Bebas Pajak, Kesehatan & Pendidikan Gratis,Gaji Guru 40 Juta

Kondisi seputar masjidil haram Makkah yang sedang direnovasi Mei 2008
Provinsi Makkah adalah sebuah provinsi Arab Saudi yang memiliki luas wilayah 164.000 km. Ibu kotanya ialah Mekkah.
Di Kota inilah Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Di kota ini pula wahyu Al Quran pertama kali diturunkan.
Makkah memiliki sebuah masjid bernama Masjid Al-Haram, dimana didalamnya terdapat sebuah bangunan bernama Ka’bah yang merupakan bangunan suci bagi umat Islam seluruh dunia dan menjadi kiblat dalam sholat. Di Ka’bah, terdapat sebuah batu hitam yang dipercaya berasal dari surga bernama Hajar Aswad.
Apa saja keajaiban yang ada di Kota Makkah, berikut cerita yang saya kemas, usai menjalankan Ibadah Umrah bersama istri Melly Susanti 1-10 Mei 2008 Lalu.
SENIN (5/5/2008) sekitar pukul 11.30 waktu Saudi Arabia, matahari serasa tepat berada diatas kepala dan sangat terasa menyengat. Suhu panas diperkirakan mencapai 38 derajat lebih. Setelah malam sebelumnya melaksanakan Umrah (tawaf, syai dan tahalul) bersaama rombongan, siang itu kami diberi waktu untuk istirahat. Tapi siang itu saya memilih untuk ke Masjidil Haram untuk salat Zuhur berjamaah.
Setelah berwudu dengan air zam-zam, saya mengambil posisi salat ditengah, sejajar dengan pintu Ka’bah. Panas yang menyengat tidak berpengaruh terhadap ubin/lantai yang ada di sekeliling Ka’bah. Tidak ada rasa panas sedikitpun dilantai yang saya pijak. Beda halnya dengan lantai teras Masjid An Nabawi di Madinah. Jika siang, lantai teras di Masjid An Nabawi, tidak akan bisa dilalui kecuali mengenakkan alas kaki.
Tiga hari kemudian diwaktu yang sama, saya memilih salat di lantai tiga Masjidil Haram. Sebelum salat Zuhur, saya melaksanakan tawaf sunah dibagian teras lantai atas. Tidak banyak yang tawaf ditempat ini, jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.
Sementara dibawah ribuan umat muslim terlihat khusyu melaksanakan tawaf meski disengat matahari. Dibagian sebelah kanan pintu Ka’bah, terlihat ribuan umat Muslim berebut-rebut untuk mecium Hajar Aswad. Demikian pula di bagian pintu Ka’bah dan Yaman. Sementara dibagian kiri dari pintu Ka’bah, ratusan umat berebut salat sunah di pancuran emas atau Hijir Ismail. Seorang polisi bertubuh gelap tampak berjaga-jaga diantara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Dan dua orang polisi lagi mengatur jamaah yang ingin masuk dan salat sunah dibundaran Hijir Ismail, tepatnya dibawah pancuran emas.
Jika dilantai bawah yang sejajar dengan Ka’bah, tidak terasa panas, meski matahari menyengat. Lain halnya dengan ubin di lantai atas. Meski hanya sebagian terasnya yang tersiram matahari, namun rasa panas terasa ditelapak kaki ini. Saya pun terpaksa sedikit menghindar, menjorok kedalam untuk menghindar panasnya lantai ubin akibat sengatan matahari.
Keinginan saya untuk mengetahui kehidupan warga kota Makkah semakin bertambah. Malam itu usai makan malam, selepas salat Isya di Masjidil Haram, saya menghubungi teman satu alumni di Jawa Timur. Namanya Abrar, 32, asal Kualatungkal, bekerja di Makkah sejak lima tahun lalu. Malam itu juga ia langsung menyambangi saya, yang nginap di Eman Plaza Hotel di kawasan Ghazza.
Menurut cerita Abrar, kerajaan Saudi Arabia, sangat otoriter. Rakyat atau pengusaha tak bisa menolak keputusan kerajaan. Sebut saja pembongkaran yang dilakukan di kawasan Syamiyah. Puluhan bangunan pencakar langit dibongkar, karena untuk pengembangan Masjidil Haram. Tidak ada protes atau demo disini.
Entah apa yang terjadi jika itu dialami Indonesia. Mungkin pemerintah akan selalu di demo, karena berbagai alasan. Kehilangan pekerjaan, dan lain sebagainya adalah isu yang paling populer untuk melakukan penolakan. Entah berapa pula korban jiwa, untuk penolakan itu.
Meski kerajaan Saudi otoriter, namun rajanya sangat mencintai dan memperhatikan rakyatnya. Pendidikan dan kesehatan diberikan secara gratis. Meski pendidikan dan kesehatan gratis, tapi gaji perawat, dokter dan guru sangat tinggi. Untuk gaji sekolah bisa mencapai 16000 Real lebih atau sama dengan Rp 40 Juta.
Pendidikan dan kesehatan gratis tersebut tidak ada batasannya. ‘’Sakit apapun disini berobatnnya gratis,’’tandasnya.
Tidak itu saja, Negara yang dikenal dengan kaya minyaknya itu juga membebaskan pajak terhadap seluruh produk. ‘’Disini tidak ada pajak. Semua kendaraan bebas pajak. Dan disini banyak jalan mirip tol, juga gratis. Tidak seperti Indonesia, masuk jalan tol harus bayar,’’ungkap alumni Unja ini.
Karena bebas pajak, harga kendaraan pun relatif murah. Sementara untuk plat atau nomor polisi (nopol) baru bisa didapat setelah pemilik/pengemudi memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi).
Tapi, bagi pengendara yang melanggar rambu lalu lintas, akan mendapatkan hukuman yang cukup berat. ‘’Jika nembak lampu merah, kita akan didenda 900 Real sama dengan Rp 2.250.000 plus kurungan penjara satu hari,’’jelasnya.
Sementara bagi mereka yang tidak memiliki SIM atau tidak memiliki nopol sangat beresiko. ‘’Jika kedapatan tidak memiliki SIM, maka kendaraannya akan disita dan tidak dikembalikan lagi plus denda uang,’’kata Abrar.
Lantas berapa harga minyak sejenis premium?. Untuk satu liter minyak, hanya seharga 45 Halalah atau kurang dari satu real, sama dengan Rp 1.125.
‘’Ini kan Negara minyak. Yah, jelas murah-lah harga minyaknya. Tapi sebenarnya, dibandingkan dengan Negara kita, Indonesia jauh lebih kaya sumber daya alamnya. Disini hanya mengandalkan minyak dan visa pengunjung. Warga asli Arab sering merasa heran dengan kondisi Indonesia,’’cerita Abrar, sambil memesan roti khas Arab di salah satu kedai di pinggr jalan.






Komentar Anda