untuk kerja dengan orang atau perusahaan orang lain. Sekitar bulan Mei 2002 sebuah media cetak lokal di Jambi menerima saya. Namanya Harian Pagi Jambi Ekspres, saat itu masih berkantor di Jalan Kolonel Abunjani, Sipin Ujung.
Jujur saja, saat itu saya termotifasi masuk Jambi Ekspres hanya karena ingin meninggalkan kehidupan hitam saya. Minimal dapat meninggalkan Narkoba. Saat itu saya lagi candu-candunya denga ganja dan ekstasi. Tiada hari tanpa mengkonsumsi barang haram itu.
Pemikiran saya, dengan bekerja di Jambi Ekspres, waktu saya akan habis, dan kesempatan saya untuk mengkonsumsi narkoba akan terbatas, karena kesibukan kerja.
Bisnis bengkel yang saya kelola selama kuliah kemudian saya percayakan kepada teman namanya Tobar dan kini usaha bengkel tersebut saya percayakan pengelolaannya kepada saudara sepupu namanya Fauzan alias Makyek. Sedangkan usaha kontraktor, saya tinggalkan untuk sementara waktu. Sementara, bisnis-bisnis saya yang lainnya sudah gulung tikar semua. Suppler bahan bangunan di sejumlah perumahan, peternakan ayam boiler, café dan banyak lagi bisnis yang akhirnya tutup tanpa ada bekas, kecuali pengalaman.
Dengan tekad ingin meninggalkan narkoba saya kemudian memulai bekerja sebagai wartawan. Harapan saya untuk menghabiskan waktu dipekerjaan benar-benar terjadi.
Berangsur, Narkoba mulai saya kurangi. Saya terus berjuang, untuk menghilangkan narkoba dari kehidupan saya. Agustus 2004, saya kemudian menikahi pacar yang selama itu mengerti dengan kehidupan saya ia adalah Melly Susanti, AMKeb.
Meski sudah bekeluarga namun Narkoba dan miras masih saja mengikuti kehidupan saya. Namun tidak separah dulu lagi. Istri saya yang sangat pengertian, semakin membuat saya terus berjuang untuk meninggalkan dosa itu.

Di Depan Masjid Nabawi, Madinah Bersama Istri Tercinta.

Di Depan Masjid Nabawi, Madinah Bersama Istri Tercinta.

Setiap selesai sholat, saya selalu berdoa agar dijauhi dari godaan setan dan iblis dan dikuatkan iman. Doa untuk keberhasilan pun tak pernah terlewatkan. Dan kerab kali saya berpesan kepada ibu saya Hj Fauziah, untuk selalu mendoakan saya. Untuk keberhasilan dan keselamatan saya. Saya sangat yakin, doa yang aku panjatkan dan doa yang aku titipkan kepada ibu yang melahirkan diriku akan dikabulkan oleh Allah SWT.
Alhamdulillah doa saya didengar oleh Allah SWT. Semua urusan saya diberi kemudahan, usaha saya berjalan lancar dan rezeki ini terus mengalir. Dengan rezeki sedikit itu saya pun mampu membeli tanah di kawasan kenali Besar, membeli mobil Datshun, membeli mobil Phanter, merehab rumah, membeli rumah di perumahan Puri Mahebat (Kredit), dan saat ini sedang membuka perkebunan di kawasan Muba, Sumsel. Semua adalah investasi saya untuk di dunia atau di duniawi.
Februari 2008, saya masih memiliki simpanan uang tak lebih dari 90 juta. Jumlah yang bagi saya sangatlah banyak. Bersama teman-teman saya kemudian membuka usaha baru yang diberi nama Jambi Portalindo.
Disela-sela saya membuka usaha baru, Allah SWT membuka pikiran dan hati bersih ini. Entah bagaimana, tiba-tiba Saya merasa malu kepada tuhan yang telah memberikan saya rezeki. Sementara rezeki itu hanya saya pergunakan untuk berinvestasi di dunia.
Sayapun kemudian membicarakannya dengan istri tercinta, untuk melakukan Investasi Akhirat. Melaksanakan ibadah Umroh adalah pilihan saya, selain terus bersedekah, walau hanya kepada pengemis jalanan.
Sebagian uang, saya peruntukan modal usaha baru (investasi dunia), sedangkan sebagian lagi saya peruntukan biaya Umroh (investasi Akhirat). Ongkos berangkat umroh satu orang Rp 15 juta (dua orang 30 juta).
Rabu 30 April 2008 saya dan istri Melly Susanti, berangkat ketanah suci Makkah, untuk melaksanakan ibadah Umroh. Saya yakin, Umroh yang saya lakukan adalah bagian doa saya yang dikabulkan oleh Allah SWT.
10 Mei 2008, saya beserta istri tiba di Jambi, setelah melaksanakan ibadah Umroh. Kini aku sudah tidak lagi menyentuh Narkoba dan miras.
Ya Allah, sungguh dosa yang aku perbuat sangatlah banyak. Hamba bukanlah ahli surga tapi hamba tidak sangup untuk di neraka. Ya, Allah, jika kau masih beri aku umur panjang maka berikanlah kekuatan bagi ku untuk dapat menjalankan kehidupan didunia ini dengan rahmat dan ridhoMu. Namun bila maut akan tiba pada diriku ini, datanglah ia saat hamba berada diatas sajadah sembari berzikir memujaMu. Ya, Allah, yang maha pengasih lagi maha pemurah dan mendengar apa yang ada didalam hati ku ini, kabulkanlah doa hamba yang sangat hina dan penuh dosa ini, Amin.





Kernet yang Memperkosa, Sopir yang Dihukum

6 08 2008

Divonis Sembilan Tahun Oleh Hakim PT

JAMBI- Tragis. Itulah yang dialami oleh Hermansyah bin Zainal Abidin, 31, sopir Angkutan Kota (Angkot) jurusan Simpang Kawat-Terminal Rawasari, kota Jambi. Bagaimana tidak. Ia dihukum penjara oleh majelis hakim karena perbuatan kernetnya Haryanto, 26, yang memperkosa anak kandung Herman sebut saja namanya Mawar, 7.
Tidak tanggung tanggung. Hermansyah, dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) 10 tahun penjara. Kemudian oleh hakim Pengadilan Negeri (PN) Jambi Herman divonis 7 tahun penjara dan denda 60 juta subsider tiga bulan.
JPU dan Hermansyah pun kemudian melakukan banding. Oleh hakim Pengadilan Tinggi (PT) Jambi, putusan putusan PN Jambi, digugurkan. Dan Hermansyah divonis 8 tahun penjara dan denda 60 juta, subsider 1 tahun, (8 tahun + subsider 1 tahun subsider sama dengan 9 tahun).
Atas putusan itu, Herman—panggilan Hermansyah, mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Jambi. Sementara Haryanto, kabur setelah menggagahi buah hari Herman.
Peristiwa, tragis yang menimpa sopir angkot itu terjadi pertengahan 2005 lalu. Saat itu bapak tiga orang anak ini, bertengkar dengan istrinya Mahdalefa, 29. Lantaran, Herman, sering bermain wanita lain atau memiliki WIL.
Kecemburuan, Mahdalefa ini ternyata dimanfaatkan oleh Haryanto alias Yanto, yang tak lain kernet Herman. Yanto, bekerja dengan Herman hampir tiga tahun lebih. Begitu dekatnya, Yanto pun, tidur dan makan dirumah Herman, yang saat itu ngontrak di bedeng dikawasan Mayang Mangurai, Kotabaru. Rumah bedeng yang disewa Herman, hanya ada dua kamar. Satu kamar digunakan untuk tempat tidur tiga orang anaknya. Dan satu kamar lagi, untuk tempat tidurnya bersama sang istri. Sementara Yanto, tidur di ruang tengah.
‘’Yanto, tidur nya diruang tengah pak. Sedangkan anak-anak dikamar,’’kata Herman, saat ditemui, Penulis di Lapas Jambi, Rabu (5/3/2008), yang mengaku sebelumnya tidak tahu sama sekali siapa pelaku yang telah memperkosa anak kandungnya itu. ‘’Saat kejadian saya di Muara Labuh, Padang. Saat itulah, Yanto memperkosa anak saya. Saya mengetahui kejadian sebenarnya dari anak saya sendiri, yang datang kesini membesuk (Lapas,red) bersama mertua,’’sebut Herman.
Kebenaran itu akhirnya terbongkar, setelah dua tahun empat bulan kemudian, saat Herman menjalani hukuman di Lapas kelas II A Jambi. Yanto, yang kabur setelah memperkosa Mawar, pertengahan Februari 2008 tiba-tiba masuk ke Lapas kelas IIA Jambi, terkait kasus pencurian sepeda motor. Yanto, yang merasa bersalah, akhirnya mengaku sebagai pelaku yang memperkosa Mawar. Pengakuan Yanto ini, di saksikan oleh petugas Lapas. Hingga tulisan ini saya publish kasus ini disidik oleh Poltabes Jambi.

Pengakuan Kernet yang Memperkosa Anak Sopirnya

Pertengahan Februari 2008, Hariyanto alias Yanto, yang dulunya kernet Herman, masuk ke Lapas kelas II A Jambi, terkait kasus pencurian sepeda motor. Saat itu, Yanto merupakan tahanan titipan Polsek Jaluko, Muara Jambi.
Ditempat pembinaan masyarakat itulah Yanto, bertemu mantan bosnya, sekaligus orang yang pernah menghidupkannya. Selama tiga tahun (2003-2005), Yanto menjadi kernet Hermansyah alias Herman, 31. Begitu dekatnya, Yanto pun sehari-hari tidur dan makan dirumah Herman, dibilangan Mayang Mangurai, Kotabaru, Kota Jambi. Bedeng yang disewa Herman, hanya ada dua kamar. Satu kamar untuk tempat tidur tiga anaknya. Dan satu kamar lagi, tempat tidur Herman dan istrinya Mahdalefa. Sedangkan Yanto tidur di ruang tengah.
Bagaimana Yanto, bisa tega memperkosa anak sopirnya. Penulis langsung mewawancarai Yanto di Lapas kelas II A Jambi.
Diceritakan oleh Yanto, peristiwa itu terjadi 2005. Siang sebelum kejadian, Yanto mengaku mengantar Herman ke terminal Simpang Rimbo, Kotabaru, untuk berangkat ke Padang. ‘’Saya yang mengantar Uda (Herman,red) dan Er (teman wanita Herman,red) ke terminal. Saat itu, saya sudah bilang sama Uda, agar jangan berangkat. Karena akan memperuncing masalah. Tapi Uda Herman tetap pergi dengan Er,’’aku Yanto.
Pada malam harinya, Yanto seperti biasa tidur dirumah Herman. Saat itulah peristiwa bejat Yanto mulai terjadi. ‘’Kejadiannya malam sekitar jam 12.00. Dirumah yang ada hanya tiga orang anak mereka. Sedangkan Etek (istri Herman,red) tidur dirumah orang tuanya,’’ungkap Yanto.
Namun, malam itu Yanto mengaku hanya melucuti seluruh pakaian Mawar (nama samaran korban/anak Herman). ‘’Setelah saya lepas semua pakaiannya, karban saya keloni,’’kilah Yanto.
Korban merupakan anak sulung Herman, dari tiga orang anak yang didapatnya dari perkawinannya dengan Mahdalefa. Tiga malam kemudian, peristiwa itupun terjadi.
‘’Malam pertama korban hanya saya keloni, tapi tidak saya apa-apakan. Tapi saat malam ketiga, korban saya setubuhi dua kali. Saat itu malam hari. Dirumah hanya ada saya dan korban. Sementara Etek (istri Herman,red) dan dua orang adik korban sedang pergi,’’aku Yanto.
Ketika diperkosa, Korban yang saat itu masih duduk dibangku kelas satu SD, berteriak karena kesakitan. ‘’Saat dia berteriak, tetangga mendengar. Malam itu juga saya kabur ke terminal Rawasari, Pasar. Dan paginya saya langsung pulang ke Desa Tanjung Pauh,’’ungkap Yanto.
Ia mengaku khilaf dan tidak dalam kondisi mabuk. ‘’Setelah kejadian itu, saya tidak pernah lagi ke Jambi. Saya ke Pauh, lalu ke Sungai Bahar mencara kerja,’’ungkap Yanto.
Dua tahun kemudian, saya ditangkap polisi karena mencuri motor. Lalu bertemu dengan Herman di Lapas. ‘’Saya sangat malu. Akhirnya saya ngaku pada Herman tentang perbuatan saya terhadap anaknya,’’tandasnya tertunduk.
Ironisnya lagi, Yanto mengaku tidak mengetahui, bahwa akibat perbuatannya itu Herman, orang tua korban dipenjara. ’’Saya baru tahu di sini (Lapas,red),’’ungkap Yanto.

Sebelum Ditangkap Herman Mimpi Istrinya Bugil

SEBELUM ditangkap polisi Muara Labuh, Padang, Sumatera Barat, Hermansyah alias Herman, 31, mimpi melihat istrinya Mahdalefa, 29, bugil.
Mimpi itu menurut cerita orang tua Herman, merupakan bertanda buruk. Dua hari setelah bermimpi, firasat itu ternyata benar-benar terjadi.
‘’Saya ditangkap oleh polisi Muara Labuh. Saat itu saya sedang kerja bangunan,’’cerita Herman, yang ditemui penulis di Lapas kelas II A Jambi, Rabu (5/3/2008).
Dijelaskan oleh Herman, ia ditangkap polisi Muara Labuh, berdasarkan surat perintah penangkapan dari polisi Jambi. ‘’Surat penangkapan itu berdasarkan laporan dari istri saya, Mahdalefa,’’kata mantan sopir angkot ini.
Semula Herman, tidak mempermasalahkan penangkapan itu. Karena, antara dirinya dan Mahdalefa, memang sedang terjadi pertengkaran. ‘’Mahdalefa menuduh saya sering main perempuan. Hampir setiap hari kami bertengkar. Yah saya ini sopir angkot, jadi memang sering bertemu perempuan,’’ungkap bapak tiga orang anak ini.
Namun, saat di kantor polisi, saya bukannya ditanya soal bertengkar dengan istri. Tapi soal pemerkosaan. ‘’Saya bingung, kok saya ditanya soal pemerkosaan terhadap anak kandung saya. Saat itu saya benar-benar tidak mengerti dan bingung,’’kata Herman, yang mengaku sering diperlakukan kasar oleh penyidik dan dipaksa untuk ngaku.
‘’Saya tetap tidak ngaku, karena memang saya bukan pelakunya. Dan tiga hari setelah ditahan di kantor polisi di Muara Labuh, kemudian saya diantar ke Jambi dan diserahkan ke Polsek Kotabaru, Kota Jambi,’’kata Herman.

Digebuki, Lalu Dipaksa Ngaku

LANTAS bagaimana Herman bisa sampai dihukum penjara 9 tahun, sementara ia bukan pelakunya?.
Menurut, Herman ia dipaksa ngaku oleh penyidik. Siksaanpun kerab kali didapatnya. Tidak itu saja ia juga dipaksa untuk meneken BAP (Berita Acara Pemeriksaan).
Hakim yang diharapkan, ternyata tak bisa memberikan keadilan. Meski korban, mengaku bukan ayahnya yang melakukan pemerkosaan tersebut. ’’Anak saya juga bilang, bahwa saya bukanlah pelakunya. Tapi istri saya, tetap bilang kalau saya adalah pelakunya,’’ungkap Herman, sembari mengaku, hakimpun, selalu marah-marah pada dirinya. ’’Saya hanya pasrah. Meski disini (Lapas,red) tapi saya tidak merasa dihukum,’’papar Herman.
Penghuni Lapas pun, tampaknya tak mau begitu saja menerima Herman. ’’Disini istilahnya kasus Nyet-nyet. Yah, saat pertama saya masuk ke sini (Lapas,red) saya sempat juga disiksa oleh teman-teman napi. Tapi sekarang tidak lagi,’’sebut Herman.(***)

___________________________________________________________

Note: Tulisan ini telah dimuat di halaman utama Harian Pagi Jambi Ekspres dalam dua episode. 5-6 Maret 2008. Dan dimuat di halaman utama Jawa Pos, Indo Pos dan grup Jawa Pos lainnya tanggal 7 Maret 2008.